Faisal Ismail
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dalam kamus The Random House Dictionary of the English Language (edisi kedua, New York, 1987, hlm. 1960), terrorism (bahasa Indonesia: terorisme) didefinisikan sebagai (1) the use of violence and threats to intimidate or coerce, especially for political purpose; (2) the state of fear and submission produced by terrorism or terrorization.

Jadi yang dimaksud terorisme adalah (1) penggunaan kekerasan dan ancaman untuk mengintimidasi atau memaksakan kehendak, khususnya untuk tujuan dan kepentingan politik; (2) perasaan takut, tunduk dan takluk yang timbul dan diciptakan oleh terorisme atau terorisasi (peneroran). Definisi ini sangat tepat diterapkan kepada tindakan yang dilakukan oleh kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Terorisme sangat terkait erat dengan ekstremisme dan radikalisme. Kelompok teroris sudah pasti merupakan kelompok ekstrem dan radikal. Dengan kata lain, kelompok teroris dalam melancarkan aksinya terhadap lawan-lawan atau musuh-musuhnya menggunakan cara-cara yang sangat ekstrem dan radikal untuk mencapai tujuan politik mereka. Terorisme, ekstremisme, dan radikalisme menjadi ciri khas dan watak kelompok ini.

November Kelam

Dua aksi teror yang sangat mengguncang, mencekam, dan mengerikan terjadi dalam rentang waktu yang tidak lama pada bulan November ini. November tahun ini merupakan bulan yang sangat kelam dan kelabu bagi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika kemanusiaan dan keadaban. Aksi teror pertama terjadi di enam titik lokasi di Paris, Prancis pada 11 November 2015 yang menewaskan lebih dari 128 orang dan ratusan orang terluka.

Orang-orang yang mengalami luka berat, serius, dan kritis akhirnya meninggal dunia sehingga menambah jumlah korban yang tewas. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas aksi dan serangan teror di Paris itu. ISIS berdalih bahwa serangannya itu dilancarkan sebagai balas dendam terhadap kebijakan politik dan militer Prancis di Suriah. Aksi teror di Paris dirancang secara matang dan rapi sehingga tepat sasaran dan menimbulkan banyak korban.

Presiden Prancis Francois Hollande, sejumlah kepalanegara (termasuk Presiden Indonesia Joko Widodo) dan masyarakat internasional mengutuk keras serangan teroris ISIS yang telah menewaskan orang-orang yang tidak berdosa itu. Sebagai respons terhadap serangan ISIS itu, militer Prancis menggempur pusat-pusat latihan militer ISIS di Raqqa, Suriah, yang mengakibatkan kerusakan yang sangat berat.

Tersangka dalang teror Paris, Abdelhamid Abaaoud, tewas ditembak oleh polisi di Belgia dalam suatu penggerebekan. Tersangka utama dalang teror Paris lainnya, yaitu Salah Abdeslam, sampai sekarang masih buron dan terus diburu oleh polisi Belgia. Menyusul tragedi Paris ini, aksi teroris kedua terjadi pada 20 November 2015 di Radisson Blu Hotel, sebuah hotel mewah di Bamako (ibu kota Mali), yang sedang dipenuhi oleh warga negara asing yang tinggal di hotel itu.

Kaum teroris menyandera 170 orang dan kemudian menewaskan 27 orang di hotel itu. Sementara ini pasukan khusus Mali berhasil membebaskan 80 orang yang disandera oleh kelompok teroris, dan mereka berupaya keras untuk segera melumpuhkan para teroris itu agar korban tidak semakin bertambah. Sebulan sebelumnya (10 Oktober 2015), aksi teror mengguncang Turki yang secara tragis menewaskan 102 orang dan melukai sedikitnya 502 orang.

Pelakunya diidentifikasi sebagai anggota ISIS. Teror bom ini diduga merupakan bagian dari konflik kelompok radikal Daesh (nama ini diklaim oleh kelompok ISIS sebagai nama asli mereka) melawan pemerintah Turki.

Pengalaman Indonesia

Aksi teror yang menelan banyak korban tewas dan lukaluka di Turki, Paris, dan Mali itu mengingatkan kita pada aksi teror bom Bali yang dilakukan oleh kelompok teroris pada 2002. Dalam peristiwa berdarah ini, 202 orang tewas dan 209 lukaluka/ cedera. Kebanyakan korban yang tewas adalah para turis dari Australia yang sedang menikmati liburan mereka di Pulau Dewata itu.

Ada juga sebagian dari korban yang tewas itu adalah orang Indonesia. Para pelaku bom Bali telah menjalani sidang pengadilan dan mereka telah dijatuhi hukuman mati. Pelaku Bom Bali juga telah dieksekusi mati beberapa tahun yang lalu sebagai komitmen pemerintah untuk memberantas terorisme di negeri ini. Kesedihan, rasa iba, dan duka nestapa yang dialami oleh Turki, Prancis, Mali dan negaranegara lain yang menjadi target terorisme dirasakan dan dialami juga oleh masyarakat Indonesia.

Sama seperti masyarakat Turki, Prancis, Mali, dan negara-negara lain yang menjadi sasaran terorisme, masyarakat Indonesia merasakan dan berbagi perasaan duka mendalam yang sama dengan mereka. Dalam konteks ini, dapat dipahami kalau Presiden Joko Widodo sebagai pemimpin bangsa Indonesia mengutuk keras aksi teror di Paris itu.

Bukan Representasi Agama

Terorisme tidak bersumber dan tidak berakar dari ajaran agama (Islam). Tidak ada satu ayat pun dalam Alquran yang mengajarkan dan menyuruh pemeluknya untuk menjadi teroris dan membunuh orang lain tanpa hak. Juga, tidak ada satu hadis pun dari Nabi Muhammad yang mengajarkan dan menyerukan kepada pengikutnya untuk menjadi teroris.

Terorisme sama sekali tidak ada kaitan dengan agama (apa pun nama agama itu) karena agama yang dipercayai dan diyakini dari Tuhan itu sudah pasti mengajarkan nilainilai kebaikan, kerukunan, toleransi, tolong-menolong, cinta dan kasih sayang. Kelompok teroris hanya menggunakan dan mengatasnamakan agama dalam menjustifikasi tindakan dan aksi teror mereka.

Kelompok teroris menjustifikasi dan menyucikan tindakan dan aksi teror mereka atas nama agama. Pesan, visi dan misi suci agama telah disalahpahami dan disalahgunakan oleh kelompok teroris demi membenarkan tindakan dan aksi teror mereka. Upaya-upaya deradikalisasi harus selalu kita lakukan dengan cara mendidik dan menanamkan pengertian terutama kepada generasi muda bahwa setiap tindakan teror adalah bertentangan dengan nilai-nilai suci agama mana pun.

Bangsa Indonesia bersama masyarakat internasional harus terus melawan ancaman terorisme global. Terorisme adalah musuh bersama yang harus diberantas.

Dimuat Koran Sindo, 24 November 2015

Related Post

 

Tags: