oleh Hamdan Daulay

TINDAKAN teroris menyerang Kota Paris dan menewaskan lebih 150 jiwa serta melukai sekitar 200 orang sungguh sangat biadab. Prahara kemanusiaan yang dilakukan teroris semakin brutal. Dalam waktu yang berdekatan teroris melakukan tindakan brutal di Turki, Beirut, Palestina dan lainnya dengan korban ratusan jiwa.

Rangkaian teror yang terjadi dewasa ini di berbagai tempat sungguh menimbulkan efek luar biasa, sehingga menuai kutukan dari berbagai tokoh dunia. Keprihatinan semakin mendalam tatkala orang yang tak bersalah ikut menanggung beban kebiadaban teror tersebut. Budaya damai dan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya saling menghargai antara sesama tanpa melihat apa pun agama, etnis, bahasa dan warna kulitnya, seakan tercerabut dari akarnya. Lebih keji lagi ketika pelaku teror melakukan pekik takbir dalam aksinya. Suatu tindakan yang justru sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang cinta damai pada sesama.

Umat Islam yang cinta damai ikut menjadi sasaran kecurigaan dan kebencian karena ulah teroris yang salah menafsirkan esensi ajaran Islam. Penggunaan simbol-simbol Islam membuat efeknya semakin runyam dan panjang. Umat Islam yang cinta damai ikut menanggung beban. Bahkan masjid sebagai tempat ibadah yang tenang dan sejuk ikut menjadi sasaran kecurigaan. Kerukunan dan kedamaian yang merupakan dambaan semua pihak menjadi terusik. Padahal sejatinya agama apa pun yang dianut umat manusia selalu mengajarkan kedamaian dan kasih sayang.

Tindakan intoleransi terhadap kelompok lain, karena perbedaan agama dan budaya akan terus marak di tengah masyarakat. Akibat dari tindakan intoleransi tersebut membuat munculnya suasana tidak harmonis, dan bahkan konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain. Tindakan teroris pun akan sulit dipadamkan manakala akar persoalan penyebab kekerasan itu tidak diselesaikan dengan baik.

Ketika penindasan yang kuat pada yang lemah masih terus terjadi, ketika kebencian dan permusuhan masih terus terjadi. Ketika provokasi dan berita bohong masih terus disebarkan, maka tindakan teroris pun akan sulit dihindari. Kasus-kasus intoleransi tersebut kalau tidak segera diatasi dengan baik, akan bisa menjadi ‘bom waktu’ yang akan mengoyak kerukunan di tengah masyarakat. Tindakan dan kebijakan politik yang tak adil dari ‘negara kuat’ kepada ‘negara lemah’ akan membuat terorisme semakin subur. Kekejaman yang dilakukan negara-negara Barat di Suriah, Irak, Afganistan, Yaman, dan Palestina, telah menimbulkan tragedi kemanusiaan. Akhirnya ikut andil dalam melahirkan teroris yang semakin menakutkan.

Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur. Masyarakat yang menghargai nilai-nilai budaya tidak akan terjebak pada konflik, karena bagi masyarakat yang berbudaya dan beragama, perbedaan adalah suatu keindahan yang harus dipelihara dengan baik. Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia. Manusia (masyarakat) dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan, karena keduanya merupakan suatu jalinan yang saling erat berkait. Kebudayaan tidak akan ada tanpa ada masyarakat.

Tragedi Paris dan juga kebiadaban teroris di berbagai tempat tidak hanya  membuat dunia menangis dan meninggalkan duka yang mendalam. Tindakan teroris ini juga telah merusak nilai-nilai peradaban dan nilai-nilai kemanusian yang luhur. Kehidupan yang damai, sejuk dan saling mengasihi kini terusik dengan tindakan biadab teroris.

Apa sesungguhnya yang salah dalam peradaban dunia saat ini, dan mengapa teroris melakukan tindakan brutal pada manusia yang tak berdosa? Barangkali peradaban manusia saat ini sudah masuk lingkaran setan yang sangat keji dan memilukan. Kekejaman dan kekejian negara-negara Barat di Irak, Suriah, Afganistan, Yaman, dan Palestina, barangkali merupakan bara panas yang ikut andil membesarkan teroris.

Atas nama kemanusiaan tentu semua tindakan terorisme harus diakhiri. Baik terorisme yang dilakukan kelompok kecil maupun terorisme yang dilakukan oleh negara kuat kepada negara lemah.

dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin, 16 November 2015

Related Post

 

Tags: