20160704tol-brebes-timur-macet

Kendaraan pemudik antre menuju gerbang exit tol Pejagan-Brebes Timur, Jawa Tengah, Sabtu (2/7). (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Bayu Mitra A. Kusuma

BAGI umat Islam di Indonesia mudik merupakan momen besar tahunan yang selalu disambut penuh antusias. Mudik dapat dipandang melalui dua perspektif, yaitu kultural dan spiritual.

Secara kultural mudik adalah momen kembalinya imajinasi masa lalu tentang kampung halaman, tentang napak tilas identitas kultural dan genealogis seorang manusia, serta menjadi sarana pelepas kerinduan kepada keluarga. Secara spiritual, mudik adalah media sakral untuk saling bermaafan di kampung halaman saat Lebaran, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan sebulan penuh.

Sayang, sebagai tradisi kultural, kadang mudik justru keluar dari esensi spiritualitas. Sehingga, kadang mudik seakan-akan menjadi tak jauh beda dengan festival atau pesta semata. Hiruk-pikuk mudik secara nyata dapat kita lihat melalui padatnya ruas-ruas jalan oleh kendaraan bermotor yang berujung pada kemacetan.

Apalagi, pada Lebaran tahun 2016 ini kemacetan di jalur-jalur mudik semakin menjadi-jadi. Terjadinya kemacetan parah di berbagai kawasan memang patut disayangkan.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa lemahnya manajemen transportasi arus mudik dan balik. Kemacetan tersebut terjadi mulai wilayah yang dekat dengan Banyuwangi, seperti dari Klakah menuju Probolinggo. Semakin ke barat, tepatnya pertigaan Kertosono-Nganjuk. Sampai yang terparah di Brebes yang kemudian populer dengan sebutan Brebes Exit atau Brexit. Masalah itu mengakibatkan berbagai kerugian, mulai lamanya waktu yang terbuang. Terlebih Brexit membuat pemudik sangat kelelahan hingga mengakibatkan beberapa nyawa melayang.

Penumpukan kendaraan pada arus mudik dan balik semestinya dapat diantisipasi secara lebih dini, mengingat fenomena itu terjadi setiap tahun dan dipastikan selalu disertai meningkatnya volume kendaraan. Apalagi, saat ini zaman sudah demikian canggih, sehingga pemantauan kepadatan kendaraan dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media, seperti satelit atau menggunakan drone.

Namun, menyalahkan pemerintah saja tidak akan menyelesaikan masalah. Kita juga harus menghargai berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengamankan dan menyamankan arus mudik dan balik meskipun memang hasilnya kurang maksimal. Jika kita telisik lebih jauh, munculnya fenomena seperti Brexit juga tak lepas dari ego para pemudik.
Para pemudik cenderung ingin membawa mobil pribadi saat pulang ke kampung halaman.
Tujuannya, tentu menunjukkan eksistensi kepada handai taulan di kampung. Meskipun kalau boleh jujur, belum tentu mobil yang dibawa pulang oleh para pemudik adalah mobil milik pribadi. Sebagian mobil tersebut adalah milik kantor, hasil sewa, dan lain sebagainya.

Memang benar bagi sebagian pemudik membawa mobil pribadi adalah kebutuhan. Seperti mereka yang membawa bayi dan balita, dan mereka yang membutuhkan kendaraan untuk mengangkut keluarga besar ketika bersilaturahmi di kampung.

Selain itu, disadari atau tidak, membawa mobil saat mudik juga salah satu indikator kesuksesan dan dapat meningkatkan gengsi di depan banyak orang. Sudah saatnya kita mulai menanamkan paradigma bahwa salah satu indikator sebuah negara modern bukanlah jika masyarakatnya semakin banyak yang menggunakan kendaraan pribadi, melainkan jika semakin banyak masyarakatnya yang menggunakan moda transportasi umum.

Memang harus diakui bahwa kualitas dan kuantitas moda transportasi umum di Indonesia masih jauh dari kata memadai. Tetapi, jika dilihat lebih jauh, para pemudik juga enggan memanfaatkan moda transportasi umum yang dalam kondisinya baik sekalipun. Salah satu contoh kecil adalah banyaknya bangku kosong pada bus patas jurusan Surabaya-Jogjakarta. Padahal, jika kita hitung secara kasar, seandainya satu bus terisi penuh, paling tidak dapat mengurangi sekitar delapan mobil di jalan.

Oleh karena itu, harus ada kesadaran dari kedua belah pihak, baik pemerintah maupun pemudik. Bagi pemerintah, sudah sewajibnya terus meningkatkan keamanan dan kenyamanan mudik, seperti perbaikan infrastruktur mencakup kualitas jalan, dan lain-lain. (*)

Radar Banyuwangi, 16 Juli 2016

Related Post

 

Tags: