Dr. Hamdan Daulay, M.Si. M.A., Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

RAMADAN bagaikan cahaya dalam kegelepan yang diharapkan mampu menerangi jalan manusia dari kesesatan. Ramadan juga disebut lebih baik dari seribu bulan, karena bulan ini penuh dengan ampunan, penuh ibadah dan kemuliaan. Itulah sebabnya setiap kali Ramadan tiba, umat Islam dengan penuh suka cita dan bahagia menyambutnya dengan ucapan marhaban yaa Ramadan.

ilustrasi-artikel-hamdan-daulay-ramadhan-kedaulatan-rakyatTidak hanya itu, semarak Ramadan juga sangat kental dalam publikasi media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan tayangan TV selama bulan Ramadan sepertinya penuh dengan nuansa dakwah. Berbagai macam acara dikemas dalam tayangan TV, mulai dari yang berbentuk sinetron religi, kilas balik sejarah Islam, hingga ceramah-ceramah keagamaan menjelang sahur dan buka puasa.

Tidaklah berlebihan kalau Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al Qur’an menyebut bulan suci Ramadan memiliki makna istimewa bagi umat Islam. Salah satu makna istimewa itu tercermin dalam aktualisasi ukhuwah Islamiyah, dengan terjalinnya hubungan yang lebih tulus antara kaum kaya dengan kaum miskin. Kalau selama ini kaum dhuafa seolah tidak memiliki saudara dalam menghadapi pahit getirnya kehidupan, maka di bulan Ramadan ini mereka bisa sama-sama merasakan lapar dan dahaga. Makna Ramadan lebih terasa lagi manakala tumbuh semangat ukhuwah Islamiyah dengan adanya semangat tolong menolong antara sesama umat.

Nuansa dakwah Ramadan tampaknya begitu meriah dengan banyaknya media massa yang menyampaikan pesan dakwah. Di bulan yang mulia ini sepertinya media berlomba menampilkan acara yang dikemas dengan suasana Ramadan. Lepas dari bagaimana kualitas dakwah yang mereka sajikan, yang jelas semangat mereka dalam menyemarakkan dakwah Ramadan patut diberi pujian. Namun sesungguhnya tidak semua masyarakat setuju dengan berbagai acara yang disajikan media massa, karena terkadang muatan acara yang ditampilkan bukannya memperkuat nilai dakwah, malah justru dinilai bisa mendangkalkan nilai dakwah itu sendiri.

Media dan Dakwah

Media massa memang memiliki berbagai fungsi di tengah masyarakat. Media bisa sebagai media informasi, media kontrol sosial dan juga sebagai media hiburan. Ketika media menyajikan pesan-pesan dakwah Ramadan yang diselingi dengan berbagai hiburan yang lucu-Iucu, sebenarnya itu sah-sah saja untuk ukuran media. Sebab media mempunyai pertimbangan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan budaya masyarakat. Ketika muncul kritik dari sebagian masyarakat tentang dominannya muatan humor dalam dakwah, barangkali perlu didiskusikan lebih lanjut tentang format dakwah yang ideal saat ini seiring dengan maraknya dakwah di media massa. Perkembangan budaya yang begitu pesat saat ini tentu menuntut kemasan dakwah juga perlu dimodifikasi dan direaktualisasi.

Lepas dari nuansa bisnis yang ada dalam tayangan TV, yang jelas harus diakui banyak sisi positif yang mereka sumbangkan dalam mendukung semarak Ramadan. TV sebagai media yang berasal dari masyarakat dan untuk masyarakat, memang harus bisa memahami budaya masyarakat di mana mereka berada. TV harus menempatkan diri dengan realitas masyarakat di tanah air yang notabene mayoritas umat Islam. Tatkala umat Islam di seluruh penjuru dunia menunaikan ibadah puasa Ramadan, tentu TV sebagai milik masyarakat juga harus mampu menayangkan acara- acara yang relevan. Dengan demikian pesan dakwah yang disajikan media massa bisa memberi pendidikan yang mencerahkan bagi masyarakat.

Di tengah krisis moral dan kegersangan spiritual yang semakin memrihatinkan dewasa ini, umat Islam memang merindukan kehadiran Ramadan yang penuh ampunan. Kemuliaan dan keagungan bulan ini diharapkan bisa menjadi cahaya bagi umat yang dilanda kegelapan. Tatkala kejahatan semakin merajalela, ketidakadilan, penindasan pada kaum lemah, hingga kemunafikan yang semakin dahsyat, dengan kehadiran Ramadan diharapkan bisa menjadi momentum untuk merenung dan mengevaluasi diri bagi setiap umat. Semarak Ramadan yang ditampilkan media massa juga semakin memperkuat pesan dakwah, sehingga diharapkan mampu menjadi embun penyejuk di tengah kegersangan spiritual yang melanda umat manusia saat ini. q- s

Kedaulatan Rakyat, Kamis, 18 Juni 2015, hari pertama Ramadhan 1436

Related Post

 

Tags: