Mugi R. Halalia

Ahmadun Y. Hervanda dalam tulisannya, “IAIN dalam Konstelasi Kepenyairan Yogya” – sebuah tulisan untuk antologi puisi “Kafilah Angin” (1988) oleh Teater Eska, menyatakan dengan tegas bahwa: “Sejak lama IAIN Sunan Kalijaga sebenarnya memang sudah banyak menunjukkan potensinya sebagai ladang yang subur untuk melahirkan penyair-penyair berbobot. Sejak tahun 1970-an, misalnya, talah lahir dari IAIN penyair-penyair Faisal Ismail, Thoha Masrukh Abdillah, Bachrum Bunyamin, Bisri effendy, Arief Mudatsir, Andy Muarly Sunrawa, Maryani Anwar, Irin Syafrien Effendi UZ, Machasin, Barmawy Munthe, dll.” Pernyataan Ahmadun ini benar-benar membuktikan bahwa sejak tahun-tahun 70-an sampai tahun 80-an telah banyak lahir penyair-penyair dari Kampus Putih. Hal ini sebenarnya dapat ditengok lagi bagaimana lahir dan hadirnya penyair-penyair Yogya (khususnya dari IAIN) pada tahun 60-an.

Generasi penyiar yang disebutkan di atas sempat tidak melahirkan generasi penerus alias mengalami kevakuman dalam waktu yang cukup panjang. Namun menurut Ahmadun Y. Herfanda, kevakuman tersebut segera disusul oleh kemunculan penyiar Ahmad Syubbanuddin Alwy dll pada tahun 1980-an. Lebih lanjut, Ahmadun beranggapan bahwa, “ini semua menunjukkan besarnya sumbangan IAIN Sunan Kalijaga kepada dunia kepenyairan nasional, khususnya kepenyairan Yogya. Karena itu, sebenarnya terlalu bodoh apabila ada kritisi, pengamat atau pemegang kunci konstelasi kepenyairan Yogya yang tidak mau melirik atau menyebut penyair-penyair IAIN Sunan Kalijaga dalam membicarakan perkembangan perpuisian Yogya .”

Dalam konteks kesejarahan tersebut, penting memperhatikan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang melatar belakangi diadakannya Musyawarah Sastra oleh Teater Eska, pada 09 November 2015 lalu. Pertanyaan tersebut diantaranya (1) Apa yang sesungguhnya mendorong mahasiswa IAIN/UIN untuk menulis sastra?; (2) Kondisi sosial macam apa yang melatari praktik kreatif mereka?; dan (3) Bagaimana karya-karya mereka (yang mengambil semangat Islam, misalnya) dibaca, misalnya, terkait persinggungannya dengan rezim pemikiran arus utama yang datang dari Barat?.

Musyawarah Sastra dengan tema “Menyisir Kehidupan Sastra di Lingkungan UIN Sunan Kalijaga” sebagai salah satu tangkai acara Parallel Even #4 Ulant Tahun Teater Eska ke -35 di Gelanggang Teater Eska. Tujuan diselenggarakannya Musyawarah Sastra ini merupakan ikhtiar untuk membuka lagi ruang-ruang dialektika sastra di lingkungan kampus putih. Musyawarah Sastra dihadiri oleh tiga pembicara yang oleh penyelenggara dianggap representatif membicarakan khazanah kesusastraan di Kampus putih. Ketiga pembicara tersebut adalah (1) Faisal Ismail yang mewakili angkatan 60-an sampai angkatan 70-an, (2) Aly D Musyrifa sebagai wakil dari angkatan 80-an sampai angkatan 90-an, dan (3) Badrul Munir Chair, perwakilan penyiar UIN Sunan Kalijaga mutakhir.

Sastra IAIN dalam Kenangan Faisal Ismail
Dalam Musyarawah Sastra yang dikemas layaknya pengajian, Faisal Ismail menyampaikan gambaran umum dari proses kepenyairan dan/atau tradisi proses kreatif di zamannya. Faisal Ismail menyampaikan, dirinya memulai karir sebagai penyair sejak SMA dan berlanjut setelah menjadi mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Kampus Putih IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN). Tatkala Faisal Ismail dalam masa pencarian dan pematangan proses kreatif, Umbu Landu Paranggi seorang penyair humanis asal Sumbawa, mengundang segenap penulis (sastrawan) Yogyakarta untuk hadir ke PSK (Persada Studi Klub), lewat Koran Pelopor. Setelah membaca undangan umum tersebut, Faisal Ismail hadir dan aktif berproses di PSK yang dipelopori dan dibimbing langsung oleh Umbu.

Keaktifan Faisal Ismail di PSK pada tahun 1966 hingga awal tahun 70-an. “Saya aktif di PSK kurang lebih lima tahun,” kenang Faisal Ismail bercerita pada audien Musyawarah Sastra tadi malam di Gelanggan Eska. Selama aktif di PSK, Faisal Ismail banyak berkawan dengan rekan-rekan seniman dari lintas agama, etnis, kultus, dan kampus di sepanjang jl. Malionoro, tepatnya di depan kantor redaksi Koran Pelopor.

Tradisi diskusi, bertukar pengalaman proses, dan pengadilan sastra berjalan harmonis dengan progresifitas yang tinggi waktu itu. Setiap minggunya, masing-masing penulis (sastrawan) mendapat giliran untuk berbicara di PSK. Tempat orang-orang PSK berkumpul dan diskusi tidak melulu di depan Kantor Koran Pelopor tetapi nomaden juga, alias pindah-pindah dari satu rumah anggota PSK yang satu ke rumah anggota PSK yang lain. “Kami berkumpul dan berdiskusi kadang di rumah keluarga Imam Budi Santosa,” demikian ungkap Faisal Ismail.

Faisal Ismail banyak bertemu dan berkenalan dengan banyak seniman-seniman besar seperti Darmanto Jatman (yangterkenal dengan cerpennya “Langit Makin Mendung” yang kontroversial), Abdul Hadi WM, Kuntowijoyo, dan lain sebagainya. Selain itu, Faisal Ismail memberikan catatan penting dalam Musyawarah Sastra tadi malam bahwa, penyair-penyair yang lahir dari kampus putih diantaranya Syub’ah Asa (yangkemudian aktid di Bengkel Teater Rendra), Abdul Karim Husain – mahasiswa Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga (Abdul Karim Husain ini merupakan Novelis, Cerpenis dan Esais yang menulis skripsi tentang “Langit Mekin Mendung” karya Ki Panji Kusmin), Abbas Sani, Slamet Efendi Yusuf (Aktifis PMII), Toha Masrukh Abdillah, Arief Mudatsir, dan lain-lain.

Faisal Ismail bersama anggota PSK yang lain benar-benar ditempa oleh Umbu. “Di PSK, kami di ajak ke pantai Parangtritis oleh Umbu. Di Parangtritis kami diajari untuk menangkap moment-moment puitik ,” Faisal menerangkan. Pada masa Faisal Ismail berproses, bentuk karya sastra yang kerap diperbincangkan adalah bentuk puisi yang kontemplatif, ekspresif, dan puisi alam. Sedangkan karya-karya puisi Faisal Ismail sendiri termaktub dalam antologi “Nyanyian Musim” dan “Ting Tong”. Selain itu juga banyak dimuat di berbagai majalah seperti Majalah Muhibbah (UI), Koran Pelopor, dan lain sebagainya.

Setelah lima tahun berproses di PSK, Faisal Ismail memutuskan untuk menjalani karir akademisinya. Sampai ia di daulat menjadi Guru Besar di UIN Sunan Kalijaga, sempat menjadi Dekan Fakultas Dakwah, Menjadi Kepala Dubes RI untuk Kuwait, dan lain-lain. Faisal Ismail mengakui bahsa dalam masa pengabdiannya tersebut, keinginan untuk menulis memang ada namun belum bisa menuliskannya. Baru setelah masa pengabdiannya selesai, Faisal kembali menulis dan telah menerbitkan antologi puisi tunggal yaitu “Kultus” yang terbit tahun 2015 ini. “Saya bisa menjadi guru besar, bisa menjadi Dubes, karena saya memulai karir di bidang sastra puisi di IAIN dan utamanya di PSK,” terang Faisal Ismail sambil mengenang masa-masa di mana ia berproses di tahun 60-an sampai awal tahun 70-an.

Napak Tilas Sastra Kampus Putih
Terakhir, Faisal Ismail juga sempat menyampaikan, bahwa kampus putih IAIN Sunan Kalijaga, sempat direncanakan akan dijadikan sebagai kampus atau lembaga seni budaya. Akan tetapi belum terjadi sampai sekarang. Hal ini seirama denga pandangan Ahmadun Y. Herfanda dalam tulisan yang sama bahwa, “dalam dasawarsa 1980-an, barangkali, tidak ada perguruan tinggi yang begitu banyak melahirkan penyair, kecuali IAIN Sunan Kalijaga Yogya. Dalam dekade tersebut tidak kurang dari 15 penyair lahir dari kampus yang terletak di tepi kali Gajah Wong itu.”

“Sejumlah antologi puisi juga telah lahir di kampus religius tersebut. Sebut saja, misalnya, Tanah Kelahiran pada pertengahan tahun 1970-an yang sempat mengorbitkan penyair Thoha Masrukh Abdillah. Kemudian Ting Tong (1979), Sangkakala (1988), dan Episode Penghabisan (1988) dan sekarang ini lahir antologi Kafilah Angin,” lanjut Ahmadun Y. Herfanda, dalam tulisannya “Penyair IAIN dalam Konstelasi Kepenyairan Yogya”. Jika ditelaah lebih jauh, hadirnya penyair-penyair di Kampus Putih dengan beberapa antologi puisi yang diterbitkan ini, menunjukkan betapa kegelisahan masing-masing penyair yang belajar di Kampus Putih begitu kuat, besar, dan beragaman.

Jadi, ketiga pertanyaan yang dilontarkan ke publik oleh Teater Eska, sedikit banyak telah terjawab oleh cerita pengalaman proses kreatif Faisal Ismail. Sebab untuk menjawab pertanyaan pertama di atas, sebenarnya dapat dijawab oleh masing-masing penulis (sastrawan) di setiap angkatan di Kampus Putih khususnya dan di Yogyakarta secara umum. Hemat saya mengatakan, perihal motivasi diri penyair menulis puisi tidak lain dan tidak bukan, lantaran panggilan untuk menulis dan adanya kegelisahan yang tidak bisa dibendung dan tidak bisa ditaklukkan kecuali dengan menuliskannya menjadi puisi. Sejalan dengan pendapat Faisal Ismail bahwa, pendorong lahirnya penulis di IAIN/UIN karena alasan yang sangat pribadi dan tentu saja ada keterkaitannya dengan situasi di lingkungan mereka hidup.

Pertanyaan kedua, dapat dijawab dengan adanya tradisi berkomunitas, berkawan, dan berdiskusi yang kuat di Yogykarta secara umum dan di IAIN/UIN secara khusus. Tradisi yang kuat tersebut telah berlangsung sejak tahun 60-an hingga sekarang. Walau pun di masa ini, tradisi yang semacam itu sudah mulai luntur. Tetapi, masih bisa digalakkan kembali. Salah satunya dengan adanya Musyawarah Sastra pada senin malam (09/11) lalu.

Terlepas dari merosotnya tradisi diskusi yang menyebabkan berkurangnya bobot kepenyairan di kampus putih, penyair-penyair muda masih terus lahir dari Kampus Putih. Pagar tembok yang tinggi tidak menyurutkan laku-laku kepenyairan di Kampus Putih. Sedikit penelitian yang dilakukan oleh penulis di halaman sastra minggu khususnya di koran-koran Yogyakarta seperti, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, dan Merapi Pembaruan, tidak sedikit dari penulis lahir dari Kampus Putih.

http://pilihanrakyatnews.blogspot.co.id/2015/11/faisal-ismail-dan-napak-tilas-sastra.html

Related Post

 

Tags: