Hamdan Daulay, dosen KPI UIN Sunan Kalijaga

KEKERASAN yang menelan korban jiwa, menimpa simpatisan PPP. Teror ini jelas, sangat kontras dengan Yogyakarta yang berslogan berhati nyaman. Jelas, hal ini merupakan tindakan tidak bertanggung jawab, sekaligus menodai kesejukan dan kedamaian kota ini. Gubernur DIY Sri Sultan HB X juga memberi komentar tegas terkait kasus ini, dengan meminta agar kekerasan terhadap simpatisan PPP diusut secara tuntas (Kedaulatan Rakyat, 19/4).

Belum lagi semua ini terungkap, muncul kabar meresahkan masyarakat karena adanya aksi sayat yang telah menelan 3 perempuan jadi korban. Korban dilukai di lengan. Aksi diduga dilakukan dua pengendara sepeda motor dengan menggunakan pisau cutter. Selain mahasiswa, ada korban yang masih kanak-kanak.

Indonesia Mini

Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya dan kota yang sangat plural, selama ini terkenal damai dan toleran di tengah perbedaan yang ada. Yogyakarta adalah Indonesia mini, karena di kota ini ada berbagai suku, budaya, agama dan bahasa daerah. Keindahan Yogyakarta semakin terasa karena kedamaian dan kesejukan yang ada. Saling menghargai antara satu dengan yang lain menjadi kata kunci terwujudnya toleransi dan kedamaian.

Perbedaan adalah hal yang wajar terjadi di tengah masyarakat, baik dalam bentuk aspirasi politik, agama, budaya dan lain-lain. Namun di tengah perbedaan itu sesungguhnya muncul suatu khazanah keindahan manakala dikelola dengan baik. Munculnya kekerasan, konflik dan teror justru merupakan tindakan destruktif yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan akan merugikan bagi semua pihak.

Tindakan tidak toleran terhadap kelompok lain, karena perbedaan politik, keyakinan, etnis, budaya dan lain-lain, kini semakin marak di tengah masyarakat. Akibat dari tindakan intoleransi tersebut membuat munculnya suasana tidak harmonis, dan bahkan konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain. Kasus teror yang menewaskan simpatisan PPP misalnya akan bisa menjadi “bom waktu” kalau tidak segera diusut secara tuntas. Karena setiap konflik yang menyangkut politik memiliki tensi tinggi dan akan menjadi bara panas yang bisa menyulut emosi dan dendam antara kelompok yang berbeda pandangan. Demikian juga kasus teror dengan penyayatan yang cukup meresahkan masyarakat. Kalau terbiarkan, akan membuat masyarakat merasa bukan hanya tidak aman namun juga tidak nyaman.

Sesungguhnya budaya masyarakat Indonesia yang pluralistik ini terkenal sangat toleran, santun, dan menghargai perbedaan yang ada. Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur. Masyarakat yang menghargai nilai-nilai budaya tidak akan terjebak pada konflik, karena bagi masyarakat yang berbudaya, perbedaan adalah suatu keindahan yang harus dipelihara dengan baik. Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia. Manusia dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan, karena keduanya merupakan suatu jalinan yang saling erat berkait.

Kekuatan Ampuh

Kebudayaan tidak akan ada tanpa ada masyarakat dan tidak ada satu kelompok manusia pun, betapa terasing dan bersahajanya hidup mereka, yang tidak mempunyai kebudayaan. Semua kelompok masyarakat pasti memiliki kebudayaan, karena manusia merupakan subyek budaya. Yang berbeda hanyalah tingkat dan taraf kebudayaan yang dimiliki oleh masing-masing kelompok masyarakat.

Budaya bisa dipahami sebagai jejaring makna dan pemaknaan. Budaya juga sebagai se-buah deskripsi dari cara hidup tertentu yang mengekspresikan sejumlah makna dan nilai yang tertentu pula. Sebagai jejaring makna, budaya terkait erat dengan ranah-ranah lain dalam hidup manusia, seperti politik, agama, kekuasaan, pendidikan, pemerintahan, bahasa dan masih banyak lagi ranah yang lain.

Dengan penguatan budaya luhur yang sudah lama tertanam di tengah masyarakat selama ini tentu akan menjadi kekuatan ampuh untuk mencegah tindakan teror. Karena sesungguhnya teror adalah musuh bersama umat manusia yang cinta pada nilai-nilai budaya. Teror tidak boleh diberi ruang di tengah masyarakat yang mendambakan kedamaian. Karena teror akan merusak peradaban, merusakkan tatanan kehidupan, menebar kebencian, konflik dan bahkan korban jiwa.

Opini Kedaulatan Rakyat, 28 April 2016

Related Post

 

Tags: