Dr Hamdan Daulay, MSi MA, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Masih adakah kejujuran di tengah umat untuk menjalankan amanah, sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas? Apalagi urusan tentang zakat yang berkaitan langsung dengan harta, sangat banyak godaan yang muncul.

Godaan itu bisa terjadi pada pihak yang mengeluarkan zakat, pengelola zakat, dan juga penerima zakat. Dan kalau muncul ketidakjujuran pada tiga kelompok ini, maka peluang korupsi sangat terbuka untuk dilakukan. Kalau pemberi zakat tidak jujur dalam menghitung zakat hartanya, berarti ia telah melakukan bagian dari praktik korupsi. Kalau pengelola zakat tidak jujur dalam menyalurkan zakat, berarti mereka juga telah melakukan praktik korupsi. Demikian pula kalau si penerima zakat tidak jujur pada dirinya sendiri (pura-pura jadi miskin), berarti ia juga menjadi bagian dari pelaku korupsi.

Dalam realitanya, ketidakjujuran pada tiga kelompok tersebut ada di tengah masyarakat. Sehingga idealisme untuk mengentaskan kemiskinan lewat pengelolaan zakat hingga kini belum bisa teraktualisasikan.

Komitmen

Islam sesungguhnya mempunyai komitmen yang tinggi pada nilai ukhuwah (persaudaraan). Makna persaudaraan dalam Islam bisa dilihat dengan aktualisasi zakat yang akan mempererat hubungan antara sesama muslim. Lewat komitmen ukhuwah islamiyah diharapkan tidak ada kesenjangan antara kelompok kaya dengan kelompok miskin, dan antara rakyat jelata dengan penguasa.

Aktualisasi nilai ukhuwah itu bisa dirasakan lewat pemberian zakat dari orang kaya (mampu kepada kelompok yang berhak menerima, seperti fakir miskin dan fii sabilillah. Lewat zakat terkandung esensi persaudaraan yang sesungguhnya, dengan adanya ketulusan dan keikhlasan untuk berbagi antara sesama. Pengeluaran zakat berarti membersihkan harta dari noda-noda dosa, karena sesungguhnya ada hak orang-orang miskin pada harta orang-orang kaya yang belum dikeluarkan zakatnya.

Masdar F Mas’udi dalam buku Agama Keadilan Risalah Zakat (pajak) dalam Islam, berpendapat, zakat merupakan pintu masuk bagi umat Islam. Apabila memang benar-benar hendak menegakkan amanat kekhalifahan dengan menegakkan keadilan dalam kehidupan sosial.

Kalau setiap muslim menyadari betapa pentingnya kewajiban zakat, maka sesungguhnya kemiskinan akan dapat dikurangi. Namun yang menjadi kendala dalam pengelolaan zakat hingga saat ini adalah karena faktor masih banyaknya umat Islam yang enggan (belum sadar) untuk mengeluarkan zakat. Dari kelompok yang mau mengeluarkan zakat, juga masih banyak yang belum jujur dalam menghitung kewajiban zakatnya. Akibatnya potensi zakat yang ada di tengah masyarakat, belum terkumpul dan terkelola secara maksimal.

Sesungguhnya sudah banyak konsep dari cendekiawan muslim tentang metode pengelolaan zakat agar bisa lebih bermanfaat dalam rangka memberdayakan kaum miskin. Mantan Menteri Agama, Mukti Ali misalnya pernah menawarkan konsep pengelolaan zakat bagi kaum miskin, dengan istilah ‘berilah kail jangan ikan’. Konsep ini menginginkan agar pengelolaan zakat diusahakan berdaya guna dengan cara mengelola zakat yang terkumpul bisa membuka lapangan kerja baru bagi kaum miskin.

Sehingga manfaat zakat menjadi lebih luas dan bisa memberdayakan kaum miskin. Lain halnya kalau ‘memberi ikan’ kepada kaum miskin. Dengan membagi habis zakat yang ada kepada kaum miskin, maka dalam hitung hari saja, zakat itu sudah habis dan tidak bisa mengeluarkan mereka dari belenggu kemiskinan.

Korupsi Zakat

Akhirnya apa pun konsep yang dipakai dalam pengelolaan zakat, kata kuncinya sesungguhnya adalah kejujuran. Jangan sampai zakat yang begitu urgen untuk membantu orang miskin dan kaum lemah dikorupsi. Zakat harus dijauhkan dari praktik korupsi, sehingga usaha memberdayakan kaum miskin lewat zakat bisa direalisasikan. Korupsi zakat bisa saja datang dari pemberi zakat yang tak jujur dalam menghitung zakat hartanya. Pengelola zakat yang tak jujur bisa juga terjebak pada praktik korupsi kalau mereka tidak menyalurkan zakat tersebut sesuai dengan aturan yang ada.

Demikian pula dengan penerima zakat yang tak jujur (berpura-pura jadi miskin) adalah bagian dari praktik korupsi yang perlu diwaspadai. Dalam realitanya praktik-praktik tersebut kini ada di tengah masyarakat, sehingga ada benarnya pendapat yang mengatakan bahwa korupsi saat ini sudah merambah ke semua lini. Sungguh betapa mahalnya kejujuran tatkala kebohongan sudah dianggap sebagai hal yang biasa. q- k

KEDAULATAN RAKYAT, SENIN KLIWON, 4 JULI 2016 ( 29 PASA 1949)

Related Post

 

Tags: