Dr Hamdan Daulay MSi MA, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

GERAKAN Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) dalam merekrut anggota di berbagai negara semakin meresahkan. Keresahan luar biasa juga dirasakan masyarakat Indonesia karena didukung fakta bahwa gerakan ISIS sudah masuk ke tanah air dan berhasil merekrut anggota. Dalih jihad dan juga dengan iming-iming gaji besar, banyak masyarakat Indonesia yang tertarik untuk bergabung dengan ISIS.

Gelombang kecurigaan semakin banyaknya Warga Negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan ISIS sudah muncul sejak lama. Belakangan ini diperkuat lagi dengan adanya puluhan WNI yang ëhilangí di Turki dan diduga menyeberang ke Syria. Demikian pula dengan berangkatnya belasan mahasiswa dari Jawa Tengah dengan tujuan Timur Tengah diduga bagian dari gerakan untuk bergabung dengan ISIS. Kecurigaan tidak berlebihan, karena potensi untuk itu sangat terbuka. Apalagi jumlah mahasiswa Indonesia di Timur Tengah cukup besar, ditambah lagi dengan banyaknya kunjungan masyarakat Indonesia ke Timur Tengah, baik dengan alasan umroh, TKI, dan juga berbagai agenda lain.

Usaha untuk membendung gerakan ISIS dalam merekrut anggota di tanah air tentu perlu kerja keras semua pihak, mulai dari tokoh agama hingga aparat keamanan. Tokoh-tokoh agama lewat juru dakwah di tengah masyarakat perlu menjelaskan makna esensi jihad. Sejatinya jihad tidaklah identik dengan perang dengan membunuh atau menghancurkan kelompok yang dianggap musuh. Apalagi tindakan yang dilakukan ISIS selama ini dalam membunuh, menyiksa dan menghancurkan kelompok yang dianggap musuh, justru sangat biadab dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Propaganda yang disebarkan ISIS lewat situs resmi mereka mampu mengobarkan semangat jihad sebagian masyarakat. Dalam rangka mewaspadai gerakan ISIS ini sudah banyak imbauan MUI, Kementerian Agama, BIN, dan juga aparat keamanan. Bahkan Menko Polhukam sampai mengatakan, lebih mudah menutup situs porno dari pada situs ISIS yang begitu luas jangkauannya dan bisa menyebarkan semangat jihad di tengah masyarakat.

Keberhasilan propaganda yang dibuat ISIS dalam menyebarkan semangat jihad tentu jangan dianggap remeh, karena bisa dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama pengaruh mereka semakin luas. Kelihaian mereka membangun retorika dan juga kecerdasan mereka dalam memanfaatkan media massa dalam membungkus pesan ‘jihad’perlu diwaspadai.

Paham yang diajarkan ISIS dengan menganggap kelompok lain yang berbeda dengan kelompoknya adalah kafir dan harus diperangi tentu sangat berbahaya dan menyesatkan. Gerakan ISIS ini juga sangat berbahaya di tanah air manakala tidak segera diwaspadai. Kondisi masyarakat Indonesia yang plural,baik agama, budaya, etnis, dan bahasa selama ini bisa hidup rukun dan saling menghargai antara satu dengan yang lain.

Sesungguhnya budaya masyarakat Indonesia yang pluralistik ini terkenal sangat toleran, santun, dan menghargai perbedaan yang ada. Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur. Masyarakat yang menghargai nilai-nilai budaya tidak akan terjebak pada konflik, karena bagi masyarakat yang berbudaya, perbedaan adalah suatu keindahan yang harus dipelihara dengan baik. Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia. Manusia (masyarakat) dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan, karena keduanya merupakan suatu jalinan yang saling erat berkait. Kita selalu dihadapkan pada fakta keberagaman, kebhinnekaan, terlebih dalam konteks masyarakat Indonesia yang multi kultur, multi etnis, multi agama, dan multi dimensi lainnya.

Dengan demikian masyarakat Indonesia tidak perlu terjebak dengan propaganda ISIS yang memaknai jihad dengan keliru. Apalagi menganggap kelompok lain yang berbeda dengannya sebagai musuh. Masyarakat Indonesia harus memperkokoh budaya kerukunan di tengah perbedaan yang ada . K- s.

Kedaulatan Rakyat, 26 Maret 2015

Related Post

 

Tags: