Prof. Dr. H. Faisal Ismail, M.A.

Perasaan cinta kepada wanita, anak, uang, harta kekayaan, emas, perak, kendaraan yang bagus, sawah, dan ladang yang luas merupakan naluri yang ada pada setiap manusia.

Naluri ini memang sudah diperlengkapi oleh Allah SWT kepada setiap manusia sejak lahir. Dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 14, Allah melukiskan naluri ini sebagai berikut: ”Dihiasi manusia dengan perasaan cinta kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anakanak, harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Adalah wajar kalau manusia mempunyai rasa cinta kepada wanita, anak, dan harta benda. Tidak mungkin rasa cinta kepada wanita, anak, dan harta itu ”dimatikan” dan dilenyapkan dalam diri manusia. Yang penting, perasaan cinta kepada wanita, anak, dan harta itu disalurkan dan direalisasikan melalui cara yang oleh Islam disebut ”halalan thoyyiban” (halal dan baik).

Perasaan cinta pria kepada wanita (atau sebaliknya) harus dijalin dalam ikatan pernikahan. Islam sangat melarang hubungan seks di luar nikah, perzinaan, dan pelacuran. Perasaan sayang dan cinta kepada anak dapat diwujudkan dengan cara mendidiknya sehingga menjadi anak yang saleh dan solehah. Jangan sampai justru salah asuh yang dapat menjerumuskan anak tersebut ke jurang kemaksiatan dan perbuatan amoral.

Uang dan harta juga harus diperoleh dengan cara yang halal dan baik (tidak dengan cara mencuri atau korupsi). Uang dan harta kekayaan hanya sebagai sarana hidup, bukan tujuan. Allah memperingatkan kita bahwa anak dan harta kekayaan merupakan cobaan (fitnah).

Allah menegaskan dalam Alquran Surah al-Anfal ayat 28: ”Dan ketahuilah, sesungguhnya anak-anakmu dan harta kekayaanmu hanyalah sebagai cobaan.” Dalam firman-Nya yang lain, Allah SWT memperingatkan kita agar ”janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu; sesungguhnya Allah akan mengazab mereka di dunia ini dengan harta dan anak-anak itu. (QS at-Taubah: 85).

Allah memperingatkan kita agar tidak terlalu cinta terhadap harta benda dan anak yang dapat membuatnya lalai dan lupa terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Ujian dan cobaan Allah kepada manusia dalam hidup ini tidak selalu berupa kesulitan hidup, kekurangan, dan kemiskinan. Cobaan dan ujian Allah bisa juga berupa banyaknya aset kekayaan dan kelimpahan harta benda.

Banyak orang yang lulus dalam menghadapi cobaan Allah yang berupa kesulitan hidup, kekurangan, dan kemiskinan. Mereka tetap sabar, tawakal, dan taat kepada-Nya. Tetapi tidak jarang orang gagal dalam menghadapi cobaan Allah yang berupa kelimpahan harta benda dan banyaknya aset kekayaan. Mereka lupa kepada Allah dan melalaikan perintah-Nya.

Puasa Ramadan sebagai sarana dan latihan pengendalian diri memiliki fungsi yang signifikan dan strategis dalam mendidik manusia muslim untuk dapat lulus dari cobaan-cobaan tadi. Asal puasa Ramadan itu tidak dikerjakan sebagai siklus keberagamaan yang formalistis semata, tetapi dilaksanakan sebagai ritus ilahiah yang transendentalistis.

Faisal Ismail
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Koran Sindo, Senin,  29 Juni 2015  −  11:02 WIB

http://www.koran-sindo.com/read/1017939/149/ritus-ilahiah-ramadan-1435549771

Related Post

 

Tags: