Mohammad Zamroni
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dalam mengarungi samudera kehidupan, kita seringkali dihinggapi berbagai ujian hidup. Roda kehidupan pun terus berputar seiring kehendak sang pemutar kehidupan di dunia ini. Fenomena hidup masyarakat, juga menunjukkan adanya kesenjangan yang timpang. Seolah yang kaya tak kan terkejar oleh yang miskin, pejabat tak kan pernah terkalahkan oleh rakyat jelata, begitu seterusnya.

Sementara itu yang kaya terus menumpuk-numpuk pundi-pundi kekayaannya, sedangkan yang miskin bersikeras kerja siang malam demi harapan menjadi orang kaya. Begitu pula yang terjadi pada diri pejabat dan rakyat jelata. Namun, itu semua tiadalah berarti ketika tiada keberkahan dalam hidupnya. Lantas pentingkah keberkahan hidup itu?.

Sesungguhnya, berkah ini sering kita jadikan tujuan hidup di samping mencari ridho Allah Swt. Keberkahan membuat hidup kita menjadi bahagia. Kita ingat semasa di pesantren, sekolah, dan kampus, kita diajarkan niat yang penting mencari berkah, bukan sekedar kepintarannya. Kalau sekadar pintar saja tetapi tidak berkah maka ilmu tersebut bisa menjadi malapetaka.

Ketika di rumah, orang tua kita juga memberi pesan agar dalam hidup, yang kita cari adalah berkah. Dan berkah ini tidak selalu berkorelasi dengan banyaknya harta yang kita miliki. Ada sebuah hadits yang sering dijadikan doa, terutama kepada pengantin yang seringkali dijadikan sebuah kutipan dalam undangan pernikahan. Artinya: “Semoga Allah memberi berkah untukmu, memberi bekas atasmu, dan menghimpun terserah di antara kalian berdua.” (HR At-Turmudzi).

Ternyata, bahasa laka dan alaika digunakan oleh Rasulullah dalam hadits tersebut supaya orang itu mendapat keberhakah baik dari hal yang enak maupun yang tidak enak. Semuanya ada nilai keberkahannya. Bagi sementara orang, keberkahan itu sesuatu yang enak secara fisik saja. Padahal bisa jadi, yang tidak enak itu lah yang sebenarnya menjadi berkah.

Misalnya, setelah menjadi seorang anggota DPR, Gubernur, Walikota, Bupati dan jabatan lainnya harus masuk penjara. Ini menunjukkan sesuatu yang tampaknya enak, beruoa jabatan tinggi yang dihormati banyak orang, ternyata malah membawa bencana. Namun sebaliknya, orang sakit juga bisa mendapat keberkahan karena dengan beristirahat, maka ia memiliki kesempatan untuk mengevaluasi dirinya, momen yang sulit diperoleh lantaran kesibukan dirinya. Ini menunjukkan bahwa antara yang menguntukan dan tidak menguntungkan, sama-sama mendapat peluang mendapat keberkahan.

Nah, bertambahnya sesuatu ternyata juga belum tentu membawa kebaikan jika tidak mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang tambah umurnya belum tentu lebih berkah, orang yang tampak rejekinya juga belum tentu tambah berkah. Demikian pula, orang yang tambah ilmu belum tentu mendapatkan berkah jika ilmu tersebut hanya menjadi kebanggaan diri, bukan untuk diajarkan kepada orang lain atau untuk menambah keimanan kepada Allah. “Barangsiapa bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuk yang ia raih, niscaya dia hanya menambah jauh jarak dari Allah”. Jadi ilmu tambah bukan berarti semakin dengan dengan Allah. Ini adalah cerminan dari ilmu yang tidak berkah.

Berkah itu maknanya kebahagiaan, orang berbahagia itu sering diukur hanya dari ukuran fisiknya. Benarkah demikian? Dalam pandangan agama, tanda-tanda kebahagiaan tidak selalu yang tampak secara dhahir. Karena tampilan lahiriah sejumlah orang bisa saja seolah bahagia, tapi batin mereka menderita. “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (QS: al-Rum, 21).

Sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah adalah Ia menciptakan istri-istri yang dapat menentramkan jiwa dan menciptakan kasih sayang antara keduanya. Kebahagiaan rumahtangga bukan terletak pada kecantikan istri atau kekayaan suami. Contohnya, apa iya kalau punya istri cantik terus bahagia. Mungkin iya, tetapi mungkin saja tambah pusing. Belum tentu mendapat kebahagiaan. Betapa banyak pasangan cantik yang justru berakhir pada perceraian. Bahkan rata-rata penggugat datang dari perempuan. Ini bukti bahwa mereka tidak bahagia. Karena itu, hal yang bersifat dhahir menarik tidak menjamin rasa bahagia. Standar untuk menilai kebahagiaan keluarga tidak dilihat dari harta apa yang dimiliki, tetapi apakah suami istri tersebut memiliki akhlak yang baik. Jika mereka memiliki akhlak yang mulia, insyaallah mereka akan berbahagia.

Akhirnya, keberkahan itu sendiri sejatinya bisa kita raih dengan senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah Swt seraya terus menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, seperti syukur, qana’ah, gemar bersedekah, berbakti kepada kedua orang tua, dan lain sebagainya. Semoga.

Bernas, 16 Juni 2016

 

Related Post

 

Tags: