Oleh: Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga
Ketika diusung menjadi capres dalam Pilpres 2014 oleh PDIP dan mitra koalisinya, Joko Widodo mengampanyekan perlunya rakyat Indonesia melaksanakan revolusi mental agar sikap mental dan tata pikir rakyat Indonesia berubah ke arah yang (lebih) baik, kreatif, dan produktif.
Gerakan revolusi mental ini terus diserukan oleh Presiden Jokowi sampai sekarang ini. Ada dua kata kunci yang perlu dipahami dari seruan Presiden Jokowi itu yaitu revolusi dan mental. Menurut kamus The Random House Dictionary of the English Language (edisi ke-2, 1987, hlm. 1649), salah satu arti revolusi adalah “a sudden, complete, or marked change in something” (perubahan yang cepat, komplit atau mempunyai nilai dalam suatu hal).
Menurut kamus yang sama, salah satu arti “mental” adalah “of or pertaining to the mind” (tentang atau berkaitan dengan pikiran). Jadi, revolusi mental adalah gerakan cepat, radikal, dan menyeluruh yang bertujuan untuk mengubah sikap mental dan cara berpikir manusia menuju perubahan mental yang (lebih) baik. Mental sangat erat terkait dengan karakter. Mental yang baik akan menampilkan karakter yang baik pula. Dengan demikian, pendidikan mental spiritual sangat terkait dan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karakter.
Revolusi mental sebenarnya bukan merupakan hal baru. Lima belas abad silam Nabi Muhammad telah berhasil menggerakkan revolusi mental secara besar-besaran ketika beliau menegaskan visi dan misi kerasulannya:”Innama buitstu li utammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk mengajarkan, mendidik, dan menyempurnakan akhlak yang mulia).


Pendidikan akhlak yang bertujuan untuk membangun mental yang baik dan membentuk pribadi yang bermartabat, luhur, mulia, dan berkarakter merupakan agenda kenabian dan misi utama Nabi Muhammad dalam melaksanakankarierkerasulannya selama 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Keberhasilan Nabi Muhammad dalam melakukan gerakan revolusi mental mencakup banyak dimensi.
Pertama, Nabi Muhammad dengan revolusi mentalnya berhasil mengubah total kepercayaan politeistik masyarakat Arab Jahiliah menjadi kepercayaan monoteistik (tauhid). Segala praktik kepercayaan paganisme- politeisme yang sangat merajalela dalam kehidupan masyarakat Jahiliah diganti secara total dengan kepercayaan monoteisme.
Dengan kepercayaan yang bersendikan tauhid ini, terbentuklah masyarakat beriman yang beribadah, berakhlak, dan bersyariah sesuai ajaran Allah. Kedua, Muhammad dengan revolusi mentalnya berhasil melenyapkan paham sempit kesukuan (taasub Jahiliah). Sebelum Islam, banyak kabilah Arab yang sangat mengagungkan kabilahnya dan memandang rendah kabilah lainnya.
Kabilahisme dan sukuisme yang begitu dangkal, sempit, dan picik sangat mendominasi alam pikiran mereka. Nabi Muhammad secara masif mela-kukan revolusi mental dan beliau berhasil melenyapkan arogansi dan fanatisme kesukuan itu. Paham sempit dan picik kesukuan diganti dengan paham humanistik keumatan dan paham pluralistik kebangsaan. Ketiga, Nabi Muhammad dengan revolusi mentalnya yang dilakukan secara sistemik berhasil mengajarkan persamaan manusia. Tidak ada perbedaan antara ras Arab dan ras non- Arab.
Begitu sebaliknya, tidak ada perbedaan antara ras non- Arab dan ras Arab. Semua manusia adalah sama harkat, derajat, dan martabatnya di hadapan Tuhan. Keempat, Muhammad dengan terobosan gerakan revolusi mentalnya berhasil melenyapkan perang antarsuku di kalangan masyarakat Arab.
Pada masa pra-Islam, perang antarsuku ini sering terjadi dan berlangsung bertahun-tahun, dibumbui dendam kesumat dan rivalitas kesukuan yang penuh kebencian. Dengan visi kenabian dan misi kenegarawanannya, Muhammad berhasil melenyapkan perang antarsuku ini. Beliau menciptakankedamaiandanmenegakkan perdamaian di kalangan masyarakat Arab di bawah panji-panji ukhuwah Islamiah.
Kelima, Nabi Muhammad dengan revolusimentalnya berhasil mengajarkan dan melaksanakan prinsip-prinsip demokrasi (syura atau permusyawaratan). Permusyawaratan adalah inti sejati demokrasi yang bertujuan untuk bermusyawarah dalam rangka mencari dan menemukan titik temu atau kesepakatan dalam memutuskan suatu perkara.
Wa syawirhum fil amri” (Dan bermusyawarahlah dalam setiap urusan), demikian ajaran Nabi yang dipetik dari Alquran. Demokrasi yang diajarkan oleh Nabi benarbenar menjunjung tinggi dan berpegang teguh kepada kedaulatan Tuhan, bukan sematamata kedaulatan manusia (kedaulatan rakyat). Dengan kata lain, seluruh “kepentingan” Tuhan harus ditempatkan di atas “kepentingan” manusia.
Keenam, Muhammad dengan revolusi mentalnya berhasil mengajarkan dan menegakkan toleransi antarumat beragama. Hal ini dibuktikan oleh Nabi ketika beliau memimpin Negara Madinah. Nabi sepenuhnya memberikan kebebasan beragama kepada komunitas Yahudi dan komunitas Arab nonmuslim untuk menjalankan ajaran agama dan beribadah sesuai agama masing-masing.
Nabi menegaskan, “La ikraha fiddin” (Tidak ada paksaan dalam menganut agama). Tidak diragukan, ajaran Nabi ini merupakan ajaran toleransi yang hakiki dan sejati. Ketujuh, Nabi Muhammad dengan revolusi mentalnya berhasil melaksanakan pendidikan karakter yang berbasis keimanan, moralitas, dan ketakwaan.
Bersamaan dengan itu, Muhammad berhasil pula mengajarkan asas-asas pemikiran, penalaran, dan ijtihad keilmuan, kebudayaan, dan peradaban. Asas-asas penalaran, pemikiran, dan ijtihad keilmuan inilah yang dalam perkembangannya menjadi modal utama bagi umat Islam dalam mengembangkan sains, kebudayaan, dan peradaban.
Seratus tahun setelah Nabi Muhammad wafat, agama dan peradaban Islam sudah merambah dari Tanah Andalus ke Lembah Indus. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, umat Islam hendaknya mengambil butir-butir hikmah dari sejarah hidup Nabi dan meneladani gerakan revolusi mental dan pendidikan karakter yang telah beliau contohkan untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di republik multibudaya dan multiagama ini.

 

Dimuat Koran Sindo, 24 Desember 2015

Related Post

 

Tags: