Prof Dr Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga.

SOEKARNO (Bung Karno) dilahirkan 6 Juni 1906 di Surabaya. Ayahnya R Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Ray. Sejak kanak-kanak, Soekarno telah memperlihatkan kecerdasannya. Ketika belajar di Surabaya, dia mendirikan organisasi Trikoro Darmo (berorientasi politik) yang diminati oleh banyak pelajar. Di Surabaya tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto (1883-1934), seorang intelektual muslim dan pemimpin terkenal Sarekat Islam. Tjokroaminoto sangat mempengaruhi karier politik Soekarno di masa depan. Tahun 1921 Soekarno lulus dari Institut Teknologi Bandung sebagai insinyur.

Soekarno kemudian terjun ke bidang politik. Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia tahun 1927. Tujuan utamanya adalah memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Karena gerakan politiknya yang dinilai sangat membahayakan, pemerintah kolonial Belanda menjebloskan Soekarno ke dalam penjara di Sukamiskin. Kemudian Bung Karno dibuang ke Endeh dan diasingkan ke Bengkulu tahun 1939. Pada tahun 1948, setelah agresi militer kedua, Belanda kembali menangkap Soekarno dan mengasingkannya ke Berastagi.

Dalam pidatonya di sidang BPUPKI, 1 Juni 1945, Soekarno mengajukan Pancasila untuk dipakai sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Dr Alfian mengatakan, gagasan Soekarno tentang Pancasila merupakan sumbangan paling berharga bagi bangsanya karena menjadi landasan persatuan rakyat Indonesia. Alfian menjelaskan, persoalan pokok yang mendominasi pikiran Soekarno adalah bagaimana berbagai aliran pemikiran yang dilandasi oleh berbagai corak nilai bisa dipertemukan dalam suatu konsep pandangan hidup bersama tanpa menghilangkan dinamika sehat yang terkandung di dalam diri masing-masing. Dari situ dia membangun kerangka pemikirannya ke dalam satu konsep pandangan hidup bersama yang baru yang menghimpun nilai-nilai dasar yang terkandung dalam berbagai pemikiran yang hidup dalam masyarakatnya ke dalam satu rangkaian yang tak terpisah-pisah.

Tiga Aliran

Alfian mencatat, ada tiga aliran pemikiran yang mempengaruhi Soekarno. Pertama, pemikiran yang berasal dari nilai-nilai fundamental budaya bangsanya, khususnya budaya Jawa. Kedua, pemikiran yang dikembangkan oleh pemikir sosialis Barat termasuk Karl Marx (1818-1883). Ketiga, pemikiran yang diformulasi oleh para pemikir muslim modern seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani. Soekarno percaya, ketiga arus pemikiran ini mempunyai kekuatan sendiri-sendiri yang dapat menjadi gelombang pasang kekuatan sosio-politik jika disatukan dalam perjuangan melawan kolonialisme.

Kepercayaan ini tercermin dari pernyataannya: “tidak ada yang dapat mencegah kelompok Nasionalis untuk bekerja sama dengan kalangan Muslim dan Marxis” dan “tidak ada hambatan fundamental untuk mengadakan persahabatan antara kelompok Muslim dan Marxis.” Pembelaan Soekarno terhadap persatuan bangsa dalam Negara Indonesia Merdeka yang dicita-citakan ditunjukkan dengan pernyataannya: “Saya bukan seorang Komunis, saya tidak memihak yang mana pun! Saya hanya memihak pada persatuan – Persatuan Indonesia – dan persahabatan di antara semua gerakan-gerakan kita yang berbeda.”

Universal

Gagasan bernas Soekarno tentang nasionalisme dan humanitarianismenya antara lain dipengaruhi oleh Adolf Baars (pemikir sosialis Belanda) dan Dr Sun Yat Sen (pendiri Republik Tiongkok). Soekarno juga terinspirasi oleh Sun Yat Sen ketika ia membaca bukunya yang bertajuk San Min Chi I (Tiga Prinsip Rakyat) yang mengajarkan tentang Mintsu, Minchuan, dan Min Sheng (Nasionalisme, Demokrasi, dan Sosialisme) yang menginspirasi Soekarno mengenai Nasionalisme yang lebih terbuka dan universal. Bagi Soekarno, Negara Indonesia Merdeka yang dicita-citakan adalah negara untuk seluruh rakyat Indonesia. Dia tegas mengatakan: “Kita akan membangun sebuah negara bagi semuanya, … tidak hanya untuk golongan tertentu, tidak juga untuk para aristokrat atau orang kaya. Kita akan membangun sebuah negara yang didukung oleh kita semua. Semua untuk semua. Sebuah negara untuk semua bangsa Indonesia.”

Bersama Muhammad Hatta, Soekarno terkenal sebagai Proklamator yang memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Soekarno adalah Presiden Pertama RI (1945-1965) yang meletakkan dasar-dasar kesatuan dan persatuan bangsa. Sang Proklamator itu sangat berjasa sebagai pencetus Pancasila yang dipakai sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk dan berjasa pula sebagai salah satu tokoh founding fathers Negara Republik Indonesia. Sudah sepantasnya kita kenang jasanya terutama pada momen memperingati HUT RI. **

Dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, 18 Agustus 2015

Related Post

 

Tags: