Mohammad Zamroni S.Sos
Ketua Panitia Semnas & Kongres Asosiasi Prodi KPI-Dosen KPI FDK UIN Yogya

AKHIR-AKHIR ini, mengemuka pergulatan tentang komunikasi Islam di tengah relasi agama, media dan politik Indonesia. Pasalnya, perdebatan panjang tak berkesudahan terjadi tatkala menggunjingkan relasi agama, media, dan politik dengan komunikasi Islam. Di Amerika Serikat misalnya, negara yang mengklaim sebagai negara paling pluralis sekalipun, liputan media tentang agama masih mendapat peran dalam wacana politik, khususnya pemilihan umum. Dalam pemilu, media seringkali meliput afiliasi agama, hubungan dengan para tokoh agama terkemuka dan pandangan umum mengenai isu-isu penting bagi kelompok agama tertentu dari para kandidat. Media turut dan memiliki andil dalam memengaruhi cara pandang masyarakat Amerika terhadap agama.

Di Indonesia, isu agama juga laku laris manis dalam semua ruang publik. Masih segar dalam ingatan kita, hiruk-pikuk pesta demokrasi Indonesia yakni Pemilu 2014. Seperti dirilis Jurnal Penelitian Keislaman, media sosial maupun media mainstream menyebut, isu agama sangat merebak, guna mempengaruhi preferensi dan pilihan politik masyarakat. Kampanye negatif melalui media sosial seperti facebook dan twitter yang bernada SARA juga sangat mengemuka. Strategi ini dilakukan kelompok Islam tertentu untuk menghadang calon legislatif Islam yang tidak beraliran mainstream. Beberapa tokoh masyarakat, cendikiawan bahkan politisi sekalipun tak luput menjadi ‘korban’ kampanye negatif yang dikaitkan dengan penganut Syiah atau jaringan Islam liberal.

Menggaet Dukungan
Isu agama dalam pilpres juga sangat mencuat. Selain kampanye hitam yang mendeskreditkan personal calon presiden, agama juga menjadi strategi untuk menggaet dukungan. Hampir semua calon presiden melakukan kunjungan kepada tokoh-tokoh agama. Kunjungan silaturrahim yang tentu sarat muatan politik.

Bahkan, beberapa di antara petinggi kelompok agama itu, secara terang-terangan menjadi pendukung, atau bahkan tim sukses dari pasangan calon presiden – wakil presiden. Tidak hanya itu, pasangan calon presiden – wakil presiden kerap menampakkan diri melalui media bagaimana mereka beribadah, menjadi imam salat, atau mengucapkan salam baik Islam ataupun agama yang lain. Konteks ini menunjukkan betapa media, agama dan politik memiliki relasi yang kuat dalam kontestasi pemilihan presiden tersebut.

Sayangnya, berbagai fenomena komunikasi di atas hanya komunikasi kepentingan bukanlah komunikasi yang dibalut dengan nilai-nilai Islam. Di mana, prinsip komunikasi Islam telah diteladankan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam kehidupannya dan ketika menyampaikan risalah. Sekiranya asas-asas tersebut dilaksanakan dengan tepat akan mempengaruhi tingkah laku semua umat Islam, termasuk secara khusus orang-orang yang berada dalam suatu organisasi. Kesan mendalam komunikasi itu telah terbukti sukses di mana Rasulullah SAW telah berhasil mempengaruhi dan menguasai masyarakat Badui. Sungguhpun awalnya mereka bersikap kasar, bengis dan biadab.

Prinsip Islam
Seperti diketahui, prinsip komunikasi Islam tersebut adalah berbicara dengan lemah lembut. Menggunakan perkataan yang baik-baik, menggunakan hikmah dan nasihat yang baik menyesuaikan bahasa dan isi percakapan dengan tahap kecerdasan akal dan pandangan. Jikalau berdebat dengan cara yang lebih baik, menyebut perkara yang penting berulang kali dan tidak bersikap ambivalen. Artinya jika berkaitan dengan perintah memperbuat, maka sudah diperbuat terlebih dahulu. Sedangkan jika berupa larangan, maka harus memang benar-benar ditinggalkannya.

Sementara, keberadaan Komunikasi Islam baik sebagai bangunan konsep keilmuan maupun sebagai lembaga akademik dalam catatan Dikti Kementerian Agama terdapat 182 lebih Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Ironisnya, belum mampu memberikan ruang diskursus dan problem solving apalagi jembatan di tengah pergulatan agama, media, dan politik Indonesia. Sudah selayaknyalah dipikirkan untuk melakukan rumusan Komunikasi Islam di Indonesia sebagai agenda besar ke depan.

Mayoritas penduduk Indonesia menganut Agama Islam. Maka konstruksi komunikasi yang berwarna keislaman sebenarnya memiliki peranan yang sangat optimal dalam menawarkan solusi-solusi problem kemasyarakatan dalam pengembangan sistem sosial berkarakter Islam. Problem komunikasi dalam berbagai level kajian mulai mikro hingga makro perlu diurai sehingga varian kajian akan semakin kuat karakternya. Agar dapat terimplementasikan dengan baik, perlu untuk diwujudkan dalam pengelolaan program studi. q- c

Kedaulatan Rakyat, SELASA PAHING, 30 AGUSTUS 2016, 26 DULKAIDAH 1949

Related Post

 

Tags: