Dr. Pajar Hatma Indra Jaya, sosiolog UIN SUKA Yogyakarta

pajar-hatma-indra-jaya-fakultas-dakwah-komunikasi-uin-suka-jogja

Dr. Pajar Hatma Indra Jaya

FENOMENA kekerasan di jalan atau klitih oleh anak muda, yang jelas ada dua faktor: pertama, faktor dari dalam, mereka kan anak muda, mereka dalam masa-masa transisi, butuh aktualisasi diri, sehingga ada satu energi yang harus disalurkan.

Kedua, dari faktor luarnya, saya melihat penyaluran-penyaluran (energi) itu, tempat-tempat bermain, arena-arena aktualisasi diri, menurut saya di satu sisi mulai hilang.

Salah satunya contoh hilangnya ruang publik adalah kalau dulu di kampung-kampung, kalau sore, ada tanah lapang untuk voli, untuk main bola, itu kan untuk mengekspresikan energi kaum muda; sekarang jadi hilang, sehingga mereka membentuk ekspresi sendiri hingga membentuk kelompok-kelompok.

Kalau di sosiologi, itu kan ada in group feeling sama out group feeling, otomatis ketika dibiarkan di masyarakat, “ini kelompok saya” dan “itu kelompok mereka”; dan ketika terjadi konflik, menjadi konflik antar geng.

Konflik antargeng dan diturunkan ke bawahnya jadi konflik menahun; harusnya pemerintah lebih banyak membuat ruang publik, jangan hanya bangun hotel, mungkin bisa mendorong hotel juga harus menyediakan ruang publik untuk masyarakat sekitar.Penyelesaian dengan hukum iya, tapi ada faktor lain yang menimbulkan maraknya aksi kekerasan oleh anak muda dan itu harusnya akarnya dicari.

Kasus kekerasan anak muda dari dulu ada, tapi tidak sebanyak ini; apalagi sampai membunuh; sekarang makin banyak orang-orang tetek (tongkrong) di malam hari sehingga sampai seperti ini. (khr)

News Analysis Tribun Jogja, Selasa, 6 September 2016; terkait pemberitaan pembunuhan Iqbal oleh anak klitih.

 

Tags: