Kementerian Komunikasi dan Informasi telah lama memperhatikan, kenapa program-program siaran televisi yang kualitasnya rendah dan tidak mendidik justru ratingnya tinggi. Sehingga acara-acara yang demikian justru bertahan lama dan peminat iklannya tinggi.

Hal ini ditengarai, lembaga surveynya, tidak melakukan survey secara representatif dan sesuai dengan keadaan masyarakat yang sesungguhnya. Artinya, sampel yang diambil tidak memadai sehingga tidak mewakili keadaan masyarakat yang sesungguhnya.

Demikian ungkap S. Rahmat M. Arifin, Komisioner KPI Pusat dalam forum Pelatihan dan Survey Indeks Kualitas Program Siaran Televisi yang diselenggarakan KPI Pusat bersama Fakultas Dakwah dam Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Humaniora, kemarin (28/4), di gedung PAU UIN Sunan Kalijaga.

“Lembaga survey hanya mengambil sampel kelompok masyarakat yang berpendidikan rendah, tidak berkarier, dan sebagainya. Keadaan seperti ini tentunya menjebak pertelevisian Indonesia yang tidak semakin membaik,” kata Arifin, “padahal seharusnya media pertelevisian di negeri ini bisa ikut mempengaruhi semakin baiknya peradaban.”

Dijelaskan Arifin, sadar akan permasalahan di atas, KPI Pusat, melalui forum-forum seperti ini, mengajak masyarakat terdidik untuk terlibat dalam kegiatan pelatihan dan survey indeks kualitas program siaran televisi. Selain di lingkup masyarakat kampus (termasuk UIN Sunan Kalijaga), pelatihan dan survey semacam ini akan dilakukan sebayak 5 kali di wilayah Yogyakarta, selain itu juga dilakukan di wilayah-wilayah lain di seluruh Indonesia.

“Sehingga diperoleh responden yang memadai dan mewakili keadaan masyarakat Indonesia yang sesungguhnya,” terang Arifin.

Pembicara lain yang ikut hadir dalam forum ini antara lain: Komisioner KPI DIY, Supardiyono, M.H., Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indonesia, Dr. Eriyanto, dan Wakil Dekan III Fakultas Sosial Humaniora, Dr. Iswandi Syahputra. (uin-suka.ac.id)