uyabmitra_1398295285_31Bayu Mitra A. Kusuma, Dosen Prodi MD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DIBERLAKUKANNYA UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah mengawali babak baru sistem pemerintahan di Indonesia yang sebelumnya begitu sentralistik menjadi terdesentralisasi. Dalam perjalanannya sistem tersebut terus mengalami penyempurnaan melalui terbitnya UU No. 32 Tahun 2004, UU No. 23 Tahun 2014 dilengkapi dengan UU No. 9 Tahun 2015. Mengacu pada undang-undang tersebut dapat ditarik suatu benang merah bahwa pelaksanaan otonomi daerah harus mencakup dua hal pokok: pertama, pemberian kewenangan dari pusat kepada daerah, bukan hanya pembagian kewenangan seperti dalam UU No. 5 Tahun 1974. Kedua, pelimpahan tanggungjawab kepada daerah untuk mengelola potensinya.

Dapat diartikan bahwa jika suatu daerah telah diberikan kewenangan untuk mengelola potensinya, maka pada saat yang bersamaan daerah tersebut juga menerima tanggungjawab untuk mengawasi pemanfaatannya. Daerah dipandang sebagai motor penggerak dalam memacu perekonomian nasional dimana salah satu sektor yang kini semakin menarik dan menjanjikan adalah pariwisata. The World Tourism Organization memperkirakan bahwa pariwisata menyumbang hingga 10% dari produk domestik bruto global, sehingga pariwisata menjadi industri terbesar di dunia. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pariwisata merupakan jalan yang layak dikedepankan dalam membangun ekonomi lokal.

Potensi Gunung Kidul

Salah satu daerah dengan potensi pariwisata besar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah Kabupaten Gunung Kidul. Adalah fakta bahwa Gunung Kidul memiliki garis pantai yang panjang dan indah. Nama-nama seperti Pantai Baron, Sepanjang, Krakal, Kukup, Siung hingga Indrayanti semakin ramai dibicarakan khalayak. Berdasarkan kondisi tersebut, maka pembangunan berbasis wisata pantai di Gunung Kidul sangatlah menjanjikan dan menjadi peluang sebagai city image branding untuk mendapatkan posisi strategis serta pengakuan dari masyarakat luas. Willy Ollins mengemukakan bahwa “branding is one of the most powerful ways of promoting product”. Bagaikan sebuah produk dagang, branding adalah ujung tombak dalam upaya mempromosikan pesona suatu daerah. Terlebih di era komunikasi global yang begitu dinamis seperti dewasa ini, Gunung Kidul harus menampilkan ciri khas dan keunggulan agar memiliki nilai tawar yang tinggi dalam persaingan dimana wisata pantai telah tersedia sebagai modal dasarnya.

Melihat ilustrasi di atas kita akan membayangkan bahwa keberadaan panorama pantai yang indah dan mempesona membuat pembangunan pariwisata menjadi mudah. Padahal sebenarnya tidak selalu demikian karena berbagai masalah dapat timbul seperti minimnya promosi, transportasi yang sulit, akomodasi yang kurang  memadai  dan kurangnya infrastruktur pendukung lainnya. Itulah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemkab dan segenap elemen masyarakat dalam membangun Gunung Kidul dari pantai.

Pelajaran dari Banyuwangi

Membangun dari pantai merupakan akses bagi Gunung Kidul untuk mengaktualisasi diri di panggung lokal, nasional dan internasional. Salah satu cerita sukses yang dapat dijadikan rujukan adalah Kabupaten Banyuwangi. Kunci sukses dari Banyuwangi membangun pariwisata khususnya pantai adalah menjadikan daerah sebagai produk yang harus dipasarkan potensinya. Selanjutnya Pemkab Banyuwangi menerapkan inovasi berkelanjutan seperti membuat ikon dan destinasi baru sehingga kini destinasi wisata pantai di Banyuwangi tidak hanya sebatas mengandalkan Pantai Plengkung atau G-Land semata. Pemkab terus mengembangkan potensi pantai seperti Grand Watudodol, rumah apung di kawasan Bangsring, sinergi dengan BUMN membangun dermaga kapal pesiar di Pantai Boom dan menjadikan Pantai Pulau merah sebagai venue kompetisi selancar internasional. Lebih dari itu Pemkab juga menggunakan kawasan pantai sebagai ajang berbagai festival seperti Gandrung Sewu di pantai Boom.

Hasilnya, pariwisata Banyuwangi semakin menggeliat dengan puncaknya adalah ketika di tahun 2016 ini Banyuwangi meraih penghargaan dari United Nations World Tourism Organization dalam ajang “12th UNWTO Awards Forum” di Madrid Spanyol untuk kategori inovasi kebijakan publik mengalahkan nominasi lainnya dari Kolombia, Kenya dan Puerto Rico. Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan bahwa kesuksesan Banyuwangi merupakan kombinasi dari ketersediaan potensi wisata alam dengan kebijakan Pemkab yang inovatif. Bila Gunung Kidul mengadaptasi pola yang demikian, bukan mustahil nama Gunung Kidul akan semakin mendunia dengan membangun dari pantai sebagai fondasinya.

Kedaulatan Rakyat, Senin Wage, 29 Februari 2016

Related Post

 

Tags: