Dr. H. Zainudin, M.Ag., ketua jurusan IKS FDK UIN Suka

Setelah mengikuti selekti yang ketat, saya lulus mengikuti program postdoctoral oleh Diktis Kemenag RI 2014.  Program postdoctoral ini berlangsung selama 2 bulan. Untuk negara Arab tempat tujuan program postdoctoral adalah Universitas Manouba dan Universitas Sousse Tunisia sebagai mitra program postdoctoral.

Peserta program ini berjumlah 8 dosen dari UIN (4 orang), IAIN (2 orang), STAIN  (1), dan  UII (1 orang). Dalam program ini saya berserta 3 dosen lainnya kebagian mengajar di Universitas Manouba Tunisia. Sistem pengajarannya adalah 2 jam yaitu model tim teaching dengan materi dirasat islamiyah dan Islam nusantara di jenjang S-1 dan jenjang S-2.

Dalam program ini sangat membantu wawasan global dosen PTAI karena dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam pengajaran studi Islam di Universitas terkemuka, baik terkait kurikulum, sistem pembelajaan, kapasitas dosen, sarana prasana pembelajan dan kultur akademiknya, dari itu semua kita dapat membandingkan sistem yang ada di PTAI, sehingga dosen PTAI bisa mengembangkan dan menerapkan pengalamannya di PTAI masing-masing.

Setelah diamati, memang di beberapa Universitas itu memiliki kelebihan dan kelemahan baik yang ada PTAI maupun yang ada di Tunisia, itulah yang menjadi ciri sebuah Universitas. Akan tetapi, kelemahan itu bisa ditutupi dengan kelebihan yang dimiliki oleh Universitas. Karena itu, kita bisa mencoba untuk meniru dalam hal penguatan materi perkuliahan di Tunisia.

Kehidupan sosial Tunisia sebagai negara Arab yang Islam, kehidupan akademik di kampus hampir sama dengan kehidupan sosial di Indonesia, para mahasiswa dan dosen sangat toleran dalam hal perbedaan dan sopan. Suasana akademik di kelas dan di luar kelas kampus–kampus  Tunisia hampir sama dengan yang ada di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dari segi sarana prasana perkuliahan antara Tunisia dan PTAI di Indonesia memang ada perbedaan, di Tunisia tidak begitu mementingkan bangunan gedung kampus yang mewah dan megah, tetapi kampusnya tampak sederhana seperti bangungan IAIN tempo dulu. Begitu juga para dosen dan mahasiswa tidak banyak yang membawa laptop, bahkan di setiap ruang kelas tidak ada LCDnya.

Di kampus-kampus Tunisia sarana tersebut tampaknya tidak begitu penting, tetapi yang lebih penting adalah mutu lulusan dan relevansi pendidikan setelah lulus, sehingga yang diutamakan adalah menguasai konten perkuliahan, misalnya mahasiswa Tunisia selain mahir bahasa Arab sebagai bahasa utama mereka juga mahir bahasa Perancis. Itulah salah satu kelebihan pendidikan di Tunisia.

Karena itu, perlu kerjasama lebih lanjut dalam bentuk MoU untuk mengirim dosen dan mahasiswa Indonesia untuk studi di Tunisia. Hal ini penting karena jumlah mahasiswa dari Indonesia yang studi di Tunisia masih sedikit, apalagi di Tunisia ada kampus tertua di dunia muslim setelah Al-azhar yaitu Universitas Zaitunah. Bersambung.

 

Tags: