BAYU MITRA A. KUSUMA , dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

BULAN Ramadan adalah saat yang sangat dinanti-nantikan oleh umat Islam karena dianggap sebagai momen yang suci dan sakral untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di bulan Ramadan pula aktivitas dakwah Islam terasa begitu kental. Mulai dari agenda sederhana masjid-masjid di perkampungan sampai dengan media televisi pun berlomba-lomba untuk menyajikan acara dengan corak dakwah. Terlebih di sepuluh hari terakhir dimana setiap muslim merindukan lailatul qodar.

Dakwah pada dasarnya adalah gerakan mengajak pada perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan munkar (amar ma’ruf nahi munkar). Namun yang menjadi permasalahan adalah tidak semua orang mampu memahami dakwah secara kontekstual. Akibatnya masih sering kita jumpai orang yang salah dalam mengartikan dakwah, terlebih dalam mengaplikasikannya. Dimana biasanya mereka bertindak dengan mengatasnamakan dakwah, namun tindakan mereka justru kontra produktif terhadap nilai-nilai mulia dalam dakwah.

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Pemerintah Kota Serang melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia terhadap para pedagang atau warung makanan di awal Ramadan tahun ini (8/6). Semua barang dagangan disita oleh Satpol PP dengan alasan adanya larangan berjualan makanan di siang hari selama Ramadan. Ironisnya razia tersebut hanya menyasar pada pedagang-pedagang kecil, sedangkan restoran besar ataupun restoran cepat saji milik asing luput dari razia dan dibiarkan begitu saja. Sontak kejadian tersebut memancing reaksi negatif dari masyarakat luas. Bahkan Gubernur Banten, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama pun turut angkat suara menyayangkan tindakan represif Satpol PP tersebut. Semestinya pemerintah khususnya Satpol PP menjadi “pamong” yang baik dan mampu mengayomi masyarakat.

Selain itu tindak kekerasan yang mengatasnamakan dakwah atau penegakan syariah juga sering kita dengar dilakukan oleh ormas-ormas berhaluan “keras”. Terlebih di bulan suci Ramadan, ormas-ormas tersebut kerap beraksi dengan beringas dan brutal.

Padahal mereka semestinya paham bahwa esensi puasa Ramadan bukan hanya menahan haus dan lapar, melainkan juga menahan hawa nafsu termasuk di dalamnya adalah emosi atau amarah. Namun faktanya sweeping oleh ormas terhadap pihak yang mereka anggap mengganggu kesucian bulan Ramadan sering di lakukan dengan ancaman bahkan pengrusakan.

Meluruskan fenomena yang terjadi di atas, kekerasan tentu tak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan firman Allah SWT yang artinya “serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 125). Kita perlu mengingat bahwa perintah puasa Ramadan ditujukan kepada orang-orang yang beriman (ya ayyuha alladzina amanu), bukan kepada seluruh manusia (ya ayyuha annas).

Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa menjalankan ibadah puasa adalah didasarkan pada kesadaran bukan paksaan. Oleh karena itu telah jelas bahwa upaya dakwah seperti mengajak berpuasa dan segala aktivitas pendukungnya hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan yang cenderung ke arah premanisme. Dari situlah akan terlihat siapa kah orang yang hanya memiliki kesalehan individual dan orang yang juga memiliki kesalehan sosial.

Bila mengacu pada Ibn Taymiyah yang kerap menjadi patron bagi kelompok Islam “garis keras” sekalipun, menyatakan bahwa “orang yang ingin beramar makruf nahi munkar harus memiliki tiga bekal utama yaitu ilmu, kelemahlembutan, dan kesabaran” . Ilmu diperlukan agar setiap manusia bertindak dengan bekal pengetahuan dan pemahaman yang baik atas permasalahan yang dihadapi.

Kelemahlembutan dibutuhkan untuk mengajak pada kebaikan dan melawan kemunkaran secara persuasif. Dan kesabaran bermanfaat untuk menahan diri dari emosi atau tindak kekerasan yang justru akan merugikan. Ini karena tidak semua tujuan dakwah dapat tercapai dengan sekali jalan. Kadang dakwah harus dilakukan secara berulang-ulang dengan penuh kesabaran agar tujuan dakwah dapat tercapai. Dengan ber pedoman pada ilmu, kelemahlembutan, dan kesabaran maka dakwah akan tersampaikan dengan damai dan kekerasan dapat diminimalisasi. Layaknya Islam yang diturunkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). (*)

Radar Banyuwangi, Senin, 4 Juli 2016, halaman 36.

Related Post

 

Tags: