oleh Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dalam pertemuan puncak di Gedung Putih yang dihadiri 60 delegasi dari 60 negara mengatakan bahwa teroris dan terorisme tidak identik dengan Islam dan bukan representasi Islam.

Dengan tegas Obama mengatakan, ”Para teroris itu tidaklah berbicara mewakili satu miliar muslim di dunia. Mereka menggambarkan diri sebagai pejuang suci, namun sebenarnya mereka adalah teroris.” (KORAN SINDO, 28/2). Selanjutnya Presiden AS itu menekankan agar seluruh pemimpin negara di dunia lebih aktif mencegah radikalisme dan terorisme.

Ideologi, propaganda, perekrut, dan penyandang dana yang menghasut orang untuk melakukan kekerasan harus ditangani. Benang merah yang dapat ditarik dari pidato Obama itu teroris dan terorisme adalah musuh bersama yang harus dilawan dan dikalahkan oleh semua bangsa di dunia ini. Teroris dan terorisme adalah musuh bersama bangsa-bangsa beradab yang menegakkan perdamaian, kedamaian, keadaban, dan peradaban.

Pidato Obama itu tentu tidak terlepas dari fenomena kekerasan dan ”kejahatan” gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi. ISIS di bawah komando al- Baghdadi secara sadis memenggal kepala beberapa jurnalis (termasuk jurnalis AS), menawan 229 anak, melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak sealiran,

menebar teror, menyebar kebencian dan permusuhan, serta melakukan pembantaian yang mengerikan di Irak dan Suriah terhadap kelompok (termasuk anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang lanjut usia) yang tidak seideologi dengan mereka. Kutukan dari masyarakat internasional terhadap kekejaman ISIS datang dari berbagai belahan dunia.

AS dan sekutu Baratnya (seperti Inggris, Prancis, dan Jerman) serta negara-negara Arab-muslim saling bekerja sama melakukan tindakan dan ”serangan” terhadap basis kekuatan ISIS. Komunitas Kurdi di Irak juga angkat senjata melawan kekejaman ISIS. Kota Kobani yang semula jatuh ke tangan ISIS kini telah direbut kembali oleh para pejuang Kurdi dari tangan ISIS. Serangan AS dan sekutu Baratnya dan negara-negara Arab-muslim sudah memperlihatkan hasilnya yang menyebabkan kekuatan ISIS mulai melemah.

Khawarij, Azahari, Noordin M Top

Dalam jubah yang berbeda, ISIS dapat disamakan dengan gerakan kaum Khawarij di zaman Islam klasik. Dengan memekikkanjargon ”lahukmaillaAllah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), kaum Khawarij memaknai ayat itu menurut kepentingan ideologi mereka sendiri dan memandang orang-orang di luar kelompoknya adalah halal darah mereka untuk dibunuh.

Orang-orang yang tidak sealiran dan tidak seideologi dengan mereka adalah halal darah mereka untuk dihabisi nyawa mereka. Kaum Khawarij adalah kelompok yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib karena Ali menerima tahkim (arbitrase) dengan Muawiyah bin Abi Sufyan menyusul terjadi Perang Shiffin.

Salah satu korban gerakan radikalis- teroris Khawarij adalah Khalifah Ali bin Abi Thalib (Khalifah Al-Rasyidin ke-4) yang mereka bunuh saat salat subuh di Masjid Kufah. Momen yang sakral dan bersifat ilahiah itu dijadikan kesempatan oleh orang Khawarij untuk menghabisi nyawa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dua pemimpin muslim lain yang juga ditarget oleh kaum Khawarij untuk dibunuh adalah Muawiyah bin Abi Sufyan (gubernur Syria) dan Amru bin Ash (gubernur Mesir).

Tapi, MuawiyahdanAmru selamatdanaman dari ancamanmautorang-orang Khawarij. Kaum Khawarij dapat dipandang sebagai aliran atau kelompok teroris pertama dalam sejarah Islam. Di Indonesia gerakan terorisme antara lain digerakkan oleh Dr Azahari dan Noordin M Top. Keduanya sebenarnya adalah warga negara Malaysia, tapi melakukan operasi dan aksi teror di berbagai tempat di Indonesia bersama para teroris di negeri ini.

Azahari dan Noordin dikenal sangat pandai dan mahir merakit bom. Inilah salah satu ”modal” utama dan senjata ampuh Azahari dan Noordin dalam melancarkan aksi terornya. Azahari dan Noordin pada masanya dapat dipandang sebagai inspirator, motivator, dan dinamisator gerakan terorisme di Indonesia untuk kurun waktu yang cukup panjang.

Densus 88 mengintai dan memburu Azahari dan Noordin dari waktu ke waktu, tapi keduanya dapat mengelak dan meloloskan diri. Azahari dan Noordin diidentifikasi sebagai gembong teroris yang menginspirasi dan mengeksekusi serangkaian aksi pengeboman beberapa gereja di malam Natal (tahun 2000), bom Bali (2002), bom Hotel JW Marriot (2003), bom Kedubes Australia (2004), dan bom Mega Kuningan (2009).

Akhirnya Densus 88 pada 2005 melakukan pengepungan dan menembak mati Dr Azahari di Batu (Malang, Jawa Timur). Dalam penggerebekan, pada 2009 Densus 88 juga menembak mati Noordin M Top di Surakarta. Kematian Azahari dan Noordin tidak menghentikan gerakan terorisme di negeri ini. Densus 88 terus berupaya memberantas terorisme agar masyarakat dapat hidup tenang, aman, dan damai.

Bukan Representasi Islam

Islam adalah agama perdamaian dan kedamaian. Secara harfiah arti Islam itu sendiri adalah keselamatan, kedamaian atau perdamaian, ketundukan, dan kepasrahan diri. Tidak ada satu pun ayat Alquran (juga dalam kitab suci agama-agama lain) yang menyuruh dan mengajarkan kepada para pemeluknya untuk melakukan terorisme, radikalisme, brutalisme, kekerasan, kejahatan, perusakan, penyerangan, dan pembunuhan baik terhadap anggota umat seagama maupun terhadap anggota jemaat tidak seagama.

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada semua manusia tercipta salam (keselamatan dan perdamaian) sesuai arti, esensi, visi, dan misi Islam itu sendiri. Dalam arti doktrin dan praktik, Islam identik dengan kedamaian, perdamaian, keadaban, dan peradaban sebagai tatanan kehidupan yang dibangun atas dasar moral kenabian dan etika ketuhanan.

Nabi Muhammad (nabi yang diutus oleh Allah untuk membawa dan menyiarkan agama Islam) menyandang misi sebagai pembawa rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), bukan sebagai pembawa mudarat, bencana, malapetaka, dan laknat bagi alam semesta. Presiden AS Barack Obama benar. Terorisme tidak identik dan bukan merupakan representasi agama (Islam) dan tidak mewakili umat Islam.

Timbulnya radikalisme, ekstremisme, dan terorisme sama sekali tidak berasal dan tidak bersumber dari ajaran agama yang sangat sakral dan bersifat ilahiah. Akar-akar radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di kalangan minoritas kelompok agama lebih disebabkan oleh eksklusivitas pemaknaan agama, rigiditas penafsiran teks-teks kitab suci, truth claim (klaim kebenaran) agama secara picik, sempit, dan berlebih-lebihan, kesenjangan sosial ekonomi, dan radikalisasi-politisasi-ideologisasi agama.

 

Koran SINDO

Jum’at,  6 Maret 2015  −  10:32 WIB

Related Post

 

Tags: