Profesor M. Amin Abdullah menyebutkan ada tiga faktor penyebab konflik sosial keagamaan di ruang publik Indonesia dalam kesempatan Dakwah Annual Conference 2015 hari ini, di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga.

“Ada faktor endogenous, exogenous, dan saling keterkaitan,” terang Profesor Amin Abdullah.

Faktor endogenous, menurut Amin Abdullah, seperti pemahaman agama yang sempit, narrow mindedness. Hal ini menumbuhkan fanatisme agama. Lalu, formalisme agama. Dan, sekte-sekte.

“Kalau di Indonesia lebih pada organisasi-organisasi,” kata Amin Abdullah.

Amin Abdullah bercerita mengenai sebuah acara yang dihadirinya di Malang beberapa waktu lalu. Pertemuan ini membahas mengenai damai agama. Sama seperti Dacon saat ini.
Nah, di acara tersebut Amin menekankan kalau ingin damai, ya tentunya harus dimulai dari kebiasaan di internal. “Seperti ketuanya tadi, salamnya bercorak thoifiyah dan madzhabiyah,” kata Amin,”dia langsung kabur…”

Faktor exogenous meliputi isu-isu global, ketidakadilan sosial politik dan ketimpangan ekonomi, sikap dan kebijakan diskriminatif, hubungan mayoritas dan minoritas, dan perbedaan kepentingan (interest).

Faktor relasional seperti: pembangunan rumah ibadah, dakwah/missionaris keagamaan, bantuan asing, perkawinan antar agama, penghinaan agama, upacara hari besar keagamaan, mobilitas penduduk, dan eksklusifitas etnis.

“Pembangunan rumah ibadah seperti yang terjadi di Singkili, upacara hari besar keagamaan seperti yang terjadi di Tolikara beberapa waktu lalu,” ujar Amin Abdullah.[]