oleh Hamdan Daulay, dosen KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

hamdan daulay fakultas dakwah komunikasi uin sunan kalijaga

Dr. Hamdan Daulay saat promosi Doktor, Pascasarjana FISIP UGM Yogyakarta, 5 Nov 2011. (uin-suka.ac.id)

TAHUN 2016 ini Kementerian Agama (Kemenag) genap berusia 70 tahun, tepatnya 3 Januari. Walaupun diterpa berbagai kasus korupsi, namun tidak bisa dipungkiri, Kemenag juga telah banyak mengukir prestasi. Paling tidak berhasil cemerlang dalam pembinaan pendidikan Islam di tanah air, mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (SD) hingga Perguruan Tinggi. Alumni pendidikan Islam menyebar di berbagai lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif sebagai bagian dari pengabdian untuk bangsa dan negara.

Demikian pula dalam usaha pembinaan kerukunan umat beragama di tanah air, Kemenag selalu bekerja keras dan tak pernah mengenal lelah. Namun disadari bahwa usaha
membina kerukunan umat beragama di tanah air merupakan tantangan yang cukup berat.
Potensi konflik umat beragama selalu ada dan harus diwaspadai dari waktu ke waktu.

Semakin banyak tantangan yang dihadapi Kemenag dalam membina kerukunan beragama di tanah air. Tantangan yang muncul juga semakin canggih, mulai dari cara yang halus hingga cara yang kasar. Dengan demikian diperlukan pendekatan yang cerdas dan arif dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut.

Kasus Terompet
Kasus terbaru dengan munculnya terompet yang memakai sampul Alquran sangat mengagetkan. Perlu kearifan dalam menyikapi kasus tersebut. Sebab kalau disikapi dengan berlebihan akan begitu mudah menyulut emosi umat, karena pemakaian simbol-simbol agama sangat mudah menyulut emosi dan konflik. Ayat-ayat suci Alquran tentu sangat dimuliakan dan tidak boleh ada kelompok mana pun yang dibiarkan melecehkannya.

Kementerian Agama sebagai lembaga yang dipercaya untuk membina kerukunan umat beragama di tanah air, tentu memiliki tanggung jawab besar dalam menyikapi kasus terompet ini. Jangan sampai menimbulkan ketidakpuasan di tengah masyarakat, sehingga dianggap Kemenag kurang tegas. Sebaliknya, Kemenag juga tidak perlu berlebihan menyikapi kasus ini agar jangan sampai memancing konflik di tengah masyarakat. Solusi terbaik yang harus dilakukan Kemenag adalah melakukan cara yang elegan, arif dan dalam komitmen kerukunan umat beragama. Kemenag perlu menjalin kerja sama yang baik dengan semua pihak terkait, mulai dari Polri, MUI dan tokoh-tokoh agama.

Dari aspek hukum tindakan penistaan agama, Polri perlu dilibatkan agar jelas akar persoalannya. Mengapa kecerobohan dan membiarkan sisa cetakan Alquran beredar bebas bahkan menjadi terompet. Polisi diharapkan bisa mengusut tuntas, agar tidak muncul keresahan di tengah masyarakat yang bisa menimbulkan potensi konflik.

Demikian pula dari pihak MUI dan tokoh-tokoh agama, Kemenag perlu mengoordinasi gerakan kerukunan terkait dengan kasus terompet ini. MUI diharapkan bisa memberi penjelasan yang sejuk kepada masyarakat agar tidak terpancing karena kasus terompet. Demikian pula komunikasi dengan tokoh-tokoh agama perlu terus ditingkatkan dalam usaha gerakan kerukunan, agar umat jangan sampai terprovokasi karena ulah provokator. Karena setiap saat selalu ada provokasi yang memanfaatkan kejadian-kejadian kecil untuk membuat umat beragama terjebak pada konflik. Untuk itu gerakan provokasi yang demikian harus diwaspadai. Peran tokoh-tokoh agama tentu sangat penting dalam rangka memberi penjelasan kepada umat masing-masing.

Terompet Kerukunan
Terompet tahun baru sudah ditiup, semoga bisa menjadi terompet kerukunan di tanah air. Walaupun ada terompet yang membuat heboh, tentu tidak akan mengurangi semangat kerukunan yang sudah tertanam di tengah masyarakat.

Kasus terompet bersampul Alquran ini hendaknya bisa menjadi pelajaran berharga bagi segenap komponen bangsa untuk lebih waspada dalam menjaga kokohnya kerukunan beragama di tengah masyarakat. Kata kuncinya tentu pada keterbukaan dan ketulusan dalam menjalin komunikasi antarumat beragama. Dengan komunikasi yang baik maka tidak ada ruang untuk saling curiga antara satu dengan yang lain.

Keberhasilan menyelesaikan kasus terompet ini merupakan ujian penting bagi Kemenag RI di usia yang ke 70 tahun. Semoga kasus terompet ini bisa menjadi terompet kerukunan yang akan memperkokoh kerukunan umat beragama di tanah air. q- k

Dimuat Kedaulatan Rakyat, 4 Januari 2016

Related Post

 

Tags: