Dr. Hamdan Daulay, M.Si. M.A., Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

MENGENANG kembali peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW sering dijadikan momentum untuk membangkitkan moralitas umat yang semakin rapuh. Makna Israk Mikraj sesungguhnya tidak hanya terbatas pada perjalanan ke langit, namun yang lebih penting adalah esensi ajaran yang diperoleh dari perjalanan tersebut. Dari peristiwa Israk Mikraj, turun perintah melaksanakan salat lima waktu sebagai usaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Salat juga sebagai usaha untuk membersihkan diri dari perbuatan keji dan munkar, dan sebagai benteng dari krisis moral yang semakin memprihatinkan.

Adalah benar pendapat Annemarie Schimmel, dalam buku Dan Muhammad adalah Utusan Allah, tentang peristiwa Israk Mikraj yang dilaksanakan Nabi. Peristiwa Israk Mikraj tersebut terjadi ketika Nabi menghadapi peristiwa duka cita mendalam di tengah beratnya perjuangan dakwah yang dihadapi. Dua tokoh utama pendukung perjuangan meninggal, yaitu paman (Abu Thalib) dan istri (Siti Chadijah). Di tengah duka cita yang cukup berat itulah nabi diperintahkan Allah SWT melaksanakan perjalanan Israk Mikraj. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah penting dalam Islam, karena dari perjalanan inilah muncul perintah menjalankan salat bagi setiap muslim.

Setiap kali memperingati peristiwa Israk Mikraj seharusnya bisa dijadikan momentum untuk mengevaluasi kualitas moral. Karena sesungguhnya tugas utama dalam perjuangan dakwah Nabi adalah dalam rangka memperbaiki akhlak manusia. Kegersangan spiritual yang melanda umat manusia saat ini tampaknya sudah mencapai titik nadir yang memprihatinkan. Kebohongan, kemunafikan, ketidakadilan, kepalsuan dan berbagai wajah topeng kepalsuan lainnya begitu banyak muncul di tengah masyarakat. Padahal esensi perjuangan dakwah Nabi adalah menentang peradaban jahiliyah dengan penguatan moral. Nabi menentang ketidakadilan, kebohongan, penindasan yang kuat pada yang lemah, menentang perbudakan. Nabi memberi perhatian yang besar pada anak yatim dan fakir miskin, dan juga memuliakan derajat perempuan.

Di tengah arus globalisasi yang semakin dahsyat dewasa ini, nilai-nilai budaya dan moral yang begitu luhur menjadi lemah dan rapuh. Beberapa kasus negatif yang terjadi di tengah masyarakat adalah merupakan potret buram krisis moral. Mulai maraknya praktik prostitusi online, foto bugil remaja, hingga mahasiswi yang meninggal melahirkan bersama bayinya di kamar kos di Yogyakarta. Potret buram seks bebas yang melanda masyarakat saat ini sungguh sangat memprihatinkan dan memilukan.

Kini tidak hanya orangtua yang galau dan resah dengan maraknya narkoba dan seks bebas di tengah masyarakat. Keprihatinan juga melanda guru di sekolah apalagi tokoh agama. Bagaimana nanti masa depan anak bangsa kalau banyak di antara mereka dilanda krisis moral? Orangtua, guru dan tokoh-tokoh agama juga merasa gagal dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak bangsa. Pengaruh globalisasi yang begitu dahsyat telah membuat gaya hidup orang muda saat ini lepas kontrol. Bahkan nilai-nilai agama dan budaya pun diabaikan.

Kerusakan moral yang melanda anak-anak bangsa saat ini tampaknya sudah mencapai titik nadir yang memprihatinkan. Selain pornografi, narkoba, dan seks bebas juga tidak kalah dahsyatnya menimpa masyarakat saat ini. Bahkan pornografi dan narkoba sudah sangat luar biasa merusak moral masyarakat. Bukankah cukup banyak generasi muda bangsa ini yang hamil di luar nikah. Demikian pula karena narkoba, betapa banyak generasi muda yang rusak fisik dan mentalnya, bahkan yang gila dan mati, karena barang haram tersebut. Wajarlah kalau pengedar narkoba yang telah merusak jutaan masyarakat diberi hukuman mati.

Seandainya sejak dini orangtua menanamkan nilai-nilai agama kepada anak, maka mereka akan tumbuh dengan moral yang kuat. Sehingga tidak mudah tergoda dengan tindakan-tindakan yang merusak moral. Diakui, betapa semakin dangkalnya saat ini penanaman nilai-nilai agama kepada anak, sehingga akhlak mereka pun dari waktu ke waktu semakin rapuh.

Semoga peringatan peristiwa Israk Mikraj nabi bisa menguatkan kembali nilai-nilai moral yang menjadi esensi perjuangannya. Karena sesungguhnya keteladanan moral yang ditunjukkan Nabi bisa menjadi cahaya di tengah kegersangan spiritual yang melanda umat manusia saat ini. (*)

Kedaulatan Rakyat, 15 Mei 2015

Related Post

 

Tags: