FAISAL ISMAIL
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Saya sudah lama bertetangga dengan Pak Jarwo di kawasan pinggiran kota, Ujung Kali Bening. Kami berasal dari daerah yang berbeda dan baru saling mengenal ketika tinggal bersama di pinggiran kota, Ujung Kali Bening, itu.

Pak Jarwo adalah tetangga yang murah senyum, baik, dan simpatik. Ia dikenal sebagai sosok yang supel, ramah, dan mudah bergaul dengan para tetangga di lingkungan komunitas RT dan RW tempat kami tinggal dalam kurun waktu yang cukup lama. Pak Jarwo tidak bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di instansi pemerintahan atau sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

Ia berwira swasta. Itulah pilihan kerja, profesi, dan jalan hidup yang ia tempuh secara konsisten. Hobi Pak Jarwo adalah memelihara burung-burung puyuh yang jumlahnya lumayan banyak. Hobi dan bisnis yang satu ini telah dilakoninya selama bertahun- tahun dan hasilnya sangat menjanjikan dan menggembirakan.

Hobi ini sekaligus menjadi mata pencaharian dan sumber keuangan bagi Pak Jarwo untuk menopang kehidupan keluarganya dan membiayai sekolah kedua anaknya. Telur-telur puyuh dalam jumlah yangbanyakia pasoksecara rutin ke berbagai restoran dan warung makan yang ada di pinggiran kota, Ujung Kali Bening.

Di pekarangan rumahnya yang cukup luas itu, Pak Jarwo tidak hanya memelihara dan beternak burung puyuh. Ia juga memelihara burung parkit. Sementara ini ada dua pasang burung parkit di pekarangan rumahnya yang ia tempatkan di sangkar yang berbeda dan terpisah satu sama lain. Lokasi sangkar dua pasang burung parkit itu berdekatan satu sama lain.

Pak Jarwo memberi makan dan minum burung piaraannya itu secara teratur dan ia tampak sangat senang dan menikmati hobinya yang satu ini. Kicau burung parkit itu menjadi hiburan dan keceriaan tersendiri yang sangat menyenangkan bagi Pak Jarwo. Sesudah selesai memberi makan burung-burung puyuh dan merasa lelah dengan pekerjaannya itu, Pak Jarwo duduk santai di pekarangan rumahnya menatap, mendengarkan, dan menikmati kicau burung parkitnya seraya mereguk minuman jus mangga kesukaannya di bawah pohon yang sejuk dan rindang.

Pak Jarwo merasa lelahnya hilang seketika karena merasa senang dan terhibur oleh kicauan burung parkitnya. Ketika ditanya mengapa ia masih memelihara burung parkit di samping burung-burung puyuh yang menjadi lahan bisnisnya, ia menjawab bahwa hal itu ia jalani hanya untuk kesenangan.

Ia merasa senang dengan warna bulunya yang indah berkilau dan ia pun merasa senang mendengar kicauannya yang bagus pada pagi hari, siang hari, dan senja hari. Ia merasa senang dan terhibur dengan memelihara burung parkit itu. Hobinya tersalurkan.

Sementara bisnis telur puyuhnya terus meningkat dan memberi keuntungan yang menggembirakan dari waktu ke waktu. Paduan hobi dan bisnis Pak Jarwo berjalan bergandengan tangan dan sama-sama memberikan kepuasan spiritual dan material.

Suatu hari Pak Jarwo merasa sangat senang karena sepasang parkit yang ada di salah satu sangkarnya bertelur. Tidak dapat diragukan lagi telur ini terjadi karena sepasang burung parkit itu berbeda jenis atau berjenis kelamin yang berbeda. Yang satu berjenis kelamin jantan, yang satu lagi berjenis kelamin betina.

Di sangkar itu terjadi perkawinan antara dua burung parkit yang berbeda jenis kelamin itu. Maka, parkit betina pun bertelur. Beberapa lama kemudian, telurnya pun menetas dan lahirlah anak parkit yang mungil, menawan, memesona, dan indah sosoknya. Atas perawatan dan pemeliharaan induknya yang penuh kasih sayang, anak parkit itu terus bertambah besar dan pernik-pernik bulunya mulai tumbuh dan tampak can-tik dan indah dipandang mata. Menawan dan menyenangkan sekali.

Demikianlah ihwal sepasang burung parkit piaraan Pak Jarwo yang ada di sangkar yang satu itu. Dua burung parkit itu berbeda jenis kelamin, berkawin, bertelur, dan telur itu kemudian menetas dan lahirlah anak parkit. Semuanya berproses dan berjalan secara normal dan menurut alur naluri kelaziman fitriah-kodratiah yang berlaku umum dan universal di mana saja dan kapan saja.

Ada sepasang burung yang benarbenar berbeda jenis kelamin, berkawin, bertelur, dan mempunyai anak. Inilah prosesi fitriah-kodratiah yang lazim terjadi secara universal di dunia kehidupan binatang. Sedangkan ihwal sepasang burung parkit milik Pak Jarwo yang dipelihara di sangkar yang lain mempunyai cerita lain dan kisah tersendiri.

Menurut penuturan Pak Jarwo sendiri, ia tidak jeli dalam melihat, mengamati, dan membedakan jenis kelamin sepasang burung parkit yang dia masukkan di dalam sangkar yang lain itu. Ketidakjelian Pak Jarwo dalam membedakan ihwal jenis kelamin burung parkit itu disebabkan oleh keawaman pengetahuannya tentang burung parkit itu.

Dalam keadaan keawaman pengetahuannya itu, ia masukkan saja sepasang burung parkit itukedalamsebuahsangkar. Lagi, menurut penuturan Pak Jarwo setelah ia menyadari situasinya, ternyata sepasang burung parkit ituberjeniskelaminjantansemua. Sama-sama jantan. Menurut penuturan PakJarwo, parkit yang satu mempunyai nafsu seksual yang agresif karena itu ia selalu menguber-uber dan mematukmatuk parkit yang lain untuk mengawininya.

Tapi, parkit yang lain itu sama sekali menolak dan benar-benar tidak mau dikawini. Pak Jarwo bilang: ”Di dunia binatang tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi perkawinan sesama jenis. Di dunia binatang tidak ada LGBT.”

Koran Sindo, 26 Februari 2016

Related Post

 

Tags: