Alimatul Qibtiyah Ihwal Republika Jateng DIY, 26 November 2015

Alimatul Qibtiyah Ihwal Republika Jateng DIY, 26 November 2015

Keluarga menjadi harta yang paling berharga bagi Alimatul Qibtiyah. Di tengah kesibukan
pekerjaannya, ia pun harus pintar membagi waktu agar tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Saat ini Alimatul menjadi dosen sekaligus wakil dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia pun aktif di Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA). Namun, sesibuk apapun, ibu tiga anak ini selalu berupaya meluangkan waktu bagi buah
hatinya. “Kalau sudah di kampus dari jam 6:15 (WIB) sampai jam lima sore kan sudah enggak bisa kemana-mana. Kalau ada waktu lowong, paling sering saya ngajak anak-anak renang,” ujar dia, di ruang kerjanya, belum lama ini.

Dalam urusan rumah tangga ini, Alimatul melihat peran besar suaminya, Susanto. Dalam mengambil keputusan, ibu yang sempat mengenyam pendidikan di Australia dan Amerika Serikat ini selalu mendiskusikan dengan pendamping hidupnya itu, termasuk soal karier. Hingga suami Alimatul pun rela meninggalkan pekerjaannya. “Suami mau resign dari (perusahaan) minyak, kemudian ikut saya ke Australia saat itu. Setelah dari Australia, kita obrolkan lagi, dan kita mantapkan di Arafah tahun lalu waktu haji. Suami saya mau ke minyak lagi tidak? Dan dia memilih tidak dulu,” kata dia.

Dengan posisinya saat ini, Alimatul disibukkan dengan berbagai kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat. Ini tentu menyita waktunya untuk bersama keluarga. Namun, perempuan kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 44 tahun lalu itu, kini bisa berbagi waktu dengan suaminya untuk mengurus anak-anak. “Suami saya memilih untuk lebih banyak bersama anak-anak. Bagi saya, pilihan ini sebenarnya sulit, mengingat masyarakat kita masih patriarkal. Namun, beliau luar biasa menghadapi tantangan yang tidak gampang di masyarakat,” ujar penulis Islam dan Problem Gender di Indonesia (Pustaka Raja: 2003) itu.

Tantangan sosial yang harus dihadapi suami ini memang terlintas dalam benak Alimatul. Lantaran, kini ia berperan mencari nafkah. Namun, bagi dia, hal itu bukanlah masalah mengingat sebelumnya sang suami juga telah banyak berkorban untuk keluarga. Karena itulah, Alimatul menilai, peran bapak rumah tangga ini patut diapresiasi. “Sayang sekali pemerintah kita belum punya program untuk mendorong dan mengapresiasi para bapak yang memilih jadi bapak rumah tangga atau bapak yang memilih untuk banyak bersama anak-anaknya. Kalau di Finlandia, ada program ‘Father Work Award’, yaitu penghargaan pada bapak pekerja yang ikut bertanggung jawab urusan menjaga anak,” ujar dia.

Republika Jateng DIY. Ihwal. Kamis, 26 November 2015

Related Post

 

Tags: