zamakhsari

Akses bagi para difabel untuk memiliiki pendidikan yang layak masih rendah hingga saat ini. Padahal pendidikan merupakan suatu hak asasi yang mutlak diberikan pada setiap orang. Pendidikan seharusnya juga tidak perlu membedakan keadaan manusia, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Persyarikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui forum pendidikan dunia pada tanggal 26 sampai 28 april 2000 di Dakar Sinegal.

Dalam forum tersebut enam komitmen kerangka aksi pendidikan untuk semua. Salah satu hasil pertemuan tersebut adalah dengan bersama –sama meralisasikan kepastian pemenuhan kebutuhan belajar bagi semua orang yang adil dalam belajar dan program keterampilan hidup yang tepat bagi diri mereka.

“Pendidikan seharusnya dimaknai dengan tidak membeda-bedakan latar belakang, suku, agama dan ras serta dapat diikuti oleh siapa saja termasuk penyandang cacat, selagi ia mampu menjalaninya termasuk difabel. Namun kenyataanya hingga kini, pendidikan bagi para difabel ini masih belum mendapatkan perhatian khusus dan serius,” ungkap Zamakhsari, Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat menjelaskan hasil disertasinya dalam sidang promosi doktor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (9/1).

Dalam disertasi yang berjudul ‘Pola Belajar Berdasarkan Regulasi Diri Pada Mahasiswa Difabel Netra dengan Studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta’, Zamakhsari mengungkapkan, selama ini tidak ada perlakuan khusus bagi mereka ketika menjalani perkuliahan. Perlakuan mereka ketika pembelajaran disamakan dengan mahasiswa non difabel. Kadang-kadang terjadi perbedaan karena adanya perbedaan pelayanan dosen terhadap mahasiswa difabel. “Namun secara kelembagaan, universitas belum mengeluarkan aturan resmi tekait dengan pelayanan universitas terhadap mahasiswa difabel tersebut,” tandasnya.

Zamakhsari mengungkapkan, mahasiswa difabel netra adalah mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan memiliki keterbatasan penglihatan. Mereka memiliki cici fisik, yang hampir menyerupai orang dewasa. Secara fisiologis terjadi perkembangan kepribadian menuju kematangan yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. “Tentu terdapat keterbatasan yang dimiliki oleh mahasiswa difabel netra dalam menempuh pendidikan. Meraka telah memasuki usia dewasa secara perkembangan, namun keterbatasan fisisk bisa jadi penghambat perkembangan emosi dan kemampuan belajar,” jelasnya.

Kondisi diri membuat mahasiswa difabel netra menjadi terbatas dibandingkan dengan mahasiswa normal lainnya dalam mencapai kesuksesan sebagaimana mahasiswa-mahasiswa yang normal pada umumnya. Apalagi kondisi lingkungan belajarnya belum bisa menciptakan peluang yang bisa dilakukan oleh para mahasiswa difabel netra, untuk mencari potensi-potensi dirinya. Karena itulah pihak universitas atau institusi pendidikan manapun yang mempunyai mahasiswa difabel netra, harusnya meningkatkan pelayanan akademik dari dosen kepada mahasiswa difabel netra dengan menerapkan metodologi pembelajaran yang sesuai dengan pola pembelajaran berdasarkan regulasi diri mereka. Regulasi yang dimaksud adalah situasi ketika mahasiswa yang menjadi penguasa atau menentukan pembelajaran mereka sendiri.

“Jadi, mahasiswa difabel netra itulah yang menentukan pembelajarannya namun tetap dengan mendapatkan monitor dari dosennya dalam mencapai tujuan akademis dan memotivasi diri mereka, mengelola bahan-bahan pelajaran mereka dan mengambil keputusan serta tindakan pada semua proses pembelajaran mereka. Selain itu pengelola mahasiswa difabel netra dalam hal ini adalah Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD) bisa memberikan orientasi pengenalan kampus yang memberikan informasi penggunaan berbagai layanan yang memandirikan para mahasiswa difabel netra. Hal itu akan membantu dalam membimbing atau memantau penggunaan berbagai fasilitas pembelajaran dan kampus. Pada intinya, universitas yang memiliki mahasiswa difabel netra itu harus memberikan pelayanan khusus pada mereka dan tidak bisa disamakandengan mahasiswa normal lainnya ,” ungkap Zamakhsari.

Sementara Prof. Dr. Siswanto Masruri sebagai promotor mengungkapkan, berdasarkan keputusan promotor, dan tim penguji dalam sidang tersebut, Zamakhsari berhasil menyandang gelar doktor Ilmu Psikologi Pendidikan Islam dengan predikat ‘sangat memuaskan’ dengan nilai A. “Banyak dosen di perguruan tinggi yang tidak mampu menyelasaikan program doktor, semua itu tergantung pada tekat masing-masing. Dengan demikian Dr. Zamakhsari yang notabene merupakan pegawai struktural, menunjukan tekat yang besar hingga telah mampu menempuh strata tertinggi gelar akademik yaitu gelar doktor. Dengan menyandang gelar doktor semoga Dr. Zamakhsari mampu memberikan solusi atas segala permaslahan yang saat ini dihadapi oleh para kaum difabel,” pungkasnya. (Humas-UIN Sunan Kalijaga)