Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga menambah dua doktor baru lagi. Keduanya adalah: Dr. H.M. Kholili, M. Si., dan Dr. Abdur Rozaki, S. Ag., M. Si.

Abdur Rozaki berhasil meraih gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Islam, Demokrasi dan Orang Kuat Lokal: Studi Kemunculan Oligarki Politik dan Perlawanan Sosial di Bangkalan Madura”, bertempat di Convention Hall, kampus UIN Sunan Kalijaga, Rabu, 10 Juni 2015. Sementara HM. Kholili berhasil meraih Gelar Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, setelah mempertahankan  disertasinya yang berjudul “Dakwah Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) Bimas Islam Dalam Membangun Umat di Kabupaten Sleman”, bertempat di Ruang Promosi Doktor, Sekolah Pascasarjana UGM, 3 Juni 2015 kemarin.

Abdur Rozaki mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji : Dr. Ali Shodikin, M. Ag., Dr. H.A. Malik Madany, MA., Dr. Moch. Nur Ichwan, MA., Prof. Dr. H. Nasruddin Harahap, SU., (promotor merangkap penguji), Prof. Dr. H. Susetiawan (promotor merangkap penguji). Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H. Sutrisno, M. Ag., dengan sekretaris Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA. Di hadapan tim penguji, promovendus memaparkan: kebijakan desentralisasi dan proses demokrasi elektoral yang tengah berlangsung selama lebih satu dasawarsa di wilayah nusantara ini menjadi arena politik yang dinamis di kalangan orang kuat lokal dan organisasi masyarakat sipil dalam merebut dan mempengaruhi struktur pemerintahan di tingkat lokal. Di beberapa daerah, proses semacam ini memunculkan sosok kepemimpinan inovatif dan geliat masyarakat sipil yang penuh gairah dalam mendorong perubahan. Namun di sisi lain, memunculkan pula adanya pola kepemimpinan oligarki.

Temuan tersebut setelah melakukan riset melalui studi kasus lapangan menggunakan metode kualitatif-deskriptif-eksploratif mengambil lokasi penelitian di wilayah Bangkalan Madura. Pengumpulan data secara partisipatif, wawancara mendalam dengan jaringan inti aktor yang terlibat langsung dalam topik riset.

Menurut Abdur Rozaki, ia bisa melakukan pengumpulan data secara lengkap, karena dia sendiri lahir dan dibesarkan di wilayah penelitian. Secara khusus dan mendalam, pengumpulan data dilakukan dalam tiga periode, yakni satu tahun menjelang Pemilukada 2012, satu tahun menjelang Pemilu 2014, dan sebelum maupun sesudah Pilpres 2014. Dijelaskan, dari hasil analisis risetnya terungkap bahwa, oligarki politik di Bangkalan Madura cukup khas, karena dibangun dari basis sosial budaya keagamaan dominan. Symbolic goods Syaikhona Kholil (tokoh panutan dan pusat rujukan spiritual masyarakat Bangkalan) yang ditranformasikan menjadi symbolic power oleh FAI sebagai keturunannya dalam menguasai struktur pemerintahan daerah.

Menurut Abdur Rozaki, dalam menjalankan kekuasaannya, FAI mengembangkan oligarki politik dan dinasti politik dengan mengembangkan politik rent seeking. Yakni cara memperoleh penghasilan diatas normal, baik secara legal dan illegal untuk memperkaya diri melalui berbagai proyek pembangunan dan politik represi. Yakni, pendekatan teror dan kekerasan untuk membungkam sikap kritis para aktifis sosial. Berdasarkan data, tak kurang dari enam aktifis yang mengalami pembacokan dan penembakan selama kepemimpinan FAI.

Dari analisis risetnya, Abdur Rozaki juga dapat menyimpulkan bahwa oligarki politik yang dikembangkan FAI adalah tipe oligarki kleptokratik-represif. Oligarki kleptokratik represif ini menimbulkan kekecewaan, karena gagal mengemban misi perubahan di masyarakat Bangkalan. Sekaligus juga memunculkan ancaman bagi pelaku demokrasi, sehingga memunculkan perlawanan sosial melalui politik penentangan. Para aktifis sosial ini melakukan pembingkaian isu atas berbagai kasus kebijakan publik yang tidak berpihak pada kepentingan warga. Memanfaatkan struktur kesempatan politik untuk memperluas struktur mobilisasi masa dari berbagai kelompok sosial. Terutama saat terjadi pertentangan politik yang mengeras antara sesama keluarga Bani Kholil, Yakni FAI versus IBM dalam momen pemilukada. Para aktifis juga menggunakan sosial media, seperti : twitter dan facebook, serta langgam penentangan melalui orasi politik dan aksi teatrikal lainnya dalam aksi-aksi demontrasi mereka.

Melalui karya risetnya ini, Abdur Rozaki berkesimpulan bahwa, orang kuat lokal di wilayah-wilayah nusantara ini membangun kekuatan oligarki melalui agama dan budaya lokal, yang melahirkan tipe oligarki khusus, yakni oligarki kleptokratik represif. Abdur Rozaki berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat Comloude.

Sementara itu, Kholili berhasil meraih gelar Doktor setelah mempetahankan karya disertasinya di hadapan tim penguji : Prof. Dr. Ir. Sunnaru Samsi Hariadi, MS., Prof. Dr. Mudiyono, Budi Guntoro, S. Pt., M.Sc., Ph.D., Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M. Ag., Prof. Dr. Hj. Partini, SU., Dr. Samsul Maarif, Prof. Dr. Syamsul Hadi, SU., MA., (promotor), Subejo, SP., M. Sc., Ph.D., (promotor) dan diketuai oleh Prof. Ir. Suryo Purwono, MA., Sc., Ph.D.

Kholili menjelaskan, dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, mengambil lokasi di wilayah Kabupaten Sleman, pihaknya berhasil mengungkap bahwa, Seksi Bimas Kemenag Kabupaten Sleman melaksanakan dengan baik dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan dakwah di wilayah-wilayah dimana masyarakatnya sangat membutuhkan penguatan pengetahuan dan keyakinan keagamaan Islam dalam kehidupannya. Namun demikian, belum secara intensif membuat strategi dakwah yang dirancang secara komprehensif untuk mewujudkan jemaah yang agamis dan sejahtera. Strategi dakwah dapat diarahkan untuk menyeimbangkan penyelenggaraan dakwah penerangan dan dakwah penyuluhan sebagai satu kesatuan. Hal ini belum diprogramkan. Pelaksanaan dakwah oleh para PAIF, sebagai kepanjangan tangan Seksi Bimas Islam, selama ini banyak dilakukan dengan dakwah penerangan dari pada dakwah penyuluhan. Sementara dakwah yang berusaha pada upaya peningkatan kesejahteraan jamaah yang dilakukan PAIF baru berupa pesan-pesan dakwah yang bersifat penunjang.

Dijelaskan, hasil analisis SEM atas data lapangan menunjukkan, tiga kompetensi seorang da’i memperlihatkan bahwa, kemampuan memahami sosial budaya dan kemampuan berkomunikasi memposisikan lebih besar kontribusinya bagi kemunculan kompetensi seorang da’i, dibandingkan kontribusidari kemampuan pengetahuannya. Berdasarkan analisis ini, seorang da’i harus menjadi orang yang mampu memahami sosial budaya jemaahnya agar dia dapat berkomunikasi dengan baik, sehingga dia menjadi orang yang mempunyai pengetahuan yang banyak dan mendalam tentang pesan dan jamaahnya. Dengan demikian, betapa seorang da’i sesungguhnya harus menjadi saksi, syahidan, orang yang mengetahui banyak tentang umatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 45-46. Demikian jelas Kholili.

Karya disertasi Kholili juga berhasil mengungkap, variabel kompetensi PAIF berpengaruh secara signifikan dengan sumbangan yang cukup besar terhadap variabel-variabel penetapan tema pesan, penyajian pesan, dan penggunakan metode dakwah. Akan tetapi berpengaruh secara signifikan dengan sumbangan yang relatif kecil terhadap pemanfaatan bentuk-bentuk komunikasi. Sementara, kegiatan dakwah yang meliputi variabel-variabel penetapan tema pesan dakwah, penyajian pesan dakwah, penggunaan metode dakwah dan pemanfaatan bentuk komunikasi berpengaruh secara signifikan dengan sumbangan yang cukup variatif terhadap variabel efek dakwah. Berdasarkan sumbangan yang diberikan oleh masing-masing variabel kegiatan dakwah, diketahui variabel yang paling perpengaruh terhadap efek dakwah adalah variabel penggunaan metode dakwah. Yakni dakwah penerangan dan dakwah penyuluhan. Namun secara keseluruhan, variabel kegiatan dakwah, seluruh variabel secara bersama-sama telah menyumbang efek dakwah sebesar 67%. Papar Bapak 3 putra dari istri Jumariyah ini. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).