Hamdan Daulay, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TAMPAKNYA pembicaraan tentang korupsi merupakan persoalan besar yang menjadi keresahan masyarakat.
Penyakit korupsi ini bagaikan kanker yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga akan menimbulkan kelumpuhan yang luar biasa.

Korupsi juga tergolong kejahatan moral luar biasa. Korupsi memberi dampak negatif yang luar biasa karena akan menyengsarakan masyarakat. Kejahatan korupsi tidak kalah dahsyatnya dengan kejahatan narkoba dan pornografi yang sama-sama merusak kehidupan masyarakat. Perlawanan terhadap korupsi tentu bukanlah semata tugas KPK, melainkan tugas semua komponen masyarakat yang cinta pada kejujuran dan keadilan. Betapa rusaknya saat ini logika politik yang dibangun oleh elite politik tatkala orang yang sudah disebut tersangka ko rupsi (seperti dalam kasus BG) justru dipromosikan menjadi Kapolri. Seolah elite politik kita saat ini sudah buta dan tuli terhadap persoalan korupsi yang sangat menyengsarakan rakyat. Dalam membenarkan tindakan tersebut mereka berdalih memakai asas praduga tak bersalah. Seolah tak ada lagi calon Kapolri yang lebih baik dari BG.

Masyarakat awam tentu sangat bingung dengan logika politik yang dibuat elite politik. Apalagi adanya ketidakkonsistenan antara ucapan dengan tindakan, dengan janji-janji kampanye yang mengatakan bahwa korupsi harus dilawan. Namun dalam kenyataannya elite politik justru membiarkan dan bahkan sangat bersahabat dengan pelaku korupsi. Maraknya praktik korupsi saat ini sesungguhnya karena krisis moral yang semakin memprihatinkan. Sebagaimana diungkapkan Prof Dr Din Syamsuddin, masyarakat saat ini dilanda kegersangan spiritual yang sangat memprihatinkan. Akibatnya tingkah laku elite politik semakin jauh dari nilai-nilai moral. Krisis moral sesungguhnya tidak hanya menimpa pengguna narkoba dan pornografi, namun lebih berbahaya lagi perilaku para pejabat yang tidak pernah jera melakukan korupsi, sehingga membuat rakyat semakin terpuruk dalam kemiskinan. Dalam kasus korupsi misalnya, semakin dicegah justru pelakunya semakin banyak dan berani. Bahkan pelaku korupsi saat ini tidak memiliki rasa malu lagi, karena mereka tetap bisa senyum dan bahkan dianggap pahlawan, apalagi dipromosikan lagi dengan jabatan yang lebih tinggi.

Kalaupun mereka dihukum justru mereka tetap kaya raya dari hasil korupsi yang mereka lakukan. Itulah sebabnya pelaku korupsi tumbuh subur di negeri ini. Sungguh merupakan keprihatinan yang mendalam manakala wakil rakyat, penegak hukum dan elite politik yang lain menjadi bagian dari pelaku korupsi. Para tokoh pendiri bangsa ini seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Wahid Hasyim, Agussalim, J Kasimo, Jenderal Soedirman, TB Simatupang, dan tokoh-tokoh yang lain pasti sangat tertegun dan kecewa melihat ulah elite politik saat ini yang begitu serakah melakukan korupsi. Hendaknya elite politik saat ini mau bercermin dan membaca sejarah bagaimana besar perjuangan dan pengorbanan tokoh-tokoh pendiri bangsa ini yang rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan bangsa. Mereka tidak pernah bertanya apa yang diberikan negara kepadanya, justru mereka selalu bertanya apa yang telah mereka berikan kepada negara. Ketika syahwat politik elite politik semakin tidak kontrol dan persaingan politik semakin merajalela, dan waktu itu Sutan Syahrir dimasukkan ke penjara sebagai bagian dari korban politik, ia sempat menulis buku ‘Oh Bangsaku’.

Sutan Syahrir hanya dapat mencurahkan isi hatinya lewat tulisan sebagai pandangan kritisnya sekaligus kecintaannya pada bangsa yang ia perjuangkan. Namun sungguh dalam makna yang terkandung dalam buku itu dari seorang tokoh pejuang kemerdekaan yang memiliki ketulusan dan kecintaannya pada bangsanya. Esensi yang terkandung dalam buku itu merupakan potret politik yang menggambarkan betapa rusaknya suatu bangsa manakala elite politiknya mengumbar syahwat politik yang tak bisa dikontrol. Dalam kondisi seperti ini menurut Sutan Syahrir akan terjadi tindakan yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi dan kelompok. Mata menjadi buta dan telinga men jadi tuli pada nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Dalam kegalauan dan keprihatinan yang mendalam itulah, Sutan Syahrir menulis buku ‘Oh Bangsaku’ sebagai wujud kecintaan yang begitu mendalam kepada bangsa ini. Semoga elite politik saat ini bisa membuka mata dan telinga terhadap teladan perjuangan tokoh-tokoh bangsa yang memiliki ketulusan dan kecintaan pada bangsa dan negara. Kecintaan pada bangsa dan negara tentu bukan hanya sekadar retorika, tapi harus diwujudkan dalam realita.

Kedaulatan Rakyat, Rabu, 21 Januari 2015 | 11:10 WIB

Related Post

 

Tags: