Hilman Latief, Ph.D. saat menyampaikan materi Filantropi Islam di Indonesia pada kuliah umum Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jumat (30/9), Convention Hall UIN Sunan Kalijaga.

Hilman Latief, Ph.D. saat menyampaikan materi Filantropi Islam di Indonesia pada kuliah umum Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jumat (30/9), Convention Hall UIN Sunan Kalijaga.

Filantropi Islam dapat diartikan kedermawanan. Dahulu zakat infak sodaqoh hanya menjadi bagian masjid-masjid. Sekarang sudah ada lembaga yang dikelola khusus, modalnya sudah seperti NGO, Bank. Proyeksi potensi zakat Indonesia 340 triliyun rupiah. Pencapaian tahun lalu baru 1,5 trilyun yang terkumpul, tahun ini targetnya 7,5 trilyun.

Itulah sekilas potensi masa depan filantropi Islam di Indonesia yang diungkapkan Hilman Latief, M.A., Ph.D. saat kuliah umum Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jumat (30/9) di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga.

Kuliah umum bertema ‘Filantropi Islam dan Kewarganegaraan Muslim Indonesia’ ini mengajak mahasiswa baru FDK untuk melek dunia filantropi yang semakin berperan serta menyejahterakan rakyat Indonesia.

“Bappenas menggandeng lembaga amil zakat diproyeksikan dalam program pengentasan kemiskinan. Prof. Bambang Sudibyo ke acara PBB, dalam rangkaian SDGs, sustainable development goals, tujuan pembangunan berkelanjutan,” ungkap dosen UMY yang juga Ketua Badan Pengurus Lazismu ini.

Lalu apa beda ummat dan warga negara? Ummat di masa Nabi, kata Hilman, banyak di Madinah: Islam, Yahudi, Kristen. “Sementara Indonesia yang besar, apakah kesejahteraan hanya untuk umat Islam saja?” tanyanya retoris.

Umat di Indonesia identik dengan identitas. Duitnya dari muslim, maka didistribusikan untuk masyarakat muslim.

Umat juga mengacu ke global ummah seiring dengan global village. Ada kesatuan, meski jauh antar benua. “Palestina – Indonesia, Syria – sahabat Syria, Aceh, gempa bumi Jogja, juga begitu,” terangnya.

Warganegara berhubungan dengan hak dan kewajiban antar rakyat dan negaranya. “Di Eropa, yang merupakan semi walfare state, pajak tinggi sekali. 40 persen gaji. Tetapi ada kesejahteraan sosial: sekolah gratis, rumah mudah, transportasi mudah,” terangnya.

“Beda dengan negara yang diselenggarakan pasar, apa-apa harus bayar; kalau ada warga sakit siapa yang harus bayar? sementara rakyat berhak dipelihara negara, dan negara berkewajiban menyejahterakan rakyatnya,” lanjut Hilman.

“Nah, kalo ada yang tidak sekolah, negara bisa bantu semua? tentu tidak. Ada sebagian yang tidak terjangkau negara, maka diselesaikan oleh level-level bawahnya, dan seterusnya. Disini lembaga amil zakat ambil peran,” terang Hilman.

Terkait hak warganegara, kadang masyarakat Indonesia masih bersikap paternalistik, sektarianisme. “Ada orang kekurangan, mau disumbang, tanya dulu, alirannya apa? identitasnya apa? orangnya Islam atau tidak; kalo orang itu miskin, ya dia berhak, harus dapat bantuan,” jelas alumnus Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga ini.

Jadi, poin penting filantropi Islam Indonesia saat ini, tegas Hilman, adalah: bagaimana bisa memenuhi hak-hak masyarakat kaum miskin? bagaimana bisa bekerjasama dengan pemerintah untuk saling bersinergi?

Sementara yang belum bisa kita lakukan, menghitung seberapa besar kontribusinya untuk masyarakat.

Multidimensional Poverty

Kemiskinan ternyata tidak hanya masalah miskin. Multidimensional poverty index di dalamnya ada: pendidikan yang rendah, kehidupan yang tidak standar, pemasukan rendah, ketidakberdayaan, kualitas pekerjaan rendah, dan ancaman kekerasan.

“Kalau anda berjalan di pinggir sawah, ada bapak-bapak cari sesuatu, tanya:’cari apa pak?’, jawabnya:’cari cacing’; kalau dijual laku berapa?”

Kepercayaan Masyarakat

Filantropi Islam Indonesia menghadapi tantangan dari masyarakat. Masyarakat Indonesia masih puas menyalurkan zakatnya sendiri. “Tidak mudah membangun kepercayaan masyarakat agar menyalurkan zakat melalui lembaga,” kata Hilman.

“Ambil contoh qurban kemarin, apa hukumnya qurban? Lazismu mendata warga ada 150 ribu binatang, itu setara dengan 300 miliar. Zakat yang wajib, sama pentingnya dengan qurban. Bagaimana membuat masyarakat kita punya sikap yang sama untuk semangat membeli sapi?” terangnya.

Trust, menurut Hilman, sangat penting. Lembaga mau tidak mau harus terbuka untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat.

Hari Lahir Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Kuliah umum tersebut dihelat bersamaan dengan hari lahir Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yaitu 30 September. 46 tahun silam, Fakultas Da’wah IAIN Al Djami’ah Sunan Kalijaga resmi dibuka. Jumat lalu, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. H. M. Kholili memotong tumpeng tanda kebersyukuran hari lahir ke 46.

Empat mahasiswa baru, Dina, Lu’lu’, Faiz, dan Jauzan yang berprestasi di bidangnya masing-masing dipersilahkan menerima potongan tumpeng tersebut.

Dekan FDK periode 2004-2008, Afif Rifa’i, M.S. berkenan memimpin do’a demi kemajuan Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

 

Unduh Presentasi.