Prof. Faisal Ismail, Mengajar di UIN Suka

EVENT Organizer Divine Production (DP) hendak menyelenggarakan kegiatan yang disebut Pesta Bikini Pelajar SMA di Jakarta baru-baru ini. Untuk mengadakan kegiatan ini, DP telah menyewa sebuah hotel di Jakarta. Akan tetapi, DP tidak jadi melaksanakan event ini karena pihak kepolisian melarangnya dengan alasan kegiatan tersebut belum mendapat izin dan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Nama-nama sekolah SMA di Jakarta yang disebut dalam undangan DPmerasa dirugikan karena sekolah-sekolah tersebut sebenarnya tidak terkait dengan event Pesta Bikini yang hendak dilaksanakan oleh DPitu. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise merasa prihatin dan meminta kepada pihak kepolisian untuk melarang rencana penyelenggaraan Pesta Bikini tersebut karena tidak sesuai dengan nilai-nilai Ketimuran. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga mempunyai pendapat dan pandangan yang serupa dengan Menteri Pembedayaan Perempuan tentang rencana penyelenggaraan Pesta Bikini itu.

Apa yang hendak saya katakan dengan mengemukakan peristiwa di atas? Budaya global yang didominasi oleh negara-negara adidaya Barat (Amerika Serikat dan Eropa Barat) terus menghegemoni budaya negara-negara yang berlokasi di kawasan dunia Timur. Melalui jaringan media cetak dan media elektronik yang mereka kuasai, negara-negara adidaya Barat ‘mengekspor’ nilai-nilai budaya ke kawasan dunia Timur, termasuk ke Indonesia.

Di 1990-an, belum pernah terdengar adanya penyelanggaraan Pesta Bikini atau yang sejenis ini. Pesta Bikini (atau yang semacam itu) hanya terjadi di Barat. Berkat kemajuan teknologi yang modern dan canggih, peristiwa-peristiwa yang terjadi atau datang dari Barat dapat diakses dengan mudah dan sebagian masyarakat (sebut saja sebagaian kaum muda) menirunya karena mereka memandangnya sebagai nilai-nilai budaya modern. Dunia sudah menjadi ‘desa global’yang batas-batasnya sudah sangat sempit dan semuanya berada dalam jangkauan yang sangat mudah. Perjumpaan dan bahkan pergumulan nilai-nilai Ketimuran (lebih spesifik lagi: nilai-nilai Keindonesiaan) dengan nilai-nilai Barat terjadi dalam frekuensi yang sangat eskalatif dan masif dari waktu ke waktu.

Sebagai negara yang tidak lebih maju dari negara-negara Barat di bidang ekonomi, sains dan teknologi, Indonesia berada dalam bayangan dan cecaran nilai-nilai budaya Barat. Hal yang sama terjadi pula pada negara-negara di kawasan dunia Timur. Dulu kita terkenal sebagai masyarakat yang suka bergotong royong, tetapi nilai-nilai gotong royong itu sudah tergerus dalam kehidupan masyarakat dan hampir hilang. Dulu kita sangat berpegang teguh kepada adat, sopan santun dan agama, tetapi mengapa sebagian kita sekarang menjadi penganut moral permisif? Permissiveness (kebolehan) dan moral permisif yang banyak terjadi di Barat telah melanda negeri ini. Prostitusi secara online terbongkar di Jakarta dan Bandung dan situasinya sangat memprihatinkan karena melibatkan anak perempuan di bawah umur (14 tahun). Media masa baru-baru ini memuat berita tentang pembunuhan seorang prostitute bernama Deudeuh Alfisahrin oleh pelanggannya karena sang pelanggan merasa dihina oleh ucapan si prostitute. Nama Alfisahrin (ejaan yang benar: Alfisyahrin) berarti seribu bulan dan nama ini diambil dari kitab suci Alquran Surah Alqadar. Tapi sayang, nama yang Qurani ini tidak tercermin pada perilakunya. Justru Alfisahrin secara ketus menci-bir: “Nerakaku bukan urusanmu. Apalagi surga belum tentu jadi tempatmu,” kata dia dalam membela diri sebagai prostitute.

Permissiveness yang menjadi ciri khas moral sekuler dewasa ini merupakan sisi negatif fenomena budaya global. Bisa jadi terinspirasi atau terdorong oleh moral permisif ini, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan baru-baru ini melegalkan perzinahan. Dengan kata lain, orang berzina di Korsel adalah legal dan tidak dipidana. Sisi-sisi negatif dari budaya global tentu saja tidak kita ambil. Yang kita adopsi adalah segi-segi positif dan nilai-nilai yang baik yang terdapat pada budaya global.

Globalisasi nilai-nilai budaya tidak dapat dihindarkan di dunia yang sudah menjadi global village ini. Sebagai bangsa, kita tentu menjaga dan mempertahankan nilai-nilai Keindonesian yang bersumber dari falsafah hidup bangsa (Pancasila) dan agama.

Kedaulatan Rakyat, Jumat, 8 Mei 2015

Related Post

 

Tags: