Bramma Aji Putra

Kemunculan Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan 2014-2019 menyita perhatian banyak pihak. Gayanya yang eksentrik, tampil apa adanya, dan ijazah formalnya hanya SMP, mengundang atensi masyarakat luas untuk ingin lebih tahu sosok perempuan kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 itu. Susi yang sempat belajar di SMA Negeri 1 Yogyakarta itu—yang lantas keluar karena sikap kritisnya terhadap Orde Baru—merupakan fenomena tersendiri. Dengan segala pro kontra yang melingkupinya, pendek kata, Susi muncul sebagai media darling.

Media darling (kekasih/kesayangan media) adalah sebutan untuk seseorang atau lembaga yang selalu diburu awak media karena banyak faktor. Bisa karena ia memang orang berpengaruh, ternama, senang hati ladeni wartawan, mudah dipancing dan selalu suguhkan informasi memikat. Bahkan terkadang media darling acap lontarkan kalimat provokatif. Beberapa di antaranya menjadi trendsetter.

Benar jika dikata tiap zaman ada media darling-nya sendiri-sendiri. Selain para presiden tentu sebagai pimpinan tertinggi negara, kita pernah akrab dengan sosok Harmoko sebagai cucuk lampah Pak Harto. Era Reformasi, media selalu memburu Amien Rais—yang beberapa waktu lalu diteror penembakan mobil kelas premiumnya itu.

Lebih ke sini, kita dapat membuktikan saat Jokowi mulai dikenal masyarakat luas. Hal ini merupakan faktor media darling: sepak terjangnya diwartakan terus. Dan hari ini, sepak terjang Bu Susi (ia lebih senang dipanggil ini ketimbang Bu Menteri) mulai membuat penasaran masyarakat.

Kisah Hidup

Kisah hidup yang dilakoni Susi adalah potret kerja keras dan ketulusan. Drop out SMA, ia memulai usahanya sebagai penyuplai ikan dan udang dari Pangandaran. Awal menggeluti, ia tak sungkan naik truk bersama sopir, mengantar tangkapan ikan sampai Ibukota. Lalu tebersit di benaknya untuk mulai membeli pesawat. Dengan hasil pinjaman dari bank, Susi membeli dua pesawat kecil. Sebulan beroperasi, terjadilah tsunami dahsyat di Aceh. Ia perintahkan pesawatnya untuk membantu mengirim bantuan bagi pengungsi.

Tak hanya itu, diangkutnya wartawan tanpa memungut biaya sepeserpun. Target dua minggu untuk mengirim bantuan, berubah karena lantas disewa lembaga non-pemerintah. Alhasil sepulang dari Aceh, Susi malah bisa membeli pesawat lagi.

Dalam kajian jurnalistik, kisah hidup Susi yang lumayan dramatis tentu memiliki news values tersendiri. Bahkan yang paling ‘buruk’ sekalipun—katakanlah tato burung phoenix di betis kanannya—menjadi menarik bagi media. Bukankah salah satu asas jurnalistik bad news is good news?

Bu Menteri Susi adalah fenomena baru. Kini bola sudah di tangannya. Apakah ia mampu memanfaatkan predikat media darling untuk memantapkan kinerjanya atau cukup menjadi primadona tanpa terobosan nyata. Sebaliknya, media juga dituntut untuk semakin kritis dengan tetap berpihak pada kebenaran. Beberapa gebrakan telah dilakukan Susi, salah satunya yakni penenggelaman kapal asing pencuri ikan kekayaan negara kita. Apresiasi tinggi untuk kinerja yang tercipta dan menjauhi sensasi yang hanya membungkus citra.

Harian Jogja tgl 11 Desember 2014

Penulis, Staf Pengajar Jurusan KPI, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
(HP: 085228166889)

Related Post

 

Tags: