Ada pertanyaan menarik yang diajukan salah satu mahasiswa FDK saat kuliah umum kemarin. Mahasiswa ini mengungkapkan pola mahasiswa dengan IPK tinggi biasanya berakhir pada meja wawancara. Sementara mahasiswa yang memiliki kepemimpinan dan karakter akan memperoleh kesuksesan. Kemudian, tentu yang menjadi orang-orang yang di atas sana adalah mereka yang memiliki kepemimpinan dan karakter tadi. Pertanyaannya bagaimana jadinya mereka yang sukses ini kok malah menjadi “tikus-tikus” koruptor?

Sebuah pertanyaan yang menarik dan tak kalah menarik juga yang menjawabnya. Prof. Akh. Muzakki, sang narasumber dalam kuliah umum tadi, seperti biasa menjelaskan melalui contoh-contoh yang mudah diterima.

“Dalam guyonan para dosen, ada tiga jenis mahasiswa yang kita harus hati-hati. Pertama, mahasiswa cerdas, IPK tinggi, sebentar lagi akan menjadi kolega akademisi. Yang kedua, IPK biasa saja, dia biasanya akan menjadi pengusaha. Yang ketiga, IPK jelek, tak pernah ikut kuliah, biasanya mereka akan menjadi politisi. Dan di tangan mereka lah nasib kita-kita ini (dosen) akan bergantung.”

Sebagian peserta saja yang bersorak dengan lelucon ini.

Lalu, Akh. Muzakki bertanya, adakah para hadirin yang sering merokok sampai saat itu. Ada beberapa yang tunjuk tangan, namun Muzakki mempersilahkan maju salah seorang dari mereka.

Seorang mahasiswa tadi diminta Muzakki untuk bercerita hal ihwal dia merokok.

“Saya merokok sudah 4-5 tahun ini. Awalnya melihat orang tua saya merokok. Kelihatannya enak. Lalu saya mencoba sendiri. Ternyata enak juga,” ungkapnya malu-malu disambut gerrr mahasiswa lainnya,”sebenarnya saya punya rasa pengin berhenti, namun tiap kali selesai makan, kalau tidak¬† ada rokok, rasanya ada yang tidak sempurna.”

Muzakki menanyakan apakah dia tahu tulisan di bungkus rokok. Jawabnya tahu dan hapal. Bunyi bungkus yang baru ‘rokok membunuhmu’. “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan,” kata Rizki membunyikan peringatan di bungkus rokok lama dengan lancar.

Selanjutnya, Muzakki bertanya, “yakin akan apa yang disampaikan itu secara kesehatan?” Jawabnya, “ya.”

Namun kenapa masih merokok? Tentu jawabannya tak terdengar lagi.

“Ternyata tidak semua perilaku kita, kita lakukan atas dasar pengetahuan. Malah lebih pada emosi.” terang Muzakki, “Enak, kurang sempurna seperti katanya tadi adalah ungkapan emosi.”

Kalau di psikologi, lanjut Muzakki, emosi tadi disebut afeksi. Sementara pengetahuan disebut kognitif. Dan kegiatan merokoknya adalah motorik.

Dalam manusia ada afeksi tersebut. Yang di malaikat tidak ada.

Manusia yang bisa menyejajarkan antara afeksi dan kognitif  bisa menjadi seperti malaikat. Tetapi apabila yang dikedepankan afeksinya, akan seperti hewan.

“Nah, problem kepemimpinan kita adalah tidak simetris antara kognitif dan afeksi tersebut,” jelas Muzakki.

Pelaku korupsi yang 80% keluaran pendidikan tinggi menganut apa yang disebut “Living Beyond Your Means”. Lebih Besar Pasak Daripada Tiang. Gaya Hidup. “Itu Afeksi,” lanjutnya.