Prof Dr Faisal Ismail MA, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga.

INDONESIA merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa pluralistik yang memiliki keragaman etnis, bahasa, tradisi, kesenian, kebudayaan dan agama. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnis dengan identitas budayanya masing-masing dan terdapat lebih dari 250 bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakat. Agama besar seperti Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu dipeluk oleh komunitas agama masing-masing. Selain itu, terdapat agama/kepercayaan lokal yang dipeluk etnis setempat seperti agama Kaharingan di Kalimantan tengah. Kemajemukan Bangsa Indonesia diekspresikan melalui moto nasionalnya yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika.

Ide nasionalisme (satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa: Indonesia) dicetuskan dalam Kongres Pemuda ke-2 tanggal 28 Oktober 1928. Jadi solusi terhadap keragaman bahasa daerah adalah disepakatinya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, komunikasi antaretnis bisa dilakukan dan kita dapat saling memahami satu sama lain.

Solusi terhadap kemajemukan Bangsa Indonesia adalah disepakatinya Pancasila sebagai dasar falsafah negara dan ideologi nasional. Pancasila sebagai dasar negara diusulkan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI dan dideklarasikan secara resmi sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945. Dengan menggunakan Pancasila sebagai dasar negara, ideologi nasional dan falsafah hidup bangsa, maka bangsa Indonesia bisa hidup rukun dan bersatu dalam NKRI. Dengan diterapkannya Pancasila sebagai dasar negara (sila pertama adalah Ketuhanan YME), negara Indonesia adalah bukan negara teokrasi dan bukan pula negara sekuler.

***

SOLUSI terhadap pluralitas komunitas agama dan hubungan antarumat beragama di Indonesia adalah disepakatinya Pancasila sebagai platform bersama kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan. Dengan disepakatinya Pancasila sebagai platform kebangsaan dan kemasyarakatan, maka semua komunitas agama di Indonesia dapat hidup rukun, damai, toleran dan harmonis. Dalam hal ini, Pancasila tidak mengatur hal-hal yang bersifat akidah, ibadah dan ritual keagamaan yang diajarkan oleh masing-masing agama. Karena akidah, ibadah dan ritual keagamaan merupakan ranah Ilahiah yang tidak dapat dicampuri dan diatur oleh regulasi yang bersifat duniawiah.

Sesuai ketentuan UUD 1945 pasal 29 ayat (2), Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Jadi Negara menjamin kebebasan beragama dan beribadat bagi setiap warga negara. Dalam hal hubungan antarumat beragama, negara/pemerintah telah mengeluarkan regulasi untuk menata dan menjaga relasi antarumat beragama agar toleran, rukun dan harmonis. Regulasi terakhir yang mengatur hubungan antarumat beragama adalah Peraturan Bersama Menag dan Mendagri No 9 dan No 8 tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah/wakil kepala daerah dalam memelihara kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat.

Konstitusi dan regulasi sebagai payung hukum yang mengatur dan memelihara hubungan antarumat beragama di Republik ini rasanya sudah memadai, bahkan sudah baik. Jika ada kekurangan atau kelemahan, hal itu terkait dengan hal-hal teknis di lapangan. Konflik-konflik komunal yang bernuansa agama seperti pernah terjadi di Ambon dan Poso (terakhir di Tolikara) hendaknya menjadi pembelajaran agar konflik serupa itu tidak terjadi lagi di masa depan. Kerukunan antarumat beragama merupakan basis penting bagi kukuhnya kerukunan nasional. Kita yakin setiap agama (yang dipercaya sebagai ajaran yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Baik) tidak mengajarkan perseteruan, permusuhan dan konflik. Setiap agama tentu mengajarkan perdamaian, toleransi, harmoni dan kerukunan. Bagi Bangsa Indonesia, Pancasila merupakan platform ideal, kuat dan mampu merukunan antarumat beragama menuju kehidupan yang damai, toleran dan harmonis.

Opini Kedaulatan Rakyat, KAMIS KLIWON, 8 OKTOBER 2015

Related Post

 

Tags: