Faisal Ismail
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kaliajaga Yogyakarta

SEBAGAI umat beriman, kita bersyukur karena Allah sampai saat ini kita masih dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan, yaitu bulan yang di dalamnya sarat dengan anugerah, berkah, rahmat, dan ampunan-Nya.

Ini berarti kita masih diberi nikmat kesehatan, kekuatan, kesanggupan, dan kesempatan oleh Allah untuk meraih kembali momentum ilahiah dan sekaligus merengkuh kembali nilai tambah Ramadhan dengan cara mengerjakan berbagai amal kebaikan pada bulan suci ini dengan penuh apresiasi keimanan dan ketakwaan.

Memang sudah seharusnya kita secara sadar dapat memaknai momentum Ramadan ini dan sekaligus merengkuh nilai-nilai tambah yang terkandung di dalamnya agar ibadat puasa dan ibadat-ibadat yang lain di bulan suci ini memiliki relevansi, korelasi, dan signifikansi dalam perjalanan pengalaman kerohanian kita sebagai hamba-Nya.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu bentuk ritual keagamaan yang secara universal telah dibakukan dalam struktur ajaran Islam. Dengan jumlah hari dan cara yang berbeda, Allah juga telah mewajibkan ibadat puasa ini sebagai salah satu ibadat pokok kepada umat-umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad.

Allah menetapkan puasa Ramadhan sebagai salah satu dari lima pilar ibadat Islam. Empat rukun Islam yang lain adalah membaca syahadat, salat wajib sebanyak lima kali sehari semalam, zakat, dan haji. Zakat dan ibadat haji diwajibkan bagi orang Islam yang mampu secara finansial (bagi yang tidak mampu tidak terkena kewajiban).

Dalam hal ini, Allah tidak membebani kewajiban kepada hamba-Nya bagi yang tidak mampu secara finansial. Puasa Ramadhan dilakukan dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual antara suami-istri dari sejak terbit fajar sampai dengan terbenam matahari.

Puasa ini dilaksanakan selama satu bulan. Sebelum fajar terbit atau sebelum waktu imsak datang, kita sudah selesai makan sahur. Pada saat matahari terbenam atau waktu magrib tiba, kita segera berbuka.
Perintah Allah yang menjadi dasar kewajiban bagi umat Islam untuk berpuasa Ramadan terdapat dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 183:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu sekalian berpuasa sebagai-mana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian; semoga dengan puasa itu, kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertakwa.

Bagi kita sebagai umat beriman, momentum ilahiah Ramadan ini mempunyai seperangkat hikmah yang sangat berkorelasi positif, saling terkait dan tak terpisahkan, memiliki makna teologis-psikologis-sosiologis, dan mengandung nilai tambah yang sangat luas dan mendalam, antara lain sebagai berikut.

Pertama, puasa Ramadhan dapat membentuk para pribadi pengamalnya (shaimun) menjadi sosok manusia yang bertakwa. Takwa merupakan tujuan utama ibadat puasa.

Derajat takwa tidak secara otomatis kita peroleh dengan hanya menyatakan iman kepada Allah, tetapi kita harus secara intens mengupayakannya secara berkesinambungan dan dengan penuh ikhlas mengabdi dan berbakti kepada-Nya.

Kita harus beribadat secara benar, intens, tekun, tulus, dan ikhlas kepada-Nya untuk meraih derajat takwa itu. Pribadi yang takwa adalah sosok pribadi yang secara konsisten mampu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kedua, bulan Ramadhan adalah ajang latihan mental-rohaniah dan fisikal-jasmaniah yang sangat intens. Secara mental-spiritual, puasa Ramadan bertujuan untuk mencapai kualitas iman dan takwa yang tangguh dan konsisten.
Misalnya, para shaimun tidak diperbolehkan melakukan perbuatan tercela dan tidak terpuji seperti ngrasani, menggunjing, berdusta, berbohong, memberi kesaksian palsu, berbuat culas, marah, menyumpah serapah, berlaku tidak senonoh atau mengeluarkan kata-kata kotor karena perbuatan-perbuatan demikian dapat mengurangi nilai dan kualitas puasa.

Secara fisikal-jasmaniah, para pengamal puasa juga dilatih dan ditempa selama sebulan misalnya tidak makan, minum, dan berhubungan seks (dengan istri) sejak fajar terbit sampai dengan matahari tenggelam. Ramadhan adalah momentum pendidikan spiritual, moral, dan fisikal yang dapat membentuk pribadi yang tangguh dan pribadi yang disiplin secara spiritual, moral, akhlak dan fisikal.

Ketiga, Ramadhan adalah bulan yang penuh limpahan ampunan Allah. Sebenarnya di luar Ramadhan pun Allah akan memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang bertaubat secara benar dan sungguh-sungguh (taubatan nasuha).

Tetapi, bulan Ramadhan memiliki momentum tersendiri. Momentum penting ini antara lain dinyatakan oleh Nabi bahwa orang yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan kemantapan, dosa-dosa kecilnya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah.

Ramadhan adalah bulan yang penuh curahan berkah, rahmah, dan ampunan. Allah melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya dan menerima taubat dari hamba-Nya.

Selain menunaikan puasa sebagai kewajiban ritual, kita juga dimotivasi untuk melakukan amalan-amalan sunah seperti melaksanakan salat tarawih, salat rawatib, mengaji, beritikaf di masjid, berzikir, salat tahajud, tadarus (membaca Alquran secara bersama-sama di masjid), membaca buku-buku keagamaan, berinfak, dan bersedekah.

Keempat, Ramadhan adalah bulan pelipatgandaan amal dan pengejawantahan kesadaran kesetiakawanan sosial. Puasa Ramadan mendorong para pengamalnya untuk beramal kebaikan dan bersolidaritas sosial sebanyak mungkin.
Rasa lapar, haus, dahaga, keprihatinan, dan ”penderitaan” yang secara langsung dialami pada bulan Ramadan akan mengetuk lubuk hati para pengamalnya untuk beramal kebajikan dan bersolidaritas sosial.

Kesadaran kesetiakawanan sosial ini harus direalisasikan dalam bentuk pemberian zakat (mal dan fitrah), infak, dan sedekah kepada kaum dhuafa yang memang pantas perlu ditolong.

Dalam harta orang yang kaya, mampu, dan berlebih, terdapat hak kaum dhuafa yang harus diberikan kepada mereka dalam bentuk zakat (zakat mal sebanyak 2,5%), zakat fitrah, infak, dan sedekah.

Dengan begitu, kaum dhuafa itu merasa terbantu kebutuhan hidup mereka selama bulan Ramadan dan pada gilirannya mereka dapat juga me-rayakan Idul Fitri dengan perasaan senang dan bahagia.

Berbagi rezeki dan kebahagiaan dengan kaum dhuafa adalah suatu kemuliaan tersendiri bagi orang-orang yang mempunyai kelebihan harta.

Di situlah terpancar sekaligus ukhuwah insaniah dan ukhuwah islamiah dalam satu kesatuan kesadaran iman yang padu dan utuh dalam praktik nyata kehidupan umat Islam dalam bermasyarakat dan berbangsa.

 

Koran Sindo, Senin, 6 Juni 2016

Related Post

 

Tags: