Oleh: Ana Nadhya Abrar
Penulis adalah Pengajar Fisipol UGM dan Biograf dan Narsum
Semnas-Kongres Asosiasi Prodi KPI Se-lndonesia

KOMUNIKASI Islam sudah marak. Berbagai media telah digunakan. Ada media massa. Ada juga media interaktif. Ada, bahkan, media sosial. Penggunaan media sosial, malah, sangat intensif. Pesan yang disampaikan pun sangat beragam. Lalu, apa hasilnya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, simaklah tulisan Marthias Dusky Pandu berjudul “Menyebut Muhammad SAW” dalam buku Jernih Melihat Cermat Mencatat berikut: Sudahlah sebanyak itu nama Nabi Muhammad disebut setiap hari, apakah kita ada meneladani perilaku beliau, jujur, tidak pendusta, tidak sombong, mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan larangan-Nya. Tanya pada diri kita masing-masing (hal. 176).

Kutipan ini memperlihatkan kerisauan Marthias tentang pemahaman agama Islam. Tegasnya, kalau pemahaman umat memadai, tentu mereka akan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa tidak banyak umat Islam yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladannya.

Sementara itu, di berbagai daerah terlihat anak-anak muda sangat bersemangat bersemangat beragama dan beribadah. Mereka ikhlas mengalokasi waktu berharga mereka untuk beribadah. Namun, apakah mereka sudah beribadah sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW? Sudahkah mereka memelihara kelangsungan amaliah mereka?

Tentu tidak mudah menjawab kedua pertanyaan ini tanpa penelitian yang saksama. Yang jelas, menurul A. Mustofa Bisri, dalam buku Mencari Bening Mata Air, Rasulullah tidak hanya melihat kebaikan beragama, tetapi juga kelangsungan amaliahnya (hal. 113).

Bertolak dari kenyataan ini, agaknya kita bisa menjawab pertanyaan tentang hasil komunikasi Islam selama ini; semangat beragama umat sudah tinggi, namun belum diikuti oleh pemahaman tentang agama Islam yang dalam. Jawaban ini bisa menjadi dasar untuk memformulasikan komunikasi Islam di masa mendatang. Pertanyaannya lantas, bagaimana formulasi komunikasi Islam terbaik untuk masa mendatang?

Akhir-akhir ini pemanfaatan media sosial, mulai dari Facebook, Twitter, Blog hingga WhatsApp Messenger, untuk kepentingan komunikasi Islam meningkat dengan tajam. Peningkalan ini terjadi karena beberapa keunggulan media sosial tersebut. Sebutlah misalnya, interaktivitas yang tinggi, jangkauan yang luas tanpa mengenal batas, dan biaya yang tidak mahal. Tidak heran bila banyak orang memilih media sosial untuk berbagi pengetahuan tentang Islam.

Dalam membagi pengetahuan tentang Islam, setidaknya ada tiga posisi pengirim. Pertama, orang awam. Mereka ingin membagikan pengetahuannya yang sedikit kepada orang lain. Harapannya, si penerima bisa belajar lebih lanjut.

Kedua, ustadz. Mereka menyampaikan pengetahuannya seperti berceramah. Informasinya disusun bertolak dari alur tertentu. Harapannya lebih tinggi daripada harapan untuk orang awam, agar penerima bisa menyimpan dan mengamalkan ajaran Rasulullah SAW.

Ketiga, pemikir. Mereka membahas satu masalah dengan mendalam dan terperinci. Begitu dalamnya bahasan itu, sehingga mereka seolah-olah sudah menjadi ulama. Harapannya, si penerima mengenal betul ajaran Islam.

Kalau setiap hari ada ratusan ribu pesan tentang agama Islam yang berseliweran di media sosial, baik yang disampaikan oleh pengirim berposisi sebagai orang awam, ustadz, maupun pemikir bisa dibayangkan hebatnya syiar agama Islam. Bisa dibayangkan betapa banyaknya jumlah informasi yang sampai ke tangan khalayak. Informasi tersebut akan memperkuat kesadaran umat Islam bahwa Islam merupakan rahmat bagi semesta alam. Mereka pun akan dengan sangat ikhlas mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, kenyataan menunjukkan tidak banyak umat Islam yang mampu mewujudkan “konsep” Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Tidak jarang, malah, umat Islam yang mengkafirkan umat Islam yang lain. Tidak jarang pula, bahkan, umat Islam menghujat saudaranya sendiri dengan kata-kata kasar. Padahal, menurut A. Mustofa Bisri, dalam buku Membuak Pintu Langit: Momentum Mengevaluasi Diri, “Rasulullah SAW bukanlah seorang pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan pula orang yang kasar” (hal. 12).

Kenyataan ini, sesungguhnya, mengajak kita untuk bercermin. Sebab, seperti ditulis A. Mustofa Bisri masih dalam buku yang sama, “Orang mukmin merupakan cermin mukmin yang lain. Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin saudaranya. Artinya, seorang mukmin bisa, atau seharusnya, menjadi cermin yang Iain” (hal. 18-19).

Persoalannya lantas, bersediakah kita menjadikan orang lain sebagai cerminan diri kita untuk menemukan kelemahan umat Islam? Memang tidak mudah menjawab pertanyaan ini tanpa data yang akurat. Namun, pengamatan selintas menunjukkan bahwa umat Islam sudah mulai egois. Mereka sudah mulai berasyik-asyik mengurusi diri sendiri dan abai terhadap umat Islam yang banyak.

Lihatlah, banyak orang berduit yang sudah berumrah lebih dari sekali. Sementara di lingkungannya masih banyak orang miskin. Tidak banyak umat Islam yang bersimpati pada umat Islam lain yang sedang sakit payah menjelang sakaratul maut. Kesempatan ini digunakan mereka yang beragama nasrani untuk memberikan simpatinya. Begitu besarnya simpati itu dirasakan oleh orang yang sakit sehingga dia mengganti agamanya dengan nasrani sesaat sebelum dia meninggal. Mengerikan!

Pada titik inilah sebenarnya kita melihat bahwa tidak banyak umat Islam yang bersedia mengkritisi perkembangan Islam di tanah air. Ketidakkritisan ini, sebenarnya, sudah terlihat ketika mereka menggunakan media sosial. Pada saat bermedia sosial, mereka tidak mempraktikkan prinsip interaktivitas. Prinsip interaktivitas ini, kata Pablo J. Beczkowski, dalam tulisannya berjudul “The Development and Use of Online Newspapers: What Research Tells Us and What We Might Want to Know”, mengandugn tiga petuah, yakni:
(i) kalau seseorang menerima informasi yang tidak benar, dia akan menyampaikan informasi yang benar,
(ii) kalau seseorang diminta mengungkapkan pendapatnya, dia tidak akan keberatan, dan
(iii) kalau seseorang merasa perlu meluruskan sesuatu yang menurutnya tidak pada tempatnya, dia akan mengungkapkan pengatahuannya tentang sesuatu itu dengan senang hati (hal. 278).

Pengamalan prinsip interaktivitas ini akan menjadikan orang sangat berhati-hati dalam menyampaikan pengetahuannya tentang Islam melalui media sosial. Kalau pengetahuannya tidak teruji, pengguna media sosial akan mengkritisinya. Dari sikap kritis inilah terbangun dialog. Dialog ini, pada gilirannya, akan menciptakan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam.

Mengacu kepada pendapat Max Scheler, Kasdin Sihotang dalam buku Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme, membagi solidaritas menjadi:
(i) solidaritas organis,
(ii) solidaritas mekanistis,
(iii) solidaritas personalistis (hal. 115).

Khusus solidaritas yang terakhir, siapa saja yang memilikinya akan menghormati orang lain. Mereka akan menghargai orang lain dengan segala keunikannya. Dalam konteks bermedia sosial, mereka akan mempraktikkan prinsip interaktivitas.

Formulasi Komunikasi Islam
Salah satu fenomena yang paling menonjol dalam proses komunikasi Islam sekarang ini adalah pemanfaatan media sosial. Ribuan informasi berseliweran setiap hari tentang ajaran Islam melalui Facebook, Twitter, Blog hingga Whatsapp Messenger. Kita harus memanfaatkan kondisi ini dalam rangka memformulasikan komunikasi Islam di masa mendatang.

Uraian di atas sudah menjelaskan kelemahan dan kekurangan dalam memanfaatkan media sosial untuk komunikasi Islam. Karena kekurangan itu, umat Islam masih belum bisa mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Lebih dari itu, umat Islam masih belum sepenuhnya mengenal Allah. Kenyataan ini, tentu, menyedihkan dan harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Penulis meyakini bahwa semua itu adalah akibat dari sebab. Lalu apa yang menjadi sebab? Uraian di atas duah menjelaskan sebabnya, meliputi:
(i) solidaritas di antara umat Islam yang menggunakan media sosial belum kuat, dan
(ii) media sosial belum dipakai sebagai gerakan sosial untuk mencapai tujuan bersama: umat Islam benar-benar mengenal Allah.

Kedua penyebab ini bisa dijadikan dasar untuk memformulasikan komunikasi Islam di masa mendalang. Artinya, kalau kita ingin memformulasikan komunikasi Islam di masa mendatang, formulasi itu harus mampu memperkuat solidaritas umat Islam yang menggunakan media sosial dan mengoptimalkan potensi media sosial untuk sebuah gerakan sosial. (*)

HARIAN BERNAS, SELASA PAHING, 30 AGUSTUS 2016, 26 DULKA’IDAH 1949 JIMAWAL