Alimatul Qibtiyah

KAUM perempuan, khususnya kaum ibu, memiliki peran strategis dalam kehidupan rumah tangga. Selain sebagai pengasuh dan pendidik, mereka juga memiliki andil besar bagi perkembangan anak-anaknya. Terlebih di Indonesia, kaum ibu bisa dikatakan powerfull, bahkan tidak jarang melebihi kaum bapak.

Kekuatan itu bisa terlihat ketika berbicara tentang perekonomian keluarga. Dalam sebuah keluarga di Indonesia, tata kelola keuangan dalam rumah tangga adalah kaum perempuan. Mereka ibarat bendahara dalam sebuah organisasi. Karena memiliki kekuasaan dalam
mengatur perekonomian rumah tangga, baik secara langsung maupun tidak, mereka memiliki andil besar dalam memutus rantai korupsi.

Upaya pencegahan tindak pidana korupsi dan penanaman nilai-nilai kejujuran bisa dilakukan dari dalam keluarga, misalnya pada anak. Hal itu dengan melihat perannya yang cukup besar dalam tata kelola keuangan rumah tangga sekaligus pengasuh buah hati. Selain itu, saat ini langkah pencegahan lebih efektif dibanding pemberantasannya.

Diungkapkan oleh Direktur Pusat Studi Wanita Universitas Islam Negeri (PSW-UIN) Sunan Kalijaga Yogyakata, Dr Alimatul Qibtiyah, langkah pencegahan tindak korupsi yang dilakukan lembaga tinggi negara seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mampu
mengembalikan uang negara yang lebih besar daripada upaya pemberantasan.

“Langkah pencegahan itu didasarkan pada konsep pemahaman tradisional masyarakat Indonesia bahwa suami sebagai pencari nafkah utama, ” jelasnya, belum lama ini.

Meski demikian, dalam realitas sebenarnya, langkah pencegahan itu secara strategis dilakukan oleh suami-istri yang saling bersinergi. Sebagai pegiat antikorupsi, perempuan yang akrab disapa Alim itu menuturkan bahwa untuk mengedukasi anak bisa dilakukan dengan ragam permainan, seperti game Semai (Sembilan nilai-nilai keadilan).
Pada permainan tersebut ada beberapa nilai positif dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dipelajari anak, yaitu kejujuran, kerjasama, tanggung jawab, kepedulian maupun suka membantu.

Alim juga mengungkapkan, selain memiliki peran dalam pencegahan korupsi, perempuan Indonesia khususnya Jawa berhasil menciptakan relasi seimbang suami-istri dalam rumah tangga. Sehingga ada semacam keegaliteran dalam rumah tangga. Konsep tersebut tidak
dimiliki oleh bangsa lain, dimana perempuan seingkali dipandang lebih rendah daripada kaum laki-laki.

“Sudah saatnya konsep tersebut diekspor ke negara-negara yang masih mendiskiminasi kaum perempuan,”  kata Alim.

Menurut perempuan yang juga anggota Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat ‘Aisyiah itu, saat ini peran perempuan juga mengalami pergeseran dari tradisional menuju modern, dimana banyak terjadi pada kaum modern.

Di Indonesia, keterlibatan perempuan di dunia publik dan produksi tidak diikuti oleh peran laki-laki di sektor domestik (rumah tangga) dan reproduksi. Sehingga terjadi ketimpangan, yaitu perempuan memiliki memiliki peran multi. Mereka masuk dalam dunia publik dan produksi mendapat apresiasi maupun penghargaan. Sementara laki-laki yang masuk dalam sektor domestik dan reproduksi tidak ada penghargaan sama sekali, malah cenderung dijauhi.

“Dari pergeseran itu akhirnya memunculkan bentuk keluarga baru yaitu bapak mencari nafkah-ibu tidak, ibu mencari nafkah-bapak tidak, keduanya mencari nafkah, dan keduanya sama-sama tidak mencari nafkah. Keempat bentuk itu akhirnya menimbulkan pertanyaan
‘keluarga mana yang bisa dikatakan ideal?’,” ungkap Alim.

la menjelaskan, untuk bisa dikatakan keluarga ideal, apapun bentuknya sebuah keluarga, hams memiliki empat kriteria. Keempat kriteria itu seperti ada jaminan tumbuh kembang anggota keluarga, jaminan tidak ada beragam bentuk kekerasan, ada relasi seimbang antar anggota keluarga, seta ada jaminan kebutuhan dasar.

Namun demikian, patut disayangkan ketika ada dominasi dalam sebuah keluarga dan biasanya hal itu terjadi ketika salah satu anggota keluarga tersebut memiliki penghasilan lebih dibanding yang lain.

Pernah dimuat di harian Minggu Pagi.

Related Post

 

Tags: