Mohammad Zamroni
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Suatu hari, Kahlil Gibran bertanya pada gurunya, “bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?”. Sang guru lantas menjawab: “berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang.”

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Kahlil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya:”mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun..?. Gibran menjawab:”sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi..”

Sambil tersenyum Sang Guru berkata: “Ya, itulah hidup. Semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tidak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki itu tidaklah pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan”.

Sungguh cerita singkat di atas, merupakan potret realitas kehidupan masyarakat kita akhir-akhir ini. Di tengah-tengah segala kemudahan yang diperolah masyarakat, karena tersedianya berbagai kebutuhan hidup telah memaksan diri seseorang untuk terus mencari kesempurnaan-kesempurnaan hidupnya. Padahal kesempurnaan itu tidaklah ada sampai kapan pun.

Lihat saja, jarang orang puas dengan apa yang sudah diraihnya. Orang yang berkelebihan harta bukan merasa cukup menerimanya, tapi terus berupaya mencari kesempurnaan harta yang banyak hingga tak jarang mereka melakukan korupsi. Mereka yang sudah memiliki jabatan pun tak cukup sempurna baginya misalnya anggota DPR bila belum menduduki jabatan Menteri, Gubernur dan jabatan eksekutif lainnya.

Sebagai orang mukmin, sesungguhnya bukan kesempurnaan hidup yang harusnya dicari tetapi orang mukmin yang kuat itulah yang disukai. Ini pula yang dikatakan Abi Hurairah ra. berkata Rasulullah Saw:”Orang mukmin yang kuat itu lebih disukai dan lebih baik bagi Allah ketimbang mukmin yang lemah. Di dalam setiap hal yang baik itu, ada yang lebih baik. Rengkuhlah apa saja yang berguna bagimu dan mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila sesualu menimpamu, jangan (sekali-kali) kamu ucapkan: “(Wah) andaikata aku kerjakan begini. niscaya begitulah hasilnya”. Tetapi katakan: Allah telah menentukan (taqdir)-Nya. Apa yang Dia kehendaki. Dia laksanakan”. Maka sesungguhnya (pengandaian) itu membuka kerja Syaithan”. (HR. Muslim).

Benarlah mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik ketimbang mukmin yang lemah. Kuat itu bisa bermacam-macam maknanya; kuat badan, kuat ekonomi, kuat kedudukan, kuat mental dan lain-lain yang dapal diperbandingkan dcngan yang lain. Kuat secara sendiri-sendiri atau kuat sccara bersama-sama.

Menurut sunnah Allah, seorang menjadi kuat, ditentukan oleh faktor penunjang. Kuat badan ditunjang oleh kekekaran dan sempurnanya susunan tubuh, Itu juga ditentukan oleh gizi, Kuat ekonomi, ditunjang oleh harta yang dihasilkan oleh kerja keras penuh perhitungan. Kuat kedudukan ditunjang oleh kelebihan yang dimiliki, ilmu, akhlak dan cara mainnya. Kuat mental, karena iman dan kepercayaan kepada diri sendiri. Maka dia akan lebih disukai dan lebih baik di sisi Allah Swt.

Selanjutnya yang harus dijaga setelah seorang mukmin menjadi kuat, ialah jangan sekali-kali takabbur, sombong, dan congkak. Sebab harus diingat segala yang baik itu ada yang ‘lebih baik’ ada pula yang paling baik. Dari sabda Nabi “wa fii kulli khoir khoir” dapat menyimpulkan sebagai anjuran agar seorang mukmim (yang kuat itu) tidak cepat puas. Lalu berhenti melakukan kegiatan untuk mencapai prestasi lebih baik lagi. Orang mukmin lurus tetap dinamis. Kalau dia telah mencapai prestasi baik, di atasnya masih ada yang lebih baik. Begitu seterusnya secara tasslsul, sambung menyambung.

Kekuatan yang ada pada diri mukmin yang diabdikan untuk kepentingan hidup, adalah sudah pada tempatnya. Namun dalam memilih pengabdian, haruss dipilih yang ada gunanya bagi dirinya dengan tidak melupakan kontak dengan Allah. Hambatan berupa kesulitan tidak menjadikannya lemah. Karena kontaknya dengan Allah itu tadi.

Bagi masyarakat awam, yang paling sulit ialah mengatur hati, kalau suatu saat harus menanggung akibat dari perbuatannya. Karena ada ‘sebab’. Contoh soal, kebanyakan dari kita, dalam menjawab sebuah pertanyaan: “mengapa kenyang?” ialah: “karena menghabiskan empat piring nasi”. Mengapa mati? Dijawab:”karena serangan jantung”. Andaikata kamu tidak makan. Andaikata serangan jantung itu ketulungan dokter ahli? Secara spontan akan dijawab:”Ya tidak lapar. Ya belum mati”. Di sinilah tampaknya orang banyak tergelincir. Padahal orang mukmin harus yakin, bahwa bagaimanapun kehendak (irodat) dan taqdir Allah, pasti terjadi, ada sebab atau tidak. Karena Allah telah menaqdirkan, apa yang Ia kehendaki Ia lakukan.

Ingat pengandaian dikatakan sebagai pembuka kerja Syaithan. Artinya membuka peluang Syaithan untuk mengusik keyakinan dan iman kemudian menjerumuskan. Pengandaian sama saja dengan menyesali apa yag terjadi. Padahal yang terjadi karena irodat Allah adanya. Menyesali apa yang terjadi, yang berarti menyesali irodat Allah, sama saja dengan ingkar terhadap kekuasaan Allah Swt. Dengan begitu iman jadi terganggu. Bukankah Syaithan itu pengganggu? Mengganggu dada tempat bersemayamnya hati?.

Akhirnya secara keseluruhan, mengawali ibadah puasa di bulan Ramadan tahun ini, dianjurkan agar orang mukmin tidak berhenti berjuang, amar-makruf, nahi munkar, dan bersabar apabila di suatu saat kesandung aral. Tidaklah dianggap benar orang mukmin yang malas, lebih suka ‘enak saja’, menunda-nunda urusan dan memulangkan semua yang terjadi kegagalan atau keberhasilan kepada pengandaian. Berjuang,amar makruf, dan nahi munkar dengan segala akibatnya, adalah perintah Allah Swt. Meskipun sedapat-dapatnya diikhtiarkan kemungkinan menimpanya bahaya, disebabkan oleh kesalahan lagkah, boleh dihindari. Tetapi apabila sudah menimpa, itu bukan karena akibat dari melaksanakan perintah, namun lebih karena taqdir Allah semata-mata.***

Bernas, 6 Juni 2016

Related Post

 

Tags: