Bayu Mitra A. Kusuma, dosen MD UIN Sunan Kalijaga

PADA hari Rabu (16/3) bertempat di Taman Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, untuk keempat kalinya Laboratorium Manajemen Dakwah (MD) menggelar seri diskusi bulanan Program Studi MD atau disebut dengan MD Terrace.

Kegiatan ini dikelola oleh Divisi Penelitian dan Pengembangan Laboratorium MD dan diselenggarakan secara rutin setiap bulannya sejak Desember 2015. MD Terrace edisi keempat ini menganalisis tentang eksistensi lembaga keuangan syariah kontemporer ditinjau dari peluang dan tantangannya.

Narasumber yang dihadirkan adalah Ihsan Maulani dari Magister Keuangan dan Perbankan Syariah UIN Sunan Kalijaga dan dipandu moderator Ihsan Rahmat dari Magister Manajemen dan Kebijakan Publik UGM. Keduanya merupakan alumnus Prodi S1 MD sehingga MD Terrace ini selain menjadi forum diskusi ilmiah sekaligus menjadi ajang reuni bagi alumninya.

Tema ini menarik untuk dikaji karena dewasa ini jumlah lembaga keuangan Islam atau lembaga keuangan berbasis syariah semakin bermunculan. Bahkan Prodi MD pun telah membuka mini Baitul Mal Wattamil (BMT) sebagai laboratorium terapan khususnya bagi mahasiswa konsentrasi Manajemen Lembaga Keuangan Islam (MLKI).

Namun sangat disayangkan meningkatnya kuantitas lembaga keuangan syariah belum berbanding lurus dengan kualitasnya. Dari pemaparan diskusi terkuak fakta bahwa ada beberapa alasan mengapa eksistensi lembaga keuangan syariah belum optimal.

Hal itu disebabkan karena belum selarasnya visi dan kurang koordinasi antar pemerintah dan otoritas pengembangan lembaga keuangan syariah, modal yang belum memadai baik dalam skala industri maupun individual lembaga plus efisiensi yang rendah. Juga mahalnya dana pembiayaan yang berdampak pada keterbatasan segmen pembiayaan.

Produk yang tidak variatif dan pelayanan yang belum sesuai ekspektasi masyarakat, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang belum memadai, teknologi informasi yang belum dapat mendukung pengembangan produk dan layanan, pengaturan dan pengawasan yang masih belum optimal, serta pemahaman dan kesadaran masyarakat yang masih rendah.

Sehingga ke depan peluang pengembangan lembaga keuangan syariah dapat dilakukan dengan memperkuat sinergitas antar stakeholder, memperbaiki permodalan dan skala usaha serta memperbaiki efisiensi, memperkuat struktur dana untuk mendukung perluasan segmen pembiayaan.

Harapannya juga meningkatkan kualitas layanan dan keragaman produk, perbaikan infrastruktur, meningkatan literasi dan preferensi masyarakat. Termasuk memperkuat harmonisasi pengaturan dan pengawasan demi terwujudnya lembaga keuangan syariah yang kuat dan berkualitas.

Dimuat di box Citizen Journalism Tribun Jogja, Sabtu, 2 April 2016, halaman 14.

Related Post

 

Tags: