Ketika menjawab pertanyaan seorang mahasiswa dalam kuliah umum Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jumat (30/9), apakah benar kredibilitas dan akuntabilitas lembaga amil zakat itu penting, Hilman Latief mengiyakan dengan sangat. “Ya trust itu sangat penting,” jawab Ketua Badan Pengurus Lazismu itu.

Lembaga amil zakat, kata Hilman, harus pintar-pintar membangun trust, kepercayaan masyarakat, dengan meningkatkan akuntabilitas program, kinerja, dan keuangan.

Akuntabilitas keuangan, harus ada orang yang bagian akuntansi dibayar sesuai pekerjaannya. Program, harus terukur, proposal harus jelas, uang ada, harus dipakai sebaik-baiknya.

“Seperti saat Garut kemarin, yang bekerja MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center). Kita tinggal support dana. Meskipun begitu, harus disiapkan proposal, kejelasan program. Itu harus ada. Uangnya ada, yang berat, uang itu dipakai sebaik-baiknya,” kata Hilman, “jadi, cari duit berat, mendistribusikannya juga tidak mudah.”

Terkait pertanyaan dana operasional lembaga amil zakat, Hilman menjelaskan bahwa operasional diambil dari dana amil. “Amil ada yang dari relawan, ada yang bekerja dari pagi jam 8 sampai 5 sore,” kata dia, “yang bekerja, eksekutif digaji sesuai pekerjaannya.”

Besarnya tidak lebih dari 12,5 % atau 1/8 total omzet zakatnya. Karena amil bagiannya 1/8 dari semua 8 asnaf. Semakin besar omzet semakin besar bagian tersebut.

“Sedangkan saya, tidak perlu digaji, saya dosen UMY, saya cuma badan pengurus saja, mereka-mereka itu malah mengalahkan saya” ujarnya.

Kedepannya pekerjaan eksekutif lembaga amil zakat semakin berkembang. “Bertemu dengan perusahaan yang mengeluarkan zakat, membuat program, dan seterusnya; income juga setara NGO ataupun bank,” ungkapnya optimis.

Dalam pengembangan program, peran kaum muda mengembangkan kreatifitas sangat dibutuhkan. “Kita butuh yang muda, karena kreatifitasnya mengalahkan yang tua-tua,” terangnya.