oleh Hamdan Daulay

KASUS Tolikara muncul akibat ada tindakan intoleransi (tidak toleran) terhadap kelompok lain. Peristiwa ini harus disikapi dengan pikiran yang jernih. Apalagi menyangkut simbol-simbol agama, tentu akan mudah menyulut emosi yang terkadang sangat sulit untuk dikontrol. Kedewasaan berpikir dan semangat nasionalisme yang tinggi harus dikedepankan untuk mengurai persoalan yang muncul di Tolikara (Papua). Jangan sampai ada kelompok lain yang sengaja memprovokasi masyarakat, sehingga menimbulkan kondisi yang lebih runyam lagi.

Kasus-kasus intoleransi yang terjadi di tengah masyarakat dari waktu ke waktu semakin banyak. Kalau tidak segera diatasi dengan baik, akan bisa menjadi ‘bom waktu’ yang akan mengoyak persatuan dan semangat nasionalisme berbangsa dan bernegara. Meski demikian harus ada tindakan tegas dan cepat dari pemerintah dalam kasus Tolikara yang sangat melukai perasaan umat Islam ini, agar jangan sampai menimbulkan bom waktu. Jangan sampai kasus Tolikara justru memancing munculnya gerakan-gerakan yang akan membuat suasana semakin runyam.

Indonesia adalah sebuah mozaik dalam kategori apapun. Baik keyakinan agama, karakter budaya, identitas etnik, pola-pola adat, rasa dan ungkapan bahasa, warisan sejarah, pilihan golongan, afiliasi politik, tampilan karakter dan lain-lain. Lazimnya sebuah mozaik, jika direnungkan sesaat, di dalam diri Indonesia tercermin apa yang pernah diucapkan antropolog Prancis, Claude Levi-Strauss (1995), yang mengatakan bahwa keragaman ada di belakang, di depan, dan bahkan di sekeliling kita. Dengan demikian, bagi Indonesia keragaman dalam berbagai hal itu memang sebuah realitas, sama sekali bukanlah hal yang baru. Atas nama keragaman itu, Indonesia sesungguhnya adalah taman yang luar biasa indah, sehingga berada di dalamnya penuh dengan dinamika dan tantangan.

Bangsa Indonesia yang plural, baik dari aspek agama, budaya, aliran, etnis dan lain-lain, bisa menjadi potensi kerukunan dan juga bisa menjadi potensi konflik. Manakala persoalan pluralitas ini dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi kerukunan. Sebaliknya manakala persoalan pluralitas ini tidak dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi keresahan dan konflik di tengah masyarakat. Di sinilah dibutuhkan pendekatan dialog yang baik, agar bisa memberi kesejukan bagi umat, sehingga bisa memperkokoh keutuhan dan persatuan bangsa. Dialog yang baik di tengah perbedaan yang ada, akan bisa memberi kesejukan, bukan justru mempertajam perbedaan, menonjolkan eksklusivisme, dan bahkan membuka potensi konflik di tengah masyarakat.

Kalau dikaji ajaran masing-masing agama, sesungguhnya setiap agama yang ada di Indonesia (Islam, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha) mengajarkan tentang kerukunan. Tidak satu pun agama yang mengajarkan konflik. Namun dalam praktiknya konflik internal dan antarumat beragama terkadang tidak bisa dihindari. Konflik itu bisa terjadi karena emosi umat yang tak terkendali. Untuk menghindari terjadinya konflik antarumat beragama, perlu terus ditingkatkan pembinaan kehidupan umat beragama oleh tokoh-tokoh agama.

Dalam kasus konflik umat beragama misalnya, faktor penyebabnya bukanlah dari doktrin agama, melainkan bisa karena faktor politik dan sosial ekonomi. Kesenjangan ekonomi antara penganut agama yang satu dengan penganut agama yang lain, bisa menjadi sumber konflik antarumat beragama. Demikian pula dengan perlakuan politik yang dianggap kurang adil berdasarkan agama yang dianut, bisa merambah pada terjadinya konflik antarumat beragama. Sebab dengan perlakuan yang dianggap kurang adil, akan membuat kecemburuan dari kelompok  satu terhadap kelompok lain. Kalau masyarakat sudah terjebak pada kondisi intoleransi dan disharmoni, membuat masyarakat dilanda konflik yang  menakutkan.

Kasus Tolikara hendaknya jangan sampai menjadi bom waktu yang akan mengoyak kerukunan umat beragama yang sudah terpelihara selama ini. Semua pihak harus berpikir jernih dengan semangat toleransi yang tinggi untuk segera mencari solusi terbaik. Pemerintah juga harus bertindak cepat dan tegas agar kasus ini tidak semakin meluas dan membara. Dengan demikian, setiap warga negara di manapun berada bisa mendapatkan kerukunan, kesejukan dan kedamaian dalam menjalankan ajaran agamanya.

dimuat di Kedaulatan Rakyat, Selasa, 21 Juli 2015

Related Post

 

Tags: