Musyawarah Sastra dengan tema “Menyisir Kehidupan Sastra di Lingkungan UIN Sunan Kalijaga” sebagai salah satu tangkai acara Parallel Even #4 Ulant Tahun Teater Eska ke-35, berlangsung lancar tadi malam (09/11) di Gelanggang Teater Eska. Motivasi Teater Eska sendiri sebagaimana di sampaikan oleh Shohifur Ridho Ilahi ialah, “lantaran setiap pertunjukan teater atau musik yang digarap Teater Eska memiliki fondasi kuat yaitu sastra (puisi).”

Ketiga pembicara yang oleh penyelenggara dianggap representatif membicarakan khazanah kesusastraan di kampus putih, hadir dan berbicara menurut pengalaman pribadi mereka. Ketiga pembicara tersebut adalah (1) Faisal Ismail yang mewakili angkatan 60-an sampai angkatan 70-an, (2) Aly D Musyrifa sebagai wakil dari angkatan 80-an sampai angkatan 90-an, dan (3) Badrul Munir Chair sebagai salah satu penyair angkatan 2008 yang berbicara perihal situasi dan kondisi kesusastraan di Kampus Putih sejak di tahun ia berproses.

Dalam Musyarawah Sastra yang dikemas seperti pengajian, Faisal Ismail diperisilah menyampaikan gambaran umum dari proses kepenyairan dan/atau tradisi literasi di zamannya. Faisal Ismail – Penyair yang kemudian menjadi Guru Besar di Kampus putih ini – ketika menjadi siswa, aktif menulis puisi (sempat menulis 2 judul cerpen) di majalah dinding di sekolahnya waktu itu. Puisi-puisi yang dipasang di Mading sekolah ditulis tangan di atas kertas folio. “Waktu itu saya tidak punya mesin tik, saya tulis di kertas kemudian saya tempel di majalah dinding,” Faisal Ismail mengenang masa-masa awal menulis puisi.

Proses kreatif Faisal Ismail yang lahir di Prenduan Sumenep ini, semakin matang ketika menjadi mahasiswa di Fakultas Tarbiyah Kampus Putih IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN). Tatkala Faisal Ismail dalam masa pencarian dan pematangan proses kreatif, Umbu Landu Paranggi seorang penyair humanis asal Sumbawa, mengundang segenap penulis (sastrawan) Yogyakarta untuk hadir ke PSK (Persada Studi Klub), lewat Koran Pelopor. Setelah membaca undangan umum tersebut, Faisal Ismail hadir dan aktif berproses di PSK yang dipelopori dan dibimbing langsung oleh Umbu.

Keaktifan Faisal Ismail di PSK pada tahun 1966 hingga awal tahun 70-an. “Saya aktif di PSK kurang lebih lima tahun,” kenang Faisal Ismail bercerita pada audien Musyawarah Sastra tadi malam di Gelanggan Eska. Selama aktif di PSK, Faisal Ismail banyak berkawan dengan rekan-rekan seniman dari lintas agama, etnis, kultus, dan kampus di sepanjang jl. Malionoro, tepatnya di depan kantor redaksi Koran Pelopor.

Tradisi diskusi, bertukar pengalaman proses, dan pengadilan sastra berjalan harmonis dengan progresifitas yang tinggu waktu itu. Setiap minggunya, masing-masing penulis (sastrawan) mendapat giliran untuk berbicara di PSK. Tempat orang-orang PSK berkumpul dan diskusi tidak melulu di depan Kantor Koran Pelopor tetapi nomaden juga, alias pindah-pindah dari satu rumah anggota PSK yang satu ke rumah anggota PSK yang lain. “Kami berkumpul dan berdiskusi kadang di rumah keluarga Imam Budi Santosa,” demikian ungkap Faisal Ismail.

Faisal Ismail banyak bertemu dan berkenalan dengan banyak seniman-seniman besar seperti Darmanto Jatman (yangterkenal dengan cerpennya “Langit Makin Mendung” yang kontroversial), Abdul Hadi WM, Kuntowijoyo, dan lain sebagainya. Selain itu, Faisal Ismail memberikan catatan penting dalam Musyawarah Sastra tadi malam bahwa, penyair-penyair yang lahir dari kampus putih diantaranya Syub’ah Asa (yang kemudian aktif di Bengkel Teater Rendra), Abdul Karim Husain – mahasiswa Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga (Abdul Karim Husain ini merupakan Novelis, Cerpenis dan Esais yang menulis skripsi tentang “Langit Makin Mendung” karya Ki Panji Kusmin), Abbas Sani, Slamet Efendi Yusuf (Aktifis PMII), Toha Masrukh Abdillah, Arief Mudatsir, dan lain-lain.

Faisal Ismail bersama anggota PSK yang lain benar-benar ditempa oleh Umbu. “Di PSK, kami di ajak ke pantai Parangtritis oleh Umbu. Di Parangtritis kami diajari untuk menangkap moment-moment puitik ,” Faisal menerangkan.

Pada masa Faisal Ismail berproses, bentuk karya sastra yang kerap diperbincangkan adalah bentuk puisi yang kontemplatif, ekspresif, dan puisi alam. Sedangkan karya-karya puisi Faisal Ismail sendiri termaktub dalam antologi “Nyanyian Musim” dan “Ting Tong”. Selain itu juga banyak dimuat di berbagai majalah seperti Majalah Muhibbah (UI), Koran Pelopor, dan lain sebagainya.

Setelah lima tahun berproses di PSK, Faisal Ismail memutuskan untuk menjalani karir akademisinya. Sampai ia di daulat menjadi Guru Besar di UIN Sunan Kalijaga, sempat menjadi Dekan Fakultas Dakwah, Menjadi Kepala Dubes RI untuk Kuwait, dan lain-lain. Faisal Ismail mengakui bahwa dalam masa pengabdiannya tersebut, keinginan untuk menulis memang ada namun belum bisa menuliskannya. Baru setelah masa pengabdiannya selesai, Faisal kembali menulis dan telah menerbitkan antologi puisi tunggal yaitu “Kultus” yang terbit tahun 2015 ini.

“Saya bisa menjadi guru besar, bisa menjadi Dubes, karena saya memulai karir di bidang sastra puisi di IAIN dan utamanya di PSK,” terang Faisal Ismail sambil mengenang masa-masa di mana ia berproses di tahun 60-an sampai awal tahun 70-an.

Terakhir, Faisal Ismail juga sempat menyampaikan, bahwa kampus putih IAIN Sunan Kalijaga, sempat direncanakan akan dijadikan sebagai kampus atau lembaga seni budaya. Akan tetapi belum terjadi sampai sekarang. (SEL)

http://pilihanrakyatnews.blogspot.co.id/2015/11/riwayat-sastra-di-kampus-putih-dalam.html

Related Post

 

Tags: