Ulasan Kultus Faisal Ismail 2015

Ulasan Kultus Faisal Ismail 2015

oleh Otto Sukatno CR

PSK (Persada Study Klub), adalah legenda sastra Yogyakarta. Seperti Pantai Parangkusuma, Kandang Menjangan, Kraton, Malioboro, Pasar Kembang, Tugu dan Merapi yang inhern bagi masyarakat Yogyakarta. Dan orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya-Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, Faisal Ismail, Emha Ainun Nadjib, Teguh Ranu Sastra Asmara, Slamet Riyadi Sabrawi, Kusnin Asa, Achmad Munif, Supamo S Adhy, Suwamo Pragolopati, Jihad Hisyam, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi Ag, Miska M Amin hingga Budi Ismanto SA-meskipun tidak semuanya tumbuh besar di dunia sastra adalah juga legenda.

Prof Dr Kusnin Asa misal, guru besar alumni Leiden Belanda itu, kariernya dibaktikan sebagai arkeolog dan peneliti senior di Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas) Jakarta. Demikian pula Prof Dr Faisal Ismail, yang pernah menjadi dosen dan Dekan Fakultas Dakwah, Direktur Pascasarjana (IAIN/UIN) Sunan Kalijaga, selanjutnya Kepala Litbang Departemen Agama Pusat, Sekretaris Jendral dan Staf Ahli Menteri Agama, kemudian Duta Besar RI untuk Kuwait dan kerajaan Bahrain dan kini menjadi guru besar di almamaternya.

Tetapi kebesaran nama Faisal Ismail- dalam bidang sastra- tidak bisa dilepaskan dari PSK Sastra dan PSK-lah sesungguhnya yang mengkultuskannya. Meski menempati posisi dan jabatan struktural strategis di pemerintahan, Faisal Ismail tetap memilih jalan kepenyairan. Status yang tidak ada (lembaga formal) yang mentahbiskan, kecuali “masyarakat budaya” dan (grand design takdir) Tuhan.

Mengambil analog Kitab Bagavadgita, kepenyairan adalah “jalan jiwa”, jalan pengetahuan dan jalan pencerahan. Sedang profesi dan jabatan adalah “jalan kerja”, yang dibatasi keruangan dan kewaktuan. Terbukti Faisal Ismail bangga menjadi “penyair” ketimbang posisi dan jabatan yang pemah diembannya. Sehingga di hari tuanya, ia dengan bangga meluncurkan Kultus; Kumpulan Puisi, terbitan SUKA-Press 2015, yang memuat 40 puisi-puisi terbarunya.

Yang menarik dari kehadiran Kultus ini- jika puisi merupakan wahana pengungkapan, peruangan dan pelepasan masalah-masalah neurotic (kejiwaan) seseorang, sebagai penyair Faisal Ismail sudah tidak lagi direcoki hal-hal yang verbal (wadag). Seperti teknik, bentuk, bahkan estetik.

Sebagai seorang yang lama berkecimpung di dunia kepenyairan, hidupnya sudah mapan, secara kejiwaan sudah matang. Atau sebagaimana diungkap oleh Abraham Maslow (Frank G. Goble;1987;50) sebagai orang yang telah “teraktualisasikan dirinya” atau “menjadi manusia secara penuh”, dalam Kultus, Faisal telah lebih mengedepankan isi (esensi) ketimbang bentuk (wadag).

Karena tujuan dasar dan esensial perjalanan setiap jiwa (manusia), bukanlah mencari atau mencapai bentuk wadag/fisyk, tetapi ketercerahan jiwa. Dalam terminology sufisme, mencapai mukasyafah dan musyahadah, lenyapnya kesadaran tentang lingkungan, bentuk dan atau wagad duniawi yang fana, selanjutnya memasuki pengalaman atau maqam hakekat dan makrifat (menyatu/Manunggaling Kawula Gusti).

Perjalanan jiwa Faisal Ismail demikian terasa dalam puisi-puisinya. Dimulai penghayatan syariat: “Ritusku kepada-Mu adalah ritus Ilahiah/ Ritus yang bersumber dari ajaran ubudiah/ Ritus yang merujuk pada tatanan sunnatullah/ Ritus Qur’aniah yang dituntunkan Rasulullah/ Yang membukakan relung nuraniku cerah/ Yang menggarami hidup dan matiku pasrah/ Di tangan-Mu semata ya Allah//… Zikirku adalah zikir yang tiada henti/ Zikir di sudut masjid dan di musholla kecil yang sunyi Zikir sepanjang perjalanan yang jauh/ Mengingat zat dan asma-Mu tanpa keluh/ Zikir di relung hati dan kalbu yang penuh/ Menyatu dalam shalat tahajudku menjelang Subuh Sampai lidahku tersepuh/ Sampai jiwaku tersentuh/ Sampai rohku berlabuh/ Di pelabuhan cintamu yang sejuk dan teduh//…” (Kultus;4-5).

Selanjutnya mendapatkan pemahaman hakekat:”Tuhan terbaca dalam syahadat/ Tertera dari ayat ke ayat/ Tersebut dari juz pertama hingga tamat/ Dialah Penguasa hari kiamat// Tuhan terpancar dari isyarat/ Menebar tanda-tanda ilahiyat/ Pada makhluk seluruh jagat/ Sang penguasa timur dan barat// Tuhan terucap dalam shalat/ Menjabat para hamba yang taat/ Di setiap ruku’ dan raka’at/ Di setiap gerak dan tahyat// Tuhan sangat dekat/ Di lubuk hati yang bermunajat/ Menadah anugrah berjuta rahinat Berkah melimpah di dunia dan akhirat/ Tuhan sangat dekat di muka kiblat/ Menguak makna makrifat dan hakekat/ Menabur segala hikmat dan nikmat/ Menerima segala taubat//” (Tuhan Sangat Dekat., 7-8).

Muaranya mencapai makrifat, seperti “perindu” telah bertemu dengan wajah “keagungan” kekasih, atau pecinta, sedang menjalani dan meritualisasi prosesi “percintaannya”; “aku kembang kau kembang/ aku gendang kau terbang/ aku terbang kau gendang/ bersenyawa tak terpisahkan/ dalam pantun cinta sepasang insan//” (Malioboro, 63-64).

Membaca Kultus ini tampak nyata puisi adalah proses aktualisasi diri peruangan kejiwaan (neurotic) penyair. Proses perkembangan atau penemuan jati diri dan mekarnya potensi yang ada atau yang terpendam dalam jiwa. Dan perjalanan “kepenyairan” Faisal Ismail, yang sedemikian lama dan matang, dimulai sejak bergaul dengan PSK hingga menerbitkan antologi Obsesi (1983), juga dimuat dalam antologi puisi “Nyanyian Musim, Tugu dan Tonggak” yang melegenda dalam sejarah sastra Yogyakarta (Indonesia), wajar jika dalam Kultus ini puisi-puisi Faisal Ismail sudah tidak meledak-ledak seperti anak muda yang sedang dalam proses mencari jati diri.

Tetapi sudah mengalami pengendapan (menep). Semakin dewasa atau semakin tua seorang penyair, meski memiliki kematangan olah teknis, ia justru tak lagi direcoki masalah bentuk dan olah teknik. Wajar, jika puisi-puisi Kultus ini tampak sederhana, lugu, lugas tetapi bernas. Ubahnya puisi-puisi esensial yang menekan isi, visi dan missi, ketimbang bentuk dan system estetik. Karena sebagai orang dewasa yang sudah bisa melihat hidup secara jernih, apa adanya dan tidak menurutkan keinginan emosi, tetapi lebih obyektif dalam melihat kenyataan, biasanya hidupnya telah harmonis dan memandang permasalahan secara rasional, menyatu, sederhana, lugas dan tidak neka-neka.

Sebagai ekspresi nerorotik kehadiran Kultus, hanya semakin menegaskan sebagai puncak jiwa dan spiritualitas (mahhabah dan makrifah) Faisal Ismail, atas jalan penghambaan dan kekhalifahan hidupnya.- o

(Otto Sukatno CR; Penyair, Mengajar di Fak Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta).

Koran Merapi Pembaruan, Minggu Pahing 29 November 2015

Related Post

 

Tags: