henri-subiyakto-forkopis-kpi-fakultas-dakwah-komunikasi-uin-sunan-kalijaga-yogyakarta

Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Drs Henri Subiakto SH MA, dalam seminar nasional dan konggres Asosiasi Prodi KPI se-Indonesia (Forkopis) di kampus UIN Sunan Kalijaga, Selasa (30/8).

JOGJA-Media massa maupun media sosial menjadi salah satu cara berdakwah di era teknologi informasi saat ini. Namun seringkali dakwah yang dilakukan masih sebatas simbol.

“Padahal simbol-simbol tak melulu berkolerasi dengan nilai-nilai ke-Islaman. Akhirnya persepsi Islam tidak sesuai ajaran karena sebatas simbol dan penampakan yang diakibatkan banyak bias di media,” ungkap Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Drs Henri Subiakto SH MA, dalam seminar nasional dan konggres Asosiasi Prodi KPI se-Indonesia (Forkopis) bertajuk ‘Komunikasi Islam di Tengah Pergulatan Agama, Media dan Politik Indonesia’ di kampus UIN Sunan Kalijaga,  Selasa (30/8).

Menurut Henri, nilai ke-Islaman juga lebih banyak ditampilkan media dalam simbol-simbol Arab, bukannya konten atau dakwah yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan agama itu. Bahkan media digunakan elit politik sebagai alat popularitas. Dicontohkan Henri, tokoh-tokoh politik memanfaatkan media televisi atas nama Islam. Belum lagi pihak-pihak lain yang menggunakan Islam hanya untuk mendulang popularitas dengan menggunakan media massa dan sosial.

“Karenanya, perlu ada revitalisasi dakwah dan ICT (internet, communication, technology- red) digunakan untuk kemaslahatan bukan sebagai alat popularitas,” katanya.

Sementara dosen komunikasi UGM, Ana Nadya Abrar, mengungkapkan pemanfaatan media sosial sebagai proses komunikasi Islam saat ini sangat fenomenal. Ribuan informasi berseliweran setiap hari tentang ajaran Islam melalui media sosial seperti facebook, twitter, blog sampai whatsaap messenger. “Kita harus memanfaatkan kondisi ini dalam rangka memformulasikan komunikasi Islam di masa mendatang,” ujarnya.

Abrar menyebutkan, meski banyak media digunakan masih saja muncul kelemahan. Akibatnya umat Islam belum bisa mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Lebih dari itu, umat Islam juga masih belum sepenuhnya mengenal Allah. Kenyataan ini menyedihkan dan harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Persoalan itu muncul, lanjut Abrar, karena solidaritas diantara umat Islam yang menggunakan media sosial belum kuat. Selain itu media sosial belum dipakai sebagai gerakan sosial untuk mencapai tujuan bersama dalam mengenal Allah.

“Kalau kita ingin memformulasikan komunikasi Islam di masa mendatang, formulasi itu harus mampu memperkuat solidaritas umat Islam yang menggunakan media sosial dan mengoptimalkan potensi media sosial untuk gerakan sosial,” katanya.(ptu)

HARIAN BERNAS, RABU PON, 31 AGUSTUS 2016, 27 DULKA’IDAH 1949 JIMAWAL