pelantikan rektor uin suka yudian wahyudi 2016

Prof. Yudian (kedua dari kiri) saat dilantik sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga (2016-2020) oleh Menteri Agama, di Kantor Kemenag Lapangan Banteng Jakarta, Kamis (12/5).

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin melantik dua rektor UIN dan satu ketua STAIN, di kantor Kemenag Lapangan Banteng, kemarin (12/5). Salah satu rektor yang dilantik adalah Prof. Yudian Wahyudi, M.A.

Menteri Agama melalui SK Menteri Agama No. B.II/308205,08206, dan 08207 melantik:
– Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masa jabatan tahun 2016-2020,
– Prof. Dr. H. Muhammad Sirozi, Ph.D. sebagai Rektor UIN Raden Fatah Palembang masa jabatan tahun 2016-2020,
– Dr. Rahmat Hidayat, M.Ag., sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup masa jabatan tahun 2016-2020.

Ketika menyampaikan amanah, beliau menyampaikan agar para rektor dan ketua PTKN di lingkungan Kementerian Agama wajib memiliki komitmen dan berupaya menjaga otonomi perguruan tinggi, memberdayakan peran Senat Universitas, Institut dan Sekolah Tinggi, serta membina iklim kampus yang berkeadaban.

“Saya ingin menggaris-bawahi bahwa otonomi perguruan tinggi di tanah air bukanlah bersifat absolut, tetapi otonomi yang terukur serta dalam koridor hukum perundang-undangan,” tambahnya.

Civitas akademika bukan civitas politika

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengajak seluruh jajaran pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) agar lebih mengembangkan civitas akademika dan bukan civitas politika. Dikatakannya, transformasi UIN, IAIN, dan STAIN yang digulirkan sejak dua dekade terakhir, akan kehilangan nilai substansi keadabannya, apabila perguruan tinggi terperangkap dalam politik kampus dan subkultur umat.

“Saya perlu menekankan, UIN, IAIN dan STAIN di mana pun harus lebih fokus mengembangkan wawasan akademik dan memancarkan nalar intelektual yang memberi pencerahan di lingkungannya sendiri dan pencerahan kepada masyarakat luas,” kata beliau.

“UIN, IAIN dan STAIN, harus eksis sebagai masyarakat ilmiah dan sekaligus membawa misi dakwah dan misi profetik dalam kehidupan bangsa kita. Pengembangan UIN, IAIN dan STAIN khususnya, diharapkan menjadi benteng terhadap sekularisasi dan dikotomi ilmu pengetahuan yang terjadi di berbagai tempat di dunia.”

Titipan untuk Rektor UIN dan STAIN

Kepada rektor UIN dan ketua STAIN yang baru dilantik, Menag menitipkan tiga hal:
Pertama, UIN, IAIN dan STAIN harus memperhatikan standar keunggulan sebagai perguruan tinggi dalam segala bidang, fungsi dan aspeknya.

“Oleh karena itu, pengembangan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri perlu memperhatikan keseimbangan antara kemajuan infrastruktur sarana-prasarana fisik dengan kemajuan akademik.”

Kedua, transformasi UIN, IAIN dan STAIN tidak boleh menjadikan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri tercerabut dari akar dan khittah yang melandasi keberadaannya kebih dari setengah abad sejak pertama kali PTAIN didirikan di Yogyakarta.

Ketiga, perguruan tinggi keagamaan Islam yang diselenggarakan oleh pemerintah harus mampu menjadi agen reformasi birokrasi yang baik, modern dan akuntabel.

“Untuk itu, seorang Rektor Universitas dan Ketua Sekolah Tinggi dalam memimpin perguruan tinggi harus mampu menggabungkan kekuatan nalar intelektual, nalar birokrasi dan nalar sosial,” kata Menag.

Pelantikan rektor baru ini mengakhiri kekosongan kepemimpinan UIN Sunan Kalijaga sejak September 2015. Selama ini UIN Sunan Kalijaga di bawah pimpinan rektor sementara, Prof. Dr. H. Machasin, M.A.

kemenag.go.id