oleh Hamdan Daulay

HARI ini, Pilkada serentak dilaksanakan di sebagian wilayah Indonesia. Kegiatan ini merupakan momentum penting karena bisa menjadi penguatan demokrasi dan kedewasaan berpolitik bagi masyarakat. Ketika masyarakat mampu memilih pemimpin yang berkualitas, mampu menghindari praktik money politics, dan ketika para calon pemimpin siap kalah dan siap menang, maka demokrasi akan semakin kuat. Penguatan civil society akan terwujud manakala masyarakat mampu menggunakan hak suaranya dengan hati nurani, sehingga akan muncul pemimpin yang benar-benar berkualitas.

Namun manakala pemimpin yang terpilih adalah karena money politics dan praktik politik kotor, tentu akan menimbulkan lingkaran setan. Ketika sebuah jabatan diraih dengan tindakan menghalalkan segala cara, maka pada perkembangan berikutnya akan muncul berbagai petaka yang merugikan bagi semua pihak. Ketika praktik money politics semakin merajalela, maka praktik korupsi menggila.

Semua pihak menginginkan terwujud Pilkada damai, yang menyejukkan dan memberi kesejahteraan bagi rakyat. Setiap kandidat diharapkan memiliki jiwa satria dengan siap kalah dan siap menang. Siapa pun yang terpilih selalu memberi kemenangan dan kesejahteraan bagi rakyat. Inilah realisasi dari ‘tahta untuk rakyat’. Bagaiamanapun kerasnya persaingan para kandidat, harus menjadi komitmen bersama bahwa kemenangan dan kesejahteraan adalah untuk rakyat. Esensi demokrasi pun selalu mengutamakan perjuangan untuk rakyat, dan kesejahteraan untuk rakyat.

Praktik demokrasi kita masih kurang dewasa, sehingga sering terjebak pada konflik politik. Para elite politik kita baru siap menerima kemenangan, namun belum siap menerima kekalahan. Ketika elite politik mendapat kekalahan, mereka melakukan berbagai cara untuk menghindari kekalahan, mulai dari pengerahan massa hingga menggugat ke MK. Padahal sejatinya demokrasi akan semakin baik dan berkualitas manakala setiap tokoh politik siap kalah dan siap menang tidak sekadar retorika.

Kalau demokrasi dimaknai untuk memberi kemenangan dan kesejahteran bagi rakyat, tentu begitu mudah menerima kekalahan dan kemenangan. Seseorang yang memiliki niat tulus untuk mengabdi kepada rakyat, tentu bisa dilakukan dalam posisi apa pun. Mengabdi kepada rakyat tidak harus menjadi bupati atau gubernur. Dengan demikian, tokoh politik yang tulus dan jujur akan siap menerima kekalahan dan kemenangan dalam Pilkada, tanpa ada beban kalah atau menang. Tokoh politik yang baik, akan selalu berusaha mewujudkan kerukunan dan kedamaian di tengah masyarakat, bukan justru menciptakan konflik dan intoleransi.

Tindakan intoleransi (tidak toleran) terhadap kelompok lain, karena perbedaan politik, keyakinan, etnis, budaya dan lain-lain, kini semakin marak di tengah masyarakat. Akibat dari tindakan intoleransi tersebut membuat munculnya suasana tidak harmonis, dan bahkan konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain. Namun dalam Pilkada tidak ada alasan bagi tokoh politik yang kalah untuk membuat suasana yang tak nyaman di masyarakat. Bukankah pesta ini sebagai perwujudan dari kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi. Kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi bisa diukur dari terwujudnya kedamaian dan kerukunan antara semua komponen masyarakat setelah Pilkada serentak.

Sesungguhnya budaya masyarakat Indonesia yang pluralistik ini terkenal sangat toleran. Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur. Masyarakat yang menghargai nilai-nilai budaya tidak akan terjebak pada konflik, karena bagi masyarakat yang berbudaya, perbedaan adalah suatu keindahan yang harus dipelihara dengan baik. Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia. Dengan demikian bagaimana pun kerasnya persaingan politik dalam Pilkada serentak, tentu masyarakat lebih mengutamakan Pilkada damai. Karena sesungguhnya budaya masyarakat Indonesia bukan sekadar toleran saja. Namun juga damai, rukun, dan menghargai perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

dimuat dalam Kedaulatan Rakyat, Rabu, 9 Desember 2015

Related Post

 

Tags: