Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi MA., PhD.

SETIAP agama memiliki cara tersendiri untuk menyeru umatnya melakukan peribadatan. Ada yang menggunakan lonceng seperti agama Kristen, meniup terompet seperti umat Yahudi, atau menyalakan api seperti penganut Zoroaster. Di sisi lain, Islam menyeru umatnya dengan panggilan azan.

Secara bahasa, azan berarti ‘pemberitahuan atau seruan’ (al-i’lam wa an-nida’). Selama ini azan hanya dipahami sebatas seruan pertanda masuknya waktu salat, khususnya salat wajib lima kali sehari semalam. Seruan salat memang dilantunkan pada bagian keempat kalimat azan, hayya ‘ala as-salat(Marilah salat!).

Namun yang luput dari perhatian dan pemahaman justru bagian kelimanya, hayya ‘ala al-falah, yang biasa diartikan “marilah menuju kemenangan.” Jika diperhatikan, kata al-falah seakar dengan kata al-fallah. Kata al-fallah menggunakan bentuk penyangatan (sigat mubalagah) yang mestinya dimaknai “Maha Menang”, tetapi orang Arab mengartikannya ‘petani.’

Mengapa demikian? Jawabannya harus melihat konteks perekonomian saat Islam pertama kali dirisalahkan. Dunia saat itu dikuasai oleh corak perekonomian agraris.
Sementara itu, Jazirah Arab, khususnya wilayah Mekkah, sangat kering dan tandus.
Padahal menurut Alquran, air merupakan sumber kehidupan, sebagaimana disebut da-lam QS. Al-Anbiya’: 30 “…Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu hidup.”

Karena itu, kalimat hayya ‘ala al-falahada-lah seruan kepada umat Islam untuk berge-rak menuju ke pusat-pusat air. Seruan ini ke-mudian berkorelasi dengan perintah wudu atau bersuci dengan air yang merupakan syarat sahnya peribadatan seperti salat. Jadi, salah satu hikmah perintah azan dan wudu adalah untuk menggiring dan mengorien-tasikan umat Islam menuju ke pusat-pusat air. Hikmah inilah yang selama ini belum diungkap para ulama.

Dengan menggiring umat Islam ke pusat air, berarti juga mengarahkan mereka ke pusat pertanian, dan sekaligus pusat perekonomian. Pusat-pusat perekonomian yang saat itu berada di jantung kekuasaan di ba-wah kendali imperium Bizantium Romawi dan Sassanid Persia, lambat laun digantikan oleh umat Islam.

Dari sinilah kita saat ini dapat memahami mengapa umat Islam menduduki kawasan-kawasan pertanian terbaik di dunia, yang disebut dengan wilayah Bulan Sabit. Yaitu, wilayah berbentuk bulan sabit yang mengandung tanah basah dan subur di antara tanah gersang atau semigersang di kawasan Mesopotamia, sekeliling Sungai Tigris dan Efrat, hing-ga ke lembah Sungai Nil dan delta Sungai Nil. Wilayah ini mencakup sebagian besar Asia Barat dan Afrika Timur Laut. Tidak kalah penting juga kawasan Nusantara.

Dengan demikian, azan adalah seruan akidah sekaligus seruan ekonomi. Dengan azan, umat Islam digiring menuju tempat ibadah, tetapi harus langsung menempel dengan pusat air, yang berarti pusat pertanian dan pusat perekonomian. Selain itu, air juga berhubungan dengan budaya maritim karena dua pertiga bumi adalah air.

Dalam hadis yang diriwayatkan Tabrani, Rasulullah memerintahkan umat Islam agar mengajarkan anak-anak mereka memanah, berkuda, dan berenang. Perintah terakhir (belajar berenang) dapat dimaknai sebagai seruan untuk menguasai teknologi maritim.

Salah satu sebab kemunduruan kekhalifahan Islam karena wilayah kekuasaan Islam di kawasan Bulan Sabit (Asia Barat) tidak memiliki kekuatan maritim. Padahal, wilayah ini dikelilingi tujuh laut utama, yaitu Laut Arab, Laut Merah, Laut Tengah, Laut Aegea, Laut Hitam, Laut Kaspia, dan Teluk Persia. Karena itu, jika umat Islam ingin jaya kembali, ia harus mengikuti seruan azan untuk menguasai pusat-pusat air, pusat perekonomian, dan teknologi, tidak terkecuali maritim. Hayya ‘ala al-falah! (*)-d

Kedaulatan Rakyat, JUMAT KLIWON, 24 JUNI 2016 (19 PASA 1949)

Related Post

 

Tags: