Faisal Ismail
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

SELAMA bulan suci Ramadan berlangsung, kaum muslimin tak henti-hentinya mengingat, menyebut, dan mengagungkan nama Tuhan dan sifat-sifat kebesaran dan kemuliaan-Nya. Dari pagi, siang, sore, petang, malam, dini hari, sampai fajar, nama Tuhan dan sifat-sifat Agung-Nya selalu terus diingat, disebut, dan diresapi dalam setiap riak perasaan, relung hati, gerak pikiran, dan tindak perbuatan.

Diskusi dan wacana keagamaan diselenggarakan di kampus-kampus perguruan tinggi demi memuliakan bulan Ramadan, mendalami ilmu pengetahuan keagamaan, dan membesarkan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Pesantren kilat pun dilaksanakan di banyak sekolah atau pondok pesantren sehingga kesemarakan Ramadan dan pemuliaan nama Tuhan terasa begitu berdenyut. Setiap saat pada bulan suci Ramadan, nama Tuhan diingat, disebut, dan dimuliakan dalam prosesi zikir, wirid, itikaf, dan tadarus Alquran baik di rumah, surau, langgar, musala, maupun di masjid.

Kemahabesaran, Kemahasucian, dan Kemahaagungan Tuhan disebut dalam berbagai khutbah salat Jumat, kultum, mauizah hasanah, tausiah, dan ceramah yang diselenggarakan sebelum salat tarawih dan sesudah salat subuh selama bulan Ramadan. Semua televisi di Tanah Air bahkan menayangkan program spesial Ramadan dengan menyajikan kultum, tausiah, ceramah, atau pun tayangan sinetron yang di dalamnya selalu menyebut nama Tuhan dan sifat-sifat-Nya yang Maha Suci, Maha Mulia, dan Maha Agung.

Para ustad dan dai kondang ditampilkan dalam acara keagamaan di semua stasiun televisi untuk mengisi program spesial Ramadan. Ustad Solmed, Guntur Bumi, Zacky Mirza, Wijayanto, Jujun Junaidi, dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) misalnya menyampaikan tausiah, siraman rohani, atau ceramah Ramadan di televisi. Rekaman tausiah atau ceramah Ramadan yang pernah disampaikan oleh dai sejuta umat almarhum KH Zainuddin MZ, almarhum Ustad Jefri Al Buchori, dan almarhum Munzir Al-Musawa juga ditayangkan ulang karena isinya tetap menarik dan sangat relevan dengan suasana Ramadan. Tiga dai kondang ini disebut sebagai “Yang Tak Terlupakan.”  Kajian Tafsir Al-Misbah oleh Prof Dr Quraish Shihab juga dijadikan salah satu program spesial Ramadan. Sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” diprogram begitu rupa sehingga dialog, lakon, dan adegannya disesuaikan dengan momentum dan suasana Ramadan.

Para artis muslimah yang di luar Ramadan berbusana tidak menutup aurat, pada bulan suci Ramadan mereka menutup aurat atau berbusana muslimah. Program “Jejak Islam,” “Khazanah Islam” dan “Ramadan di Berbagai Negara” yang ditayangkan di beberapa televisi juga tidak lepas dari upaya untuk menyemarakkan dan memuliakan bulan suci Ramadan dan sekaligus membesarkan nama Tuhan.

***
Pendek kata, Tuhan dan sifat-sifat-Nya yang Maha Agung, Maha Mulia, dan Maha Suci terus menerus disebut, diingat, dan dimuliakan pada bulan suci Ramadan. Suasana ketuhanan yang sangat intens dan momentum kesucian Ramadan sangat terasa merengkuh relung jiwa dan lubuk hati yang paling dalam. Setiap saat, nama Tuhan, dan kesucian Ramadan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pernik-pernik ingatan individual dan ingatan kolektif umat Islam pada bulan yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah ini.

Semua jajaran pemerintah (dari pusat sampai ke daerah), aparat keamanan, dan masyarakat pada umumnya sangat menghormati dan memuliakan nama Tuhan dan kesucian bulan Ramadan. Situasi atau perilaku yang bertentangan, mengganggu, dan merusak citra kemuliaan Tuhan dan nilai-nilai kesucian Ramadan dihindari dan dihentikan. Nama Agung Tuhan dan nilai-nilai kesucian Ramadan benar-benar dihormati, disemarakkan, dimuliakan, dan dijunjung tinggi di segala ruang dan waktu.

Penghormatan dan pemuliaan terhadap Tuhan, sifat-sifat-Nya yang Maha Terpuji dan Maha Agung, dan kesucian Ramadan dibuktikan dengan penutupan tempat-tempat hiburan malam selama bulan penuh berkah ini. Polisi sibuk memantau dan menjaga agar tempat-tempat hiburan malam itu benar-benar ditutup demi menghormati bulan suci Ramadan.

Kebijakan pemerintah ini didukung oleh Majelis Ulama Indonesia dan umat Islam secara keseluruhan. Untuk menghormati dan memuliakan Tuhan dan kesucian Ramadan, polisi bertindak tegas dengan menyita dan memusnahkan ribuan botol minuman keras. Aparat keamanan juga tak segan-segan merazia dan menghentikan praktik-praktik para pekerja seks komersial demi menghormati dan memuliakan bukan suci Ramadan.

Praktik perjudian ditindak dan dihentikan demi menghormati dan memuliakan bulan suci Ramadan, yaitu bulan di mana Tuhan dan asma-Nya sangat dipuji dan diagungkan. Segala bentuk kriminalitas ditekan dan dicoba diberantas pada bulan suci ini demi menghormati dan memuliakan Ramadan dan menegakkan amar makruf ajaran Tuhan. Intensitas momentum ilahiah, suasana khusyuk peribadatan, dan kesucian bulan Ramadan benar-benar sangat dihormati dan dimuliakan.

Demikianlah penghormatan terhadap bulan suci Ramadan dan pemuliaan terhadap Tuhan di bulan suci Ramadan. Semua tampak saleh, serbaagamawi, dan beraroma surgawi. Serba Ilahiah, berakhlakul karimah, sopan, etis, dan moralis. Tuhan terasa begitu dekat dan hadir secara akrab dan fungsional dalam segala rangkaian ritual ilahiah dan amal ubudiah. Yang mampu dan berkelebihan harta berbagi rezeki dengan kaum yang tidak mampu dalam bentuk pemberian zakat mal, zakat fitrah, infak, dan sedekah.

Kesalehan individual tampak dikombinasi dengan kesalehan sosial. Kesalehan individual terintegrasi secara serasi dengan kesalehan sosial dalam bingkai ketuhanan. Suasana ketuhanan, iklim keberimanan, atmosfer keberagamaan, dan kesemarakan bulan suci Ramadan sangat terasa berdenyut selama sebulan. Nama Tuhan dengan segala sifat-Nya yang Maha Agung dan Maha Terpuji serta kesucian Ramadan sangat diapresiasi, dihormati, dan dimuliakan.

Atmosfer seperti ini terlihat lain pada pasca-Ramadan. Pada pasca-Ramadan, pemuliaan terhadap Tuhan dan ajaran-Nya mudah tergerus. Setelah Ramadan, penjualan miras tidak terkontrol lagi, prostitusi dan komersialisasi seks kambuh lagi, sebagian artis muslimah (yang pada Ramadan berbusana muslimah) tidak berbusana muslimah lagi, pergunjingan, gosip, dan grasani dilakukan lagi, suap, gratifikasi, korupsi, perjudian, dan kriminalitas lainnya muncul lagi.

Pemuliaan terhadap Tuhan dan ajaran-Nya yang pada bulan suci Ramadan diapresiasi dan diagungkan tampak “meredup” pasca-Ramadan. Memuliakan Tuhan dan menaati ajaran-Nya seharusnya tidak berbeda antara di bulan Ramadan dan di luar Ramadan.

 

Selasa,  19 Juli 2016  −  10:59 WIB

Related Post

 

Tags: