SUDAH menjadi agenda nasional, setiap 21 April diperingati sebagai Hari Katini. Momentum tersebut mengambil tanggal lahir Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Banyak orang memperingatinya dengan beragam cara, mulai dari memakai pakaian adat atau kebaya ala Kartini hingga memasak. Namun, apakah itu merupakan esensi dari peringatan Hari Kartini sebenarnya?

Merefleksikan apa yang pernah dilakukan oleh Kartini pada masa lalu adalah salah satu cara memperingatinya. Nilai-nilai kejujuran yang ia tanamkan lewat pendidikan keluarga sepatutnya diteladani. Mengingat keluarga adalah elemen strategis untuk penanaman nilai-nilai dasar dan pembentukan karakter.

Menurut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiah Pusat, Dr Alimatul Qibtiyah, mengajarkan kejujuran berarti menanamkan budaya tidak korup. Menurutnya, gerakan anti korupsi terutama dari sisi pencegahan adalah sesuatu yang harus selalu didengungkan dan ditanamkan di masyarakat.

“Ada sebuah penelitian yang mengungkapkan, hanya 4 persen keluarga di Indonesia yang menanamkan nilai kejujuran. Peran perempuan baik sebagai istri ataupun ibu mempunyai peran penting dalam upaya pencegahan korupsi tersebut,” jelas Alim, demikian Alimatul Qibtiyah biasa disapa, Selasa (19/4).

Menurut Alim, kaum perempuan adalah motor penggerak pemberantasan korupsi. Hal itu cukup beralasan. Sebab, anggota masyarakat yang pertama kali dirugikan adalah kaum perempuan. Mereka selalu mendapatkan sindiran ataupun hinaan saat suaminya tersandung kasus korupsi.

Alim juga mengungkapkan, ada penelitian yang membuktikan bahwa 93,4 koruptor adalah laki-laki. Kaum perempuan memiliki kecenderungan standar etis dan kepedualian pada kepentingan umum yang lebih dibanding laki-laki. Selain itu biasanya perempuan juga relatif lebih taat aturan.

“Modal sosial dan psikologis ini dapat menjadi acuan stretegi untuk pencegahan korupsi. Sehingga pada hukuman sosial yang dialami perempuan karena akibat perilaku korup pasangannya terkurangi,” kata Pembantu Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Perilaku korup tersebut bisa dicegah melalui keyakinan yang berkembang di masyarakat bahwa perempuan adalah
pendidik utama di dalam keluarga. Bahkan dalam antropologi gender orang Indonesia, terutama orang Jawa, walaupun perempuan secara formal mempunyai ketergantungan identitas dengan suami. Namun di dalam keluarga, mempunyai peran strategis dalam mempengaruhi pemikiran suami dalam keuangan. Dengan kata lain, penguasa keuangan dalam tradisi jawa adalah perempuan.

“Dengan melibatkan banyak perempuan untuk ikut terlibat dalam gerakan pencegahan korupsi, menjadi strategi awal untuk menggugah sebuah gerakan di seluruh lapisan masyarakat menjadikan Indonesia bebas korupsi,” tutur Alim.

Mitra Sejajar

Memperingati Hari Kartini dengan memakai pakaian adat dan kegiatan lain tidak masalah asalkan memiliki niatan sebagai bentuk rasa cinta pada Indonesia. Namun demikian, lewat cara itu belumlah cukup. Untuk membangun Indonesia, harus ada kesadaran antara laki-laki dan perempuan merupakan mitra yang sejajar.

Diungkapkan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Yogyakata, Dr Sari Murti Widiyastuti, perjuangan kaum perempuan saat ini hampir sama dengan Kartini pada masa lalu, yaitu bebas dari belenggu.

“Saat ini keterbelengguan kaum perempuan muncul dengan bentuk berbeda dan lebih kompleks, salah satunya gaya hidup konsumtif,” ungkap Sari.Menurutnya, gaya hidup konsumtif membuat perempuan ibarat tawanan bagi para pemilik modal. Mereka seolah dipaksa menuruti segala keinginan.

Tanpa memiliki kontrol kuat, perempuan yang memiliki posisi penting tentu akan kegiatan belajar-mengajar turut menjadi menyalahgunakannya. Demikian juga penyebab. Akibatnya, banyak di antara perempuan yang tak memiliki jabatan, ia para pelajar memanfaatkan media akan memaksakan kehendak pada suami untuk memenuhi keinginan sang istri.

“Secara langsung maupun tidak hal itu jelas merusak tatanan dan moral perempuan Indonesia. Jika Ibu Kartini menyaksikan realitas itu, pasti ia pasti sangat sedih,” kata Sari.

la mengungkapkan, gaya hidup hedon dan konsumtif saat ini sudah merasuki anak-anak perempuan yang masih sekolah. Dalam beberapa kasus, ada anak perempuan di bawah umur merelakan tubuhnya untuk ditukar dengan smartphone. Mereka rela menjual kegadisan hanya untuk sebuah telepon seluler (Ponsel).

Permasalahan itu sebenarnya berpangkal pada keluarga, yaitu kedua orangtuanya. Orangtua yang terdiri dari bapak dan ibu memiliki fungsi pendidik di dalam keluarga. Namun hal itu kadang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Anak menjadi tidak memiliki orientasi hidup yang jelas.

“Pengaruh lingkungan juga cukup besar, terutama pada masyarakat yang memiliki kontrol sosial lemah,” jelas dosen Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu.

Namun demikian, sekolah juga turut bertanggungjawab ketika tidak sedikit pelajar yang menggadaikan tubuhnya dengan ponsel. Pengawasan dari sekolah yang masih lemah serta banyaknya siswa yang merasa tertekan dengan kegiatan belajar-mengajar turut menjadi penyebab. Akibatnya, banyak di antara para pelajar memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai ajang bersosialisasi dan melepas penat.

Akses internet yang tanpa kontrol tentu memiliki dampak negatif. Tidak sedikit para pelajar perempuan yang dibawa kabur oleh kenalan barunya di medsos. Bahkan menurut Direktur Rifka Annisa Women’s Crisis Center Yogyakata, Suharti, di Yogyakata kasus tersebut masih sering terjadi.

“Perempuan menghadapi situasi yang tidak menguntungkan bagi dirinya misalnya tindak kekerasan,” jelasnya.

Menurut Suharti, kekerasan yang dilakukan oleh para pelaku, selain berakibat pada kehamilan yang tidak  dikehendaki, atau menyebabkan kematian ibu dan anak. Bahkan dalam beberapa kasus, tidak sedikit dari perempuan yang dilarikan oleh para pelaku, sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia (dibunuh).

Oleh karena dalam momentum Hari Kartini, ada baiknya para perempuan merefleksikan apa yang pernah dilakukan Kartini pada masa lalu. Sebuah bentuk perjuangan perempuan bebas dari belenggu, bukan sekadar fashion show.

Memakai pakaian adat tidak ada salahnya. Namun yang lebih penting, bagaimana menggali adat istiadat serta budaya sendiri untuk bekal hidup di masa mendatang sebagai manusia berkarakter.   Fajar

Minggu Pagi, Rubrik Keluarga, No. 04 Tahun 69 Minggu IV, April 2016

Related Post

 

Tags: