Dana Suswati, SE. didampingi Bayu Mitra saat menyampaikan kuliah umum program studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Rabu (12/10).

Dana Suswati, SE. didampingi Bayu Mitra saat menyampaikan kuliah umum program studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Rabu (12/10).

Dalam perbankan syariah, penentuan imbal hasil yang fluktuatif sesuai dengan besaran keuntungan yang ada, membuat geraknya lebih fleksibel. Berbeda dengan perbankan konvensional yang besaran bunga fixed, sehingga apabila penerimaan tidak sesuai target, harus terbebani dengan angka bunga yang telah ditetapkan.

Demikian disampaikan Dana Suswati, SE., direktur utama BPR Syariah BDW Yogyakarta saat menjadi narasumber dalam kuliah umum prodi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi, di ruang Teatrikal FDK pagi tadi (12/10).

“Bank syariah tidak akan mengalami negative spread, bagi hasil tidak tetap, di kisaran 7-8 persen; kalau bank konvensional dengan angka pasti,” kata Dana, “karena beban tetap tersebut, jika di masa kritis, penerimaan tidak seperti yang diharapkan, maka akan menggerus modal, dan jika modal habis, maka bank akan kolaps, seperti yang terjadi saat krisis 1997.”

Selain itu, praktik bank syariah jika dilaksanakan dengan konsisten, sesuai dengan aturan-aturan syariah, tentu akan bermanfaat bagi keberkahan hidup masyarakat muslim Indonesia, karena memang niatnya untuk memperoleh kehalalan dan menghindari riba yang jelas-jelas dilarang oleh Islam.

Namun begitu, saat ini perkembangan pasar bank syariah sangat lambat. Dalam lingkup nasional, hanya 5 persen. “Bank syariah meski antusiasme tinggi, namun kadang hanya untuk pelarian, misal membandingkan bagi hasilnya saja,” kata Dana.

Selain itu, stigma masyarakat terhadap bank syariah masih kurang begitu bagus. “Syariah dan konvensional itu kan sama saja, hanya topeng, kata masyarakat,” ungkap Dana.

Tidak dapat dipungkiri pula, tutur Dana, kadang pelaku industri perbankan tidak konsisten. “Mereka dari iklim bank konvensional, masih terbawa dalam perbankan syariah,” lanjutnya.

“Perbankan syariah itu sulit, ribet, mahal,” itulah yang dikeluhkan masyarakat. Sehingga perkembangannya mengalami hambatan.

“Padahal, perbankan konvensional bisa murah, karena mereka sudah menjadi pemain grosir, sedangkan kita, masih kecil. Karena fix cost-nya tinggi, harga unit tinggi; mereka volume usaha besar, nilai jual unitnya bisa kecil,” jelas Dana yang memulai karir perbankan dari account officer ini.

Pandangan masyarakat yang menganggap ribet dan sulit, karena mungkin dalam proses memperoleh pendanaan harus melewati syarat-syarat yang ditetapkan oleh aturan Islam. Seperti rukun jual beli yang mengharuskan adanya: penjual, pembeli, barang, uang, dan akad. Selain itu, saat memberikan fasilitas pembiayaan juga dilihat apa produk yang dijual oleh calon nasabah. Tentu yang bertentangan dengan syariah akan dihindari.

Perbankan syariah yang baik seharusnya konsisten dengan prinsip-prinsip Islam, yang kadang ini dilewati saja oleh beberapa pelaku perbankan syariah. Selain itu, edukasi kepada masyarakat sangat penting. Penerapan prinsip Islam secara benar, akan membuahkan manfaat bagi keberkahan kehidupan masyarakat muslim.

“Mulailah berinteraksi dengan perbankan syariah, karena ini sudah jelas aturannya, ” pesan Dana Suswati.