Prof. Akh. Muzakki, saat kuliah umum bagi mahasiswa angkatan 2015 kemarin, menyampaikan bahwa masalah dakwah saat ini hanya berhenti sampai nilai saja. Dakwah hanya menyampaikan nilai, tanpa diiringi bagaimana konsep melaksanakannya, serta indikatornya.

“Kita mendakwahkan ternyata hanya pada tataran nilai, tidak akan berguna pada tataran praktis,” ungkap Muzakki, “Harusnya kita memperkuat nilai kepastian dalam dakwah Islam, bukan hanya wacana, melainkan panduan praktis dalam kehidupan.”

Muzakki mencontohkan, sebuah buku yang ditulis Cahyadi Takariawan berjudul “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri”, yang kata pengantarnya ditulis istri Tifatul Sembiring. Buku tersebut dalam waktu singkat sekali cetak 10.000 eksemplar habis terjual. Cetak lagi.

“Coba kalo Pak Lathiful Khuluq, sekali cetak 1000 eksemplar. Habisnya kira-kira berapa tahun?” tanya retoris Muzakki ke pejabat wakil dekan bidang akademik FDK ini.

Selain hal tersebut memang merupakan panduan praktis, juga merupakan isu yang dekat dengan pembaca. Proximity istilahnya. “Kalo isu itu jauh, tentu tak akan laku,” terang Muzakki.

Hal itu pula yang menjelaskan bagaimana Mama Dedeh sangat laku, sampai antrian majlis ta’lim yang akan menonton tiap shownya mencapai 14.000 lebih majlis ta’lim. Demikian pula yang terjadi pada Aa’ Gym.

“Aa’ Gym cukup menyampaikan 3S, sangat mudah dicerna, sangat mudah diingat,” kata Muzakki. (Maksudnya mungkin 3 M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, mulai dari sekarang, red).

Mama Dedeh, menurut Muzakki, sama sekali tidak membuka ruang untuk berwacana. Berdiskusi. Hitam putih. Dan itu sebenarnya yang dibutuhkan publik, kepastian. Itulah yang membedakan dengan ruang akademik. Akademik membuka semua sumber, wacana, pengayaan. Ruang publik butuh praktis.

Mama Dedeh, menurut Muzakki, sama sekali tidak membuka ruang untuk berwacana. Berdiskusi. Hitam putih. Dan itu sebenarnya yang dibutuhkan publik, kepastian. Itulah yang membedakan dengan ruang akademik. Akademik membuka semua sumber, wacana, pengayaan. Ruang publik butuh praktis.

“Cuma bedanya, Mama Dedeh konsisten dengan kehidupannya, sedangkan Aa’ Gym poligami,” kata  Akh. Muzakki bernada berkelakar.
 
Celono Cingkrang dan Mario Teguh

Akh. Muzakki seperti tak kekurangan bahan untuk contoh konkret permasalahan-permasalahan dakwah yang terjadi saat ini. Yang paling gamblang adalah model yang dibawakan jamaah “celono cingkrang” yang ceramahnya cenderung keras, tunjuk sana, tunjuk sini, salahkan sana, salahkan sini.

Tentu berbeda hasilnya dengan model yang dibawakan Mario Teguh Golden Way tiap minggu malam di Metrotv. “Yang super sekali dan konkret itu,” kata Muzakki.

cinta-tanpa-kejelasan-status-MTGW

“Beliau menerjemahkan konsep dengan sangat konkret. Tidak ada orang jelek disana. Semua orang baik. Beliau membangkitkan optimisme,” terang Muzakki.