Dr Hamdan Daulay MA, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PERISTIWA hijrah Nabi, sering dijadikan momentum untuk membangkitkan moralitas umat yang rapuh. Apalagi makna hijrah sesungguhnya tidak hanya terbatas pada perpindahan tempat secara geografis. Namun hijrah mengandung makna yang lebih luas, yaitu ‘revolusi mental’ dengan menghijrahkan segala perbuatan dan keadaan dari yang kurang baik ke arah yang lebih baik.

Dengan demikian, setiap saat sesungguhnya manusia perlu melakukan ‘hijrah’sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas diri. Setiap orang perlu mengevaluasi diri dan selanjutnya melakukan ‘hijrah’dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Karena konsep hijrah sesungguhnya mengandung makna peningkatan kualitas hidup demi kesejahteraan umat manusia baik secara material maupun spiritual.

Sungguh menarik membaca buku Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, karya Annemarie Schimel. Dengan penuh ketulusan dan kejujuran, tokoh orientalis ini mengakui, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah tokoh revolusi mental yang telah berhasil membangun peradaban umat. Dalam sejarah tercatat, bahwa munculnya peristiwa hijrah yang menjadi tonggak sejarah umat Islam adalah karena rapuhnya moral kaum Quraish Mekah yang dilanda peradaban jahiliyah. Nabi kemudian melakukan hijrah (ber-pindah) ke Madinah, sebagai strategi dakwah untuk membangun kembali peradaban umat yang lebih baik.

Momentum Evaluasi

Memasuki tahun baru Hijriah 1437 saat ini, menjadi momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi diri dalam konteks berbangsa dan bernegara. Bagaimana memaknai peristiwa hijrah yang mengandung pesan ‘revolusi mental’ yang luar biasa. Revolusi mental tentu tidak hanya sebatas retorika, melainkan ada tindakan nyata. Inilah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dengan melakukan gerakan hijrah dalam rangka mengubah peradaban umat yang dilanda jahiliyah menjadi umat yang memiliki peradaban luhur.

Lalu apa relevansi hijrah saat ini dengan wacana ‘revolusi mental’yang dikampanyekan Presiden Jokowi dalam membangun bangsa ke depan. Tentu sangat luhur dan mulia niat baik yang disampaikan Presiden Jokowi tentang ‘revolusi mental’ kalau diaktulisasikan secara sungguh-sungguh.

Sebagai wujud rasa cintanya pada bangsa dan negara ini memang harus dilakukan ‘revolusi mental’agar kekayaan alam Bangsa Indonesia yang luar biasa ini bisa dikelola dengan baik dan bisa memberi kesejahteraan kepada seluruh masyarakat. Saat ini Indonesia dilanda penyakit korupsi yang luar biasa. Uang negara banyak dirampok oleh para koruptor, sehingga membuat rakyat yang menderita. Demikian pula dengan perusakan lingkungan, pembakaran hutan, lemahnya penegakan hukum dan berbagi tindakan jahat lainnya yang terjadi saat ini, harus dihadapi dengan revolusi mental.

Ketika bertekat Jokowi untuk melakukan revolusi mental di tanah air, dengan memberantas praktik korupsi yang sudah sangat parah, perusakan lingkungan, pembakaran hutan, ketidakadilan, tentu menghadapi tantangan yang luar biasa. Kekuatan koruptor di negeri ini sudah sangat rapi dan sistematis di semua lini. Mereka bisa mengacaukan ‘revolusi mental’yang digagas Jokowi. Kekuatan koruptor yang ada di semua lini tampaknya saat ini melakukan gerakan yang luar biasa dengan berbagai cara termasuk dengan pelemahan KPK.

Niat Baik Jokowi

Momentum peringatan tahun baru hijrah ini tentu sangat relevan dengan memberikan dukungan nyata pada niat baik Jokowi dalam mewujudkan revolusi mental. Rakyat harus bersatu padu mewujudkan revolusi mental, dengan melawan berbagai kerusakan moral yang terjadi saat ini. Terutama penyakit korupsi yang sudah mencapai titik nadir, tidak bias tidak harus dilawan dengan revolusi mental.

Niat baik Jokowi melalui revolusi mental akhirnya akan menjadi pepesan kosong manakala kekuatan koruptor tidak bisa dikalahkan. Namun manakala rakyat bersatu padu melawan koruptor, niat baik Jokowi dalam merealisasikan revolusi mental akan menghasilkan perubahan nyata dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Esensi hijrah sebagai usaha untuk membuat perubahan besar pun akan segera terwujud. Dengan munculnya keadilan, kejujuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

OPINI Kedaulatan Rakyat, SELASA KLIWON, 13 OKTOBER 2015

Related Post

 

Tags: